Condor 4×4 – Ranpur Lapis Baja yang Jadi Bukti Heroisme Pasukan Malaysia dalam “Black Hawk Down”

Condor 4×4 di Mogadishu (foto: istimewa)

Amerika Serikat sangat berhutang budi pada Batalyon Malaysia (Malbatt) dalam pertempuran Mogadishu. Tanpa jasa pasukan Malaysia di bawah panji pasukan perdamaian PBB, maka Washington akan dipermalukan dengan besarnya korban pasukan elite AS yang terkepung saat pertempuran di ibu kota Somalia pada tahun 1993.

Baca juga: Barracuda 4×4 – Rantis Lapis Baja Buatan Korea Selatan Titisan Jerman

Pertempuran Mogadishu yang kemudian diabadikan secara dramatis dalam film “Black Hawk Down”, sayangnya melewatkan sisi heroisme prajurit Malaysia yang menyelamatkan nyawa pasukan khusus AS. Pelibatan pasukan batalyon Malaysia memang diungkap dalam film Black Hawk Down, namun dalam peristiwa itu juga menelan korban dari pihak pasukan Malaysia.

Adalah Kopral Mat Aznan Awang, yang menjadi pengemudi ranpur lapis baja Condor 4×4, gugur dalam misi penyelamatan 70 pasukan khusus US Ranger dan lima personel AS lain yang terkepung di Pasar Bakara, Mogadishu pada 4 Oktober 1993.

Dari beberapa literasi disebut Kopral Mat Aznan gugur setelah ranpur Condor 4×4 disergap milisi pimpinan Farah Aideed. Bukan sembarang disergap, pasalnya Condor 4×4 yang berupa ranpur lapis baja ringan, terkena tembakan telak dari RPG pada bagian depan kaca pengemudi. Meski lapisan kaca Condor 4×4 mampu menahan terjangan proyektil, tapi kaca pengemudi dipastikan bakal hancur jika diserang menggunakan RPG.

Selain Mat Aznan, di dalam Condor 4×4 terdapat sembilan penumpang yang mengalami luka-luka. Secara keseluruhan, dalam misi penyelamatan pasukan AS, terdapat empat unit ranpur Condor 4×4 yang dihancurkan milisi. Dalam sisi yang berbeda, peran pasukan Malaysia di pertempuran Mogadishu kemudian di angkat ke layar kaca oleh sineas Malaysia dengan judul “MALBATT: Misi Bakara”.

Condor 4×4 Mat Aznan yang ditembak RPG.

Terlepas dari kisah pertempuran Mogadishu yang brutal dan dramatis, menarik untuk dikupas tentang sosok ranpur Condor 4×4 yang punya andil besar dalam perang kota yang mempermalukan AS tersebut.

Condor 4×4 masuk dalam kategori ranpur lapis baja angkut personel yang dirancang oleh Thyssen-Henschel dan diproduksi oleh Henschel Wehrtechnik GmbH di Jerman. Prototipe pertama Condor 4×4 selesai pada tahun 1978.

Condor 4×4 didasarkan pada sasus truk Mercedes-Benz Unimog U5000. Konstruksi lambung Condor terbuat dari lapisan baja yang mampu menahan terjangan proyektil kaliber 7,62 mm, 5,56 mm, serpihan artileri, dan ranjau anti-personil.

Condor 4×4 adalah ranpur dengan kemampuan amfibi yang didukung sepasang baling-baling yang terdapat di bagian belakang. Dari dimensinya, Condor 4×4 dapat diangkut melalui udara dengan C-130 Hercules dan C-160 Transall. Meski dirancang sebaai APC, Condor 4×4 juga dapat diadopsi untuk berbagai peran lain termasuk anti-tank, pengangkut kargo, kendaraan komando, ambulans, kendaraan perbaikan dan kendaraan pengintai.

Dari spesifikasi, Condor 4×4 punya berat 12,4 ton, panjang 6,13 meter, lebar 2,47 meter dan tinggi 2,18 meter. Condor 4×4 ditenagai mesin diesel Mercedes Benz OM352A / 6 cylinder dengan kekuatan 168 hp. Kecepatan maksimumnya 95 km per jam dan dapat menjelajah sampai 900 km.

Condor 4×4 diawaki dua orang dan dapat membawa 12 pasukan infanteri. Condor 4×4 dibekali senjata utama berupa kanon 20 mm atau senapan mesin berat 12,7 mm, serta senjata sekundur senapan mesin kaliber 7,62 mm.

Malaysia adalah pengguna terbesar Condor 4×4, dalam berbagai varian Angkatan Darat Malaysia mengoperasikan 460 unit Condor 4×4 yang dikirim pada periode 1981 sampai 1984. Saat ini, sebagian besar Condor telah dipensiunkan. Pada tahun 2016, Deftech menunjukkan prototipe Condor yang di-upgrade dan ditampilkan dalam pameran pertahanan DSA 2016.

V-150 Tersengat Ranjau di Marawi, Ingatkan Kejadian Konga XII D di Kamboja

Selain Malaysia, tercatat Condor 4×4 juga digunakan oleh Kuwait, Portugal, Korea Selatan, Thailand, dan Turki. Condor 4×4 kini dianggap sebagai produk warisan Rheinmetall MAN Military Vehicles, bagian dari Rheinmetall’s Vehicle Systems Division. (Bayu Pamungkas)

3 Comments