Petir: Direvisi dari Rudal Jelajah ke Target Drone

Awalnya Petir dirancang sebagai rudal jelajah dengan kecepatan subsonic untuk menghajar sasaran di permukaan sejauh 60 km. Berita penampakan rudal asli buatan PT Sari Bahari ini pun sempat membetot perhatian publik. Selain menjadi bukti inovasi dan kemandirian industri pertahanan nasional, desain Petir yang menyerupai jet tempur F-18 Hornet menjadi perhatian sendiri, bahkan Petir sudah mengadopsi mesin turbin.
Baca juga: Petir V-101 – Wujud Kebangkitan Rudal Nasional
Meski tak lagi menjadi fokus perhatian, sosok Petir tetap ditampilkan oleh PT Sari Bahari dalam ajang Indo Defence 2016 di JIExpo 2 – 5 Novemer 2016. Masih dibalut warna cat kamuflase loreng biru, pihak produsen kini mengarahkan pemasaran Petir bukan sebagai rudal, melainkan dialihkan sebagai target drone. Mengutip sumber dari PT Sari Bahari, sebagai target drone kini Petir dalam proses penjajakan untuk digunakan oleh satuan TNI.
Baca juga: Ini Dia WS-43, Rudal Jelajah dari Cina yang Ditawarkan ke Indonesia

Dalam operasionalnya, karena tidak dilengkapi fasilitas roda, Petir dilontarkan lewat platform peluncur. Sementara untuk mendaratkannnya menggunakan jaring. Petir dirancang sebagai rudal permukaan ke permukaan berkemampuan balistik. Dengan program yang ditanam rudal petir dapat di seting untuk menuju ke target sasaran vital tertentu yang tidak bergerak. Dengan titik kerendahan terbang berada pada ketinggian 20 meter, Petir mampu melintasi kontur sehingga meminimalkan untuk terbaca oleh radar dan menghindari frekuensi yang berubah-ubah, serta mereduksi risiko di jamming.
Baca juga: Ini Dia! Target Drone Canggih Milik TNI AD dan TNI AU

Baca juga: Meggit BTT-3 Banshee – Target Drone “Misterius” yang Hanyut ke Perairan Riau
Poin keunggulan Petir diantaranya mengadopsi sejumlah teknologi mutakhir untuk pengindraan sasaran. Diantaranya sudah mengadopsi multiple 3D point, ini lebih maju daripada rudal yang menggunakan seeker, konsekuensinya Petir nanti dibenamkan prosesor tingkat tinggi untuk memproses data sasaran tembak. Petir menggunakan engine standar dengan kecepatan 260 kilometer per jam. Teknisi sedang merancang engine sendiri yang diharapkan mampu mendongkrak kecepatan Petir menjadi 500 km per jam.
Baca juga: PMRobotics JT-240 – Drone Penantang Kanon Oerlikon Skyshield Paskhas TNI AU
Sejak 2014, tiga prototipe Petir menjalani serangkaian uji coba. Yang terakhir, pengujian terbang dilakukan di Pameungpeuk, Jawa Barat. Selama percobaan, Petir belum diisi hulu ledak karena hanya menguji aspek aerodinamika. Petir diklaim cocok dengan kebutuhan militer Indonesia. Selama ini rudal dengan jarak jelajah 45–60 km belum terisi. Rudal C-701 dan C-705 buatan Cina –kini dikembangkan dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI)– memiliki jelajah 60–80 km dan 135 km. Sedangkan Exocet MM40 Block 2 yang dimiliki TNI-AL berjarak 120 km. Dengan jarak jangkau yang lebih pendek, tentunya diharapkan rudal yang sepenuhnya dirancang Putra Indonesia dapat ditawarkan dengan harga lebih murah ketimbang rudal-rudal besutan Luar Negeri.
Spesifikasi Petir V-101
– Panjang: 1.850 mm
– Bentang sayap: 1.550 mm
– Berat tanpa hulu ledak: 20 kg
– Air frame set: carbon reinforced composite
– Propulsion system set: turbine engine thrust
– Berat hulu ledak: 10 kg
– Jarak jangkau pada uji perdana: 45 km
– Kecepatan uji tahap kedua: 260 km per jam
– Sistem elektronik: PID controller, 3D waypoint autopilot, GPS navigation, complete with 6 DoF sensors, dan 3 axis magnetometers



