“Datang Tak Dijemput Pulang Tak Diantar,” Helikopter AW101 Telah Tiba di Indonesia

Berbeda dengan kabar kedatangan alutsista pada umumnya yang penuh suka cita, maka hadirnya sosok helikopter AW101 di Lanud Halim Perdanakusuma pada Selasa (8/2/2017) diliputi awan kelabu. Alih-alih mendapat sambutan dari petinggi TNI dan anggota dewan, satu unit helikopter AW101 Leonardo Finmecanicca punya nasib bak pesakitan, kehadirannya seolah bak anak yang tak diharapkan, bahkan saat diperlihatkan ke media, sekeliling helikopter yang diparkir di hanggar Skadron Teknik 021 ini justru diberi police line.
Baca juga: Tanpa Basa Basi, Helikoper AW101 Utility TNI AU Telah Mengangkasa!

Sengkarut persoalan AgustaWestland (AW101) belakangan mencapai klimaks setelah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR (6/2/2017) mengaku tidak mengetahui ihwal pembelian helikopter AW101. Mana yang benar kini jawabannya tengah diteluuri dari tim investigasi bentukan KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Dikutip dari Kompas.com (9/2/2017), Hadi Tjahjanto memastikan bahwa pembelian helikopter AW 101 hanya satu unit.
Baca juga: Connie – “Tidak Fair Membandingkan AW101 dan Super Cougar”


Hal tersebut membantah kabar terkait pembelian helikopter berjumlah lebih dari satu unit. KSAU sebelunya, Marsekal TNI Agus Supriatna pernah menyatakan bahwa TNI AU akan membeli enam unit helikopter AW 101. Rinciannya, tiga untuk angkut berat dan tiga unit untuk VVIP. Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie di tayangan Kabar Indonesia Malam di TVOne (9/2/2016) malah menyebut helikopter AW101 versi utility yang dibeli berjumlah delapan unit, dimana satu diantaranya adalah yang telah tiba di Lanud Halim Perdanakusuma.
Baca juga: AgustaWestland AW101 VVIP – Mengintip Calon Helikopter Kepresidenan RI Terbaru

[the_ad id=”12258″]
Dibalik masalah pengadaan AW101, yang perlu juga diketahui bahwa helikopter dengan tiga mesin ini sebenarnya bukan mendarat dalam arti sebenarnya di Lanud Halim Perdanakusuma. AW101 didatangkan dengan cara terurai lewat kargo, dan kemudian dirakit di lokasi tujuan. Helikopter dengan cat warna hijau loreng ini telah dilengkapi identitas TNI AU dengan nomer ekor H-1001. Bila mengacu pada corak loreng, maka peran AW101 ini akan lebih sebagai helikopter angkut berat.
Baca juga: Dibalik Sengkarut Pengadaan Helikopter AW101 dan EC725 Super Cougar

Keberadaan pintu rampa (ramp door) di bagian belakang menjadi ciri khas dari AW101, TNI AU setelah memensiunkan Mil Mi-6 belum pernah mempunyai lagi helikopter yang dilengkapi pintu rampa. Sebagai helikopter angkut, AW101 Utility mampu membawa 30 pasukan bersenjata lengkap dengan posisi duduk, atau 45 prajurit bersenjata lengkap dalam posisi berdiri.
Belum diketahui jelas akhir dari babak sengkarut heli berharga Rp700 miliar ini, apakah bakal resmi diakuisisi untuk skadron helikopter TNI AU? Ataukah dikembalikan ke penjualnya, mari kita tunggu hasil investigasi bentukan KSAU. (Haryo Adjie)



Assalamu’alaikum wr. wb.
Untuk heli tidak bisa langsung klaim 3 mesin lebih baik dari 2 mesin karena fungsinya hanya sebagai cadangan bila salah satunya bermasalah dan itu hanya sebagai pelengkap keselamatan penerbangan.
Namun tetap 3 mesin atau 2 mesin itu tergantung dari kinerja daya angkatnya, bisa jadi kalau ada masalah mesin di udara heli bermesin 2 hanya dengan menggunakan 1 mesinnya saja heli dapat melayang selama 2 jam.
Sedangkan heli yang bermesin 3 dengan menggunakan 2 mesin saja cuma bisa melayang 1 jam.
