Misi Senyap di Laut Kuning: AS Angkat Bangkai Drone MQ-9 Reaper yang Mengalami Malfungsi

Pada dini hari 24 November 2025, ketegangan regional di Laut Kuning mendadak meningkat bukan karena aksi provokasi, melainkan karena insiden teknis. Sebuah drone canggih tak berawak milik Angkatan Udara AS (USAF), MQ-9 Reaper, yang dioperasikan oleh 431st Expeditionary Reconnaissance Squadron dari Pangkalan Udara Kunsan, dilaporkan mengalami malfungsi teknis dan terpaksa ‘dijatuhkan’ ke perairan dekat Pulau Maldo-Ri.
Meskipun laporan resmi menyatakan tidak ada korban jiwa atau kerusakan pada properti sipil, insiden tersebut segera memicu alarm di seluruh rantai komando AS. Jatuhnya drone Reaper—platform Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) yang sangat mahal dan sarat teknologi—di perairan yang berbatasan langsung dengan Korea Utara dan dekat dengan Cina, mengubah insiden keselamatan penerbangan biasa menjadi misi pemulihan yang sangat mendesak.
Lokasi jatuhnya MQ-9 Reaper menjadikannya target yang sangat menggiurkan bagi kekuatan militer yang secara aktif bersaing dengan AS di kawasan tersebut.
Tidak seperti Laut Hitam, di mana insiden serupa sebelumnya terjadi pada tahun 2023 di perairan yang sangat dalam, Laut Kuning umumnya jauh lebih dangkal. Kedalaman yang dangkal ini secara teoritis membuat bangkai drone lebih mudah diakses, bukan hanya oleh tim pemulihan AS, tetapi juga oleh kapal penyelamat dari pihak lawan yang tertarik untuk menganalisis teknologi sensor, payload, dan perangkat keras komunikasi di dalamnya.
Nilai dari MQ-9 Reaper terletak bukan hanya pada harganya yang mencapai puluhan juta dolar per unit, tetapi pada muatan sensornya. Drone ini membawa sistem radar aperture sintetis (Synthetic Aperture Radar – SAR) kinerja tinggi dan peralatan infra-merah serta komunikasi satelit rahasia. Jika komponen-komponen ini jatuh ke tangan pihak lawan, mereka bisa mendapatkan wawasan berharga tentang kemampuan pengintaian, peperangan elektronik, dan strategi AS di Teater Indo-Pasifik.
Menyadari risiko tersebut, USAF segera melancarkan operasi pemulihan yang intensif. Operasi ini tidak bisa dilakukan sendirian; keberhasilan mutlak bergantung pada kerja sama yang erat dengan sekutu, dalam hal ini Angkatan Laut, Penjaga Pantai, dan Angkatan Darat Korea Selatan.
Tanggapan Atas Jatuhnya Drone AS MQ-9 Reaper di Laut Hitam, Ini Kata Pilot Jet Tempur Su-27 Rusia
Berdasarkan laporan terkini, operasi pengangkatan bangkai drone MQ-9 Reaper yang jatuh di Laut Kuning dekat Pangkalan Udara Kunsan telah berhasil diselesaikan pada hari Minggu, 14 Desember 2025.
Operasi pemulihan ini pada dasarnya adalah aplikasi praktis dari doktrin militer AS yang secara tegas mewajibkan pemulihan atau penghancuran total aset sensitif yang jatuh di wilayah yang tidak sepenuhnya aman. Tujuannya sederhana: mencegah transfer teknologi rahasia (reverse engineering) yang dapat merusak keunggulan militer AS.
Dari Dasar Laut Mediterania, Inilah Penampakan F-35B Inggris yang Berhasil Diangkat Ke Permukaan
Setelah upaya gabungan yang teliti, Wing Tempur ke-8 USAF mengonfirmasi bahwa operasi pemulihan telah berhasil diselesaikan. Keberhasilan ini mengakhiri spekulasi dan kekhawatiran bahwa Reaper akan menjadi hadiah teknologi bagi pihak yang berkepentingan. Pemulihan bangkai drone ini memastikan bahwa meskipun insiden teknis terjadi, rahasia di dalam aset strategis tersebut tetap utuh dan aman, memungkinkan penyelidikan penuh atas penyebab kecelakaan tanpa ancaman pengambilan data oleh pihak lawan.
Dengan selesainya misi pemulihan, fokus kini beralih ke penyelidikan resmi untuk menentukan penyebab pasti kegagalan teknis yang menyebabkan drone berharga ini jatuh ke laut. Sementara itu, operasi ini kembali menegaskan prioritas tertinggi militer AS dalam menjaga kerahasiaan teknologi di medan yang semakin diperebutkan. (Gilang Perdana)
Dari Kedalaman 2.895 Meter, AL AS Angkat Bangkai F/A-18 Super Hornet di Laut Mediterania