Cocok buat drone yg diisi bahan peledak HE. Buat ngancurin tank n bungker musuh.
Bisa benar dialihkan bisa juga tetap sbg rudal jelajah…. menurutku tetap sebagai rudal jelajah, biar ngga disabotage negara tetangga pura2 jadi drone (kedengarannya juga lebih lembut)
Rudal memiliki efek getar yg luar biasa..sebaiknya dana perintah di fokuskan untuk bikin rudal dulu..agar bisa cepat mandiri..jadi bangsa lain akan berpikir dua kali kalau berurusan sama negara kita.
kenapa gak dijadikan drone surveillance aja ya?
@ogog ,drone surveillance butuh endurance terbang yang lama bisa 24 jam terus menerus .ini hanya bisa terbang kurang dari 1 jam karena turbojetnya kecil saja sehingga jarak capainya juga terbatas kurang dari 100 km . Daya angkutnya hanya 10 kg padahal untuk survailance butuh kamera optik,radar dan sebagainya yang sangat berat .
percepat kemandirian rudal dan percepat pula era pertahan medium force, FPDA musuh yang selalu mencari celah untuk memporak porandakan NKRI dibawah Aushit dan si eli sarbet….
TNI AD ada, TNI AU ada, TNI AL ada, tapi TNI AR (angkatan rudal) belum ada
Pasukan Rudal Ghoib ada
kalo bisa target drone jalan tp program kamikaze drone (bgi saya petir lbh tepat disebut kamikaze drone bkn rudal jelajah) jg tetap brjalan
ws-43 kelaut aja
Untuk rudal kamikaze akan sangat berguna apalagi untk drone.ayo kembangin terus. Tni beli bbrp biji buat nutup modal.!
niat buat Rudal untuk NKRI.jngn belok kiri/ kanan. pemerintah seharusny bantu dana.bantu Partai,Dewan yg gak ada hasilny bisa. kenapa demi payung NKRI ko lelet lamaX ilmuwan RI exodus ketetangga
PT SARI BAHARI nggak bisa bikin mesin turbojet dan nggak bisa kerjasama dengan pabrikan turbojet lain, karena 1. nggak punya banyak duit dan 2. swasta bukan BUMN 3. nggak pernah main di perbaikan dan MRO mesin.
Kasih modal dong bung, jangan asal komeng seenak cocot mu itu.
Komen paling ngga mutu.
kalau dikasih modal, kalau nggak punya keahlian juga percuma
Bagus itu klo utk dijadikan drone latih…klo harganya bs lebih murah dr drone latih buatan luar kenapa harus beli dari luar
Setuju saya,bungkus 1000 unit
Ini jelas tujuan pragmatis ,setiap perusahaan perlu untung .Dengan langkah ini paling tidak perusahaan dapat balik modal . Karena memang tidak mudah membuat turbojet walau hanya untuk terbang kurang dari sejam saja.
Tapi jangan berhenti untuk mengembangkan turbojet agar suatu saat nanti bisa mewujudkan impian bikin rudal .Anggap saja ini sasaran sementara . Sebaiknya SARI BAHARI mengadakan kerja sama dengan luar ,banyak perusahaan swasta di jerman yang membuat mesin turbo kecil yang mereka gunakan untuk RC MODEL,mulai dari yang kecil sampai yang ukuran besar,cukup kuat kalau hanya untuk rudal.
Desainnya emangblebih mirip drone ketimbang rudal ,bandingkan dengan desain tomahawk yg bener2 rudal, juga bandingkan dengan drone garapan lapan,
Mungkin karena kepentingan bisnis lebih “menjual” sebagai drone untuk latihan sasaran tembak rudal SAM , agar tidak tumpang tindih dengan karya lapan dan drone2 lain yg sedang dikembangkan, siapa tau… Siapa tau… Untuk rudal sejwnis lagi dikembangkan TOT…… (Berharap) jakartagreater.com/lapan-menembus-awan-untuk-menggapai-matahari
Pemerintah turun tangan doonk….
Ikut kembangin…secara ini produk dlm negeri…
Bantu untuk jangkauan..kecepatan sama akurasinya….
KAPAN INDONESIA BISA BIKIN RUDAL ?????????…..
Aneh…kurang dana kali ya…
target drone??!!!!!! kok bukannya peningkatan diarahkan pada “niat-nya” malah jadi belok kemana-mana?…..
Kalo boleh, saya tertarik kembangin ini