General Atomics Kembangkan Drone Bersenjatakan AMRAAM yang Diluncurkan dari Jet Tempur Generasi Keempat

Ketika General Atomics memproyeksikan rancangan drone tempur (UCAV) masa depan, maka seluruh dunia akan menyimak, pasalnya General Atomics Aeronautical Systems, Inc. (GA-ASI) dikenal sebagai salah satu manufaktur UCAV paling berpengaruh dengan reputasi tinggi, sebut saja MQ-1 Predator dan MQ-9 Reaper, adalah produksi General Atomics.
Baca juga: Pertempuran Udara di Masa Depan, Serahkan Urusan pada “LongShot”
Dikutip dari Breakingdefense.com (9/9/2023), Defence Advanced Research Projects Agency (DARPA) – lembaga penelitian di bawah Departemen Pertahanan Amerika Serikat, telah memberikan kontrak kepada General Atomics untuk mengembangkan program drone LongShot Tahap 3, yakni berupa drone yang diluncurkan dari jet tempur dan dapat dipersenjatai rudal udara ke udara.
Pada musim panas lalu, General Atomics telah memenangkan kontrak untuk program LongShot Tahap ketiga. Yang mana General Atomics akan menerima pendanaan pengembangan sebesar total US$94 juta. Demonstrasi desain baru akan berlangsung di Air and Space Force Association, yang akan diadakan minggu depan.

Konsep Longshot ditujukan untuk memperluas kemampuan jet tempur generasi keempat. Drone dengan rudal udara-ke-udara akan dapat meningkatkan jangkauan dan efektivitas misinya.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi mengenai jenis pesawat tempur yang akan digunakan untuk meluncurkan LongShot. Hal yang sama berlaku untuk persenjataan. Meski demikian, rendering yang diperlihatkan oleh General Atomics, menunjukkan peluncuran rudal AIM-120 AMRAAM dari jet tempur F-15 Eagle.

General Atomics merancang LongShot guna membantu “membuka jalan di langit”. Tidak seperti drone konvensional yang perlu diluncurkan dari pangkalan di permukaan dan perlu menempuh jarak jelajah sebelum terlibat dalam suatu operasi serangan, maka LongShot akan dibawa ke pesawat berawak di sebagian besar perjalanannya, dan kemudian akan diluncurkan di udara sebelum memasuki wilayah lawan.
Dalam simulasi penggunaan, LongShot ideal digunakan pada aset angkatan udara yang lemah dalam aspek perlindungan udara. Sebut saja, dengan adopsi LongShot, maka armada pesawat pembom dapat beroperasi mandiri tanpa harus didukung oleh jet tempur konvensional. Jika ada potensi konfrontasi, LongShot tinggal diluncurkan dan akan meladeni duel udara.

Selain peningkatan jangkauan, LongShot akan meningkatkan kemampuan bertahan pesawat berawak. DARPA yakin bahwa drone baru ini akan berguna bagi Angkatan Udara AS dan Angkatan Laut AS. Selain meminimalisir jatuhnya korban jiwa (pilot), LongShot dirancang guna mengurangi risiko kerusakan pada pesawat dalam pertempuran.
[the_ad id=”77299″]
Dalam proyek Longshot Tahap 3, General Atomics mampu mengalahkan dua pesaing kuatnya, yakni Northrop Grumman dan Lockheed Martin. Untuk tahap awal, General Atomics akan menerima US$44 juta untuk mengembangkan proyek tersebut pada tahun 2024. Daftar tujuannya termasuk membangun pola pengujian, demonstrasi peluncuran rudal, dan integrasi ke dalam jet tempur.
General Atomics dipilih bersama Northrop Grumman dan Lockheed Martin untuk memberikan desain awal untuk LongShot Tahap 1 pada bulan Februari 2021. Namun, General Atomics adalah satu-satunya penerima kontrak untuk Longshot Tahap 2 pada bulan Maret 2022, dan sekali lagi menjadi satu-satunya penerima penghargaan untuk Longshot Tahap 3. (Gilang Perdana)



Itu buat yg KW, Ente harus pahami tentang desain pertempuran modern. Yg namanya bomber pasti ada jauh dibelakang garis pertempuran jadi peluang diintercept pespur atau drone Kombatan musuh itu sangat kecil apalagi apalagi kalo tugasnya buat pembuka pertempuran. Jadi drone macam Longshot gak dibutuhkan.
Bahkan walopun sudah mencapai supremasi udara, melakukan carpet bombing misalnya pasti itu dilakukan hanya jika semua elemen pertahanan udara dan kekuatan udara musuh berhasil dilumpuhkan. Kalo gak kayak gitu ya mana mungkin bomber maju terbang.
Nah kalo pespur yg bawa, buat apa?? Ngurangin jumlah senjata yg bisa dibawa jadinya. Lebih bagus kalo tuh drone terbang sendiri itu akan jadi lebih baik dalam kemampuan Otonom nya.
Budayakan menyimak sampai tuntas, supaya gak gagal paham !!!
>>> Dalam simulasi penggunaan, LongShot ideal digunakan pada aset angkatan udara yang lemah dalam aspek perlindungan udara. Sebut saja, dengan adopsi LongShot, maka armada pesawat pembom dapat beroperasi mandiri tanpa harus didukung oleh jet tempur konvensional. Jika ada potensi konfrontasi, LongShot tinggal diluncurkan dan akan meladeni duel udara. <<<
Sebuah project yg sia-sia. Dalam suatu konflik dg kondisi ruang udara yg ketat penuh jamming dan sistem hanud berlapis dg sejumlah pespur musuh yg berkeliaran, menempatkan drone yg membawa amraam adalah tindakan yg kurang efisien mengingat jika drone tersebut ditembak jatuh maka amunisi yg terbuang akan sia-sia walopun pespur peluncur tetap selamat. Apalagi jika pespur atau pesawat itu harus membawa muatan tambahan berupa drone longshot tersebut yg hanya akan mengurangi jumlah payload yg dibawa.
Akan lebih baik jika drone tersebut bisa take-off dan landing secara mandiri dan dibuat dg dual purpose dimana drone itu dikemukakan menjadi drone kamikaze yg juga bisa dilengkapi dg rudal AAW maka itu akan jadi lebih baik. Jika senjatanya habis maka drone tersebut bisa jadi pengumpan sekaligus sebagai senjata kamikaze layaknya pasukan berani mati Jepang saat Perang Pasifik.
Menghadapi ancaman seperti itu Musuh akan mengerahkan seluruh senjata sementara pasukan utama kita bisa menyimpan senjata utama untuk mengeliminasi musuh disaat yg tepat.