@jeng koni
rincian usd 55 juta versi sang sales indopelita langsung
1. usd 32 juta harga heli aw101 meliputi bbrp hal yg tdk ada di cougar & super puma : ew suite, maws, rwr, chaff/flare, flir, 3d terrain navigation radar, glass cockpit, titanium protection layer etc
2. usd 12 juta meliputi sucad, garansi 2 thn & training utk air & ground crew
3. usd 11 juta meliputi modification kit utk mengubah fungsi heli yg sblmnx vvip mnjd transport sprt sliding door, hoist, rampdoor yg lbh gede plus perangkat hidroliknx serta overhaul engine utk mengembalikan garansi serta usia pakai mnjd nol. pekerjaan modifikasi dilakukan depohar sdgkn overhaul dilakukan oleh indopelita
kalo mau spesifik harga usd 32 juta utk aw-101 brmesin ge trasa kemahalan krn nyatanx dlm kontrak heli aw-101 india sndiri yg batal harganx usd 29,5 juta
@ayam jago
Angka itu (29,2 juta doll)sumbernya darimana bang?
Ini saya kutip dr majalah SP’S Aviation, april 2010 nilai kontrak utk 12 heli vvip india sebesar 560 juta euro…silahkan dibagi,harga satuannya berapa?
Ttg perangkat opsional yang abang sebutkan….sesuai dg rilis pihak leonardo yang diamini kadispen (ada drmajalah angkasa yang lg demen iklanin awe), “tidak ada” itu. yang namanya “hoist&cargo door/sliding”. Ygdisebutkan adl: defense suites, flir, traka, stretcher, pelampung ktk ditching diair dan modifikasi gun door.
Sebenarnya simpel aja bang…kita beli barang hibah dr usa saja, mereka mengeluarkan rincian item&kuantiti yang dibeli. Lha ini serba gelap…tipen mesinnya apa saja ga pernah disebut oleh salesnya ?!!!!
Trus klo td dibilang mau modif ini-itu (termasuk modif sliding door) berati catnya bakal dikelotok dulu dong karena harus motong plat, masang rel buat sliding door, trus dicat lagi, etc…..ribet banget kayaknya, semrawut !!!
@ayam jago
Lalu ttg item nomer 1 yang abang sebut…itu kan sifatnya opsional, tinggal ditambahkan kalo perlu atau ada dananya (kok seolah-olah heli ec-725 jadul banget??)
Kenapa sama pak kasau wkt itu,cougarnya gak sekalian aja dilengkapi defense suites?
Cougarnya thailand sdh dilengkapi defense suites, tapi punya kita&malaysia belum ada…tp kita dan malay sdh ada flirnya
Sebetulnya tinggal membandingkan Harga KOSONGANNYA berapa ?
Karena kelas EC725 dan AW101 hampir sama
Menurut dirut PT. DI, Harga Kosongan EC725 jauh lebih murah dari Harga Kosongan AW101.
Dan pembelian itu WAJIB mentaati UU yang berlaku di RI ini
PRESIDEN adalah PANGLIMA TERTINGGI, bila ada yang membangkang, itu sama saja dengan KUDETA
@ayam jago
Bang ayam,mo tanya seriusan nih…
Sampe sekarang kok rasanya(soal heli aw) kita beli “macan dalam karung”…alasane kita sbg orang awam hanya disuguhi sosok heli ini yang seharga 55 juta dollar (mana baru sampe halim garansi mesin&sparepartnya udah mau habis pula?)
Kita tidak tau (dg pasti) heli ini akan dibebani misi sbg heli apa, spesifikasinya seperti apa?
Semuanya serba abu-abu…
Kalo katanya akan difungsikan sbg heli utility (sar&angkut berat) kenapa justru fasilitas yang wajib ada sesuai peruntukkannya tidak tersedia, spt: cargo door, ramp door dan hoist
Barusan eike nemu “koran bekas bungkus cabe” yg ada iklannya leonardo, disitu dituliskan heli varian utiliti (medium-heavy lift helicopter) pake mesin GE CT7-8E atau RTM-322….lha sementara heli yang kita beli ini (varian AW-101 mk.641) kan pake mesin GE CT7-600series yang powernya lebih kecil.
Kira2 kemahalan engga dengan harga segitu?????????????????????????????????
Mau mahal kek murah kek, yang penting fungsi utama efektipitas dari Alutsista itu sendiri. Mahal sekalipun kalau maintenance dan skill nya abai toh jatuh juga. Think
@adityawarman
Tul om…
Alutsista yg canggih&rumit juga menuntut/memaksa operator menyediakan tingkat maintenen yang prima, disiplin&skill tinggi, manajemen sucad yang apik serta personel teknisi khusus….belum terhitung tool & alat2 diagnosa utk memantau “kesehatan” komponen2 heli canggih&full glass cockpit ini, serta penyediaan simulator khusus utk awak heli ini.
#Nanti…beberapa tahun kedepan setelah habis stok sucad utk 2 tahun, baru terasa betapa mahal&kompliketetnya heli ini
Heli puma TNI AU sering dipake TNI AD. Kenapa enggak Dari Awal TNI AD Beli Super Puma?? Daripada beli mi 17.. sekarang ini
Sayang tuh heli AW101nya, seperti anak yg tidak diinginkan.
Nasi udh jadi bubur, tinggal di taburin bumbu nya aja. Lanjut!
http://defense-studies.blogspot.in/2017/02/pembelian-helikopter-aw-101-tetap-akan.html?m=1
prcayalah akan prkataan para sales & realitanx kondisi heli angkut tni au dlm kondisi kritis dkrnkan heli puma dipinjam penerbad & sampe kini blm dbalikin
aw-101 lanjut!!
Betul bung Ayam, Koruptor kelas super kakap selalu menang ….
Jangan Kuatir
Nasib nya hampir serupa dengan Heli Asw Si-emprit yang batal diakuisisi tapi yg ini lebih kronis lagi. Pejabat terkait saling lempar tanggung jawab, memperburuk citra Militer kita.
Sejak dulu begitu
Ada kabar Indonesia tertarik membeli AEW&C dari India.
Ada yg bisa ulas lebih jauh?
@big boss
Tempo hari kasus ini mjd viral krn diawali dg eksisnya seorang sales yang seperti “diberi ruang” utk menguasai pemberitaan ttg heli ini, didukung pula tim yang lengkap (yang terdiri dr bbrp penggiat. LSM)…mungkin mereka merasa over confident krn pemegang otoritas saat itu berada dipihak mereka.
Seperti hukum psywar…”siapa yang berhasil mendominasi informasi maka dia yang akan memenangkan pertempuran”
Maka kita akan mendengar segala hal jelek ttg pt.di (tapi kita tidak pernah mendengar dr mereka bhw pt.di ibarat pasien yang baru recovery dari sakit).
Bahwa heli super puma berjatuhan dimana2 (tapi tidak pernah menyinggung ttg hasil investigasinya…’krn lazimnya kecelakaan udara “tidak pernah” disebabkan oleh satu faktor tunggal)
Ga akan terdengar pula kabar bhw “matra pengguna” tidak melakukan maintenance aggrement (suatu hal yang lazim dlm dunia aviasi & dilakukan oleh kustomer pt.di lainnya)…tetapi ketika user mengalami masalah dg sucad, bebannya ditimpakan kpd pihak lain/pt.di.
Sayangnya dalam beberapa kali penampilan di TV, tampak para pewarta dr media2 TV tidak well-prepared dg materi yang dibahas shg diskusi tsb cenderung menjadi satu arah.
Sangat tidak layak hanya menyebut heli ini safetynya tinggi krn bermesin 3, kabinnya tinggi shg penumpang tdk perlu membungkuk2, suaranya halus, daya muatnya besar, dsb-dsb.
Jika membicarakan sebuah alutsista, kita berbicara ttg misi yang diemban oleh alutsista tsb…apasaja perlengkapan yang wajib dimiliki utk menunjang misi tsb, bagaimana simulasi efektivitas heli tsb dlm berbagai pola operasi, kemudahan pengoperasian/perawatan, keterjangkauan harga, “bagaimana komparasinya dg heli lain yang sejenis”, apa saja kontribusinya thd industri didalam negri, dsb-dsb….sayang hal2 seperti ini tidak pernah dibahas, bahkan oleh usernya sekalipun.
Iya juga sih dengan pemilihan Puma daripada AW bisa ngasih kesempatan untuk PT.DI dapat berbenah jadi lebih baik,,, meskipun hanya merakit dan integrasi sistem yang dilakukan disini minimal ada masukan buat PT.DI dari man hour, selain itu bisa mendongkrak citra PT.DI dan menambah kepercayaan calon konsumen. Dengan catatan memang super puma sesuai dengan kebutuhan matra pengguna dan mampu mengemban tugas yg diberikan.
@big boss
Enngak hanya merakit bos…sampai 2025, pt.di punya kewajiban mensuplai 125 set fuselage(badan helikopter) dan tailrotor ke airbus.
Coba googling aja ke situsnya airbus
Tanpa Airbus PT. DI hanya menjadi sejarah
Silahkan dilihat sejarah bangkrutnya PT. DI setelah Krismon Th. 1998
belum lagi airbus mau membantu mempercepat sertifikasi FAA untuk N-219 , N245 dan seterusnya
Ini namanya kita Kurang Aja, Tidak menghormati Kerjasama yang sedemikan lama
Masukan Anda Memang Cukup Bagus..
@jeng koni
aw-109 basarnas sdh ditambah jd 1 skuadron utuh atawa 16 unit. kontrak penambahan pd singapore air show
performa agusta westland sama sprr sikoraky di cuaca buruk & area pegunungan memang lbh baik drpd airbus aplg mil yg kacrut. di malaysia justru untuk operasi csar dlm skala kritis lbh memilih sikorsky s-60 nuri bkn heli cougar. heli blackhawk dlm menghadapi cuaca buruk lbh baik drpd super cougar walaupun scara ukuran lbh kecil. di jepang& singapura blackhawk lbh sering jd andalan bukannx super cougar.
saya bukan pro agusta westland tp kalo masalah heli tetap blm ada yg sbaik dari amrik. lakota kasus lain. airbus pake desain heli jepang
@ayam jago
Kita tidak tau alasannya bang AJ mengatakan “yang ini lebih baik dr yang itu”, dari kemarin…YESTERDAY (dg gaya prihatin) kita juga tidak mengklaim ec-725 lebih baik dari aw-101. Karena dalam pembelian alutsista “tidak melulu mencari yang paling baik”…ada beberapa pertimbangan2 terukur yang menyertainya.
Kalo dasarnya adl membeli yang paling baik, tentu sekarang kita sudah punya F-15/F-22, C-17, osprey, arleigh burke, u-212 dsb-dsb
Di malaysia, thai, RI, ec-725 terhitung baru &masih tahap induksi/belum operasional penuh…sedangkan di singapur, ec-725 “baru” terpilih sbg pengganti super puma sbg angkut medium.
Jadi bagaimana menjelaskan klaim “yang ini lebih baik dari yang itu” (selain dg kata-kata)????
Super puma disingapur difungsikan sbg angkut medium dan beroperasi di darat&kapal LPD, bukan dari fregat mereka…dijepang super puma dan variannya difungsikan sbg heli coast guard. Sementara dilaut atlantik yang ganas…super puma adl. salah satu andalan baik dalam operasi SAR maupun transport karyawan offshore.
Penjelasan singkat bahwa “heli yang ini lebih baik dari yang itu” tidak kredibel utk menjelaskan alasan pembelian sebuah alutsista.
Argumen bahwa instansi sipil lebih memilih heli produk leonardo drpd airbus juga samasekali tidak bisa digunakan sbg referensi pembenaran pembelian heli. Aw-101….krn parameternya berbeda& menjadi tidak terukur
#Ttg kasus ini silahkan kembali ke pokok masalahnya dan fakta fisik heli yang dipageri police line
Setuju sekali, pembelian alutsista banyak sekali parameter nya, bukan karena si inu lebih baik dari si anu. Terlebih dari itu kasus AW101 ini adalah pembelian yg sarat dengan kepentingan penjual (sales) dan dilakukan oleh pejabat yg hampir pensiun, dan tidak lupa faktor markup harga yg kental.
kenapa di tempat saya bekerja di kemenkes program heli pengganti nbo-105 yang jumlahny cukup banyak kuang lebih 30-40 unit yang dimenangkan aw-109 & 139 menyingkirkan dauphin & ecuroil tidak ada yang ribut-ribut sperti ini sampai membawa sentimen nasionalisme segala. tidak sperti kasus aw-101 yang jumlahnya satu unit tapi hebohnya sudah selangit. dari sisi nilai kontrak jelas lebih besar pengadaan heli di berbagai kementrian & departemen. faktanya agusta westland memenangkan 85-90% keseluruhan kontrak tersebut yang jika diakumulasikan totalnya lebih dari 150 unit. lihat saja jajaran heli terbaru kemenhub contohnya hampir semuanya aw-109
@ariel
ribut aw101 krn menyamgkut undang2 dmn pembelian alutsista wajib mengikutsertakan bumnis dlm hal ini pt. di
jgn samakan pembelian heli untuk militer maupun sipil. untuk militer wajib disertakan sucad, training utk awak darat dll. pemeliharaan & perawatan dilakukan oleh depohar angkatan tsb. sedangkan dlm kontrak heli sipil cuma fisik heli doang dmn urusan perawatan & pemeliharaan jd tanggung jawab prinsipil dmn utk aw dipegang indopelita.
dari poin diatas utk heli sipil jelas faktor referensilah yg berperan bkn faktor nasionalisme. dlm hal referensi disini keunggulan indopelita baik delivery,proses pembelian & aftersales service srta sucad. berbanding terbalik dgn divisi rotary wing pt. di yg kinerjanx kacrut
@ayam jago
emang kinerja PT.DI kacrut banget ya,,,,wah,,wah,,, kacrut bagaimana itu maksudnya?
@bigboss
yg kacrut kinerjanx cuma divisi rotary wing pt. di brbanding terbalik dgn fixed wing yg kinerjanx luar biasa. justru heli sipil yang seharusnx jd andalan krn mmberikan margin keuntungan yg lbh besar drpd heli militer ttp tdk berdaya menghadapi agresifitas indopelita
Mungkin PT.Di masih dalam proses berbenah, kita tau masa lalu PT.DI yang tiba2 terpuruk setelah mengalami masa kejayaannya. hal itu pasti memberi dampak ke kinerja PT.DI. Saya dengar PT.DI sudah mulai proses regenerasi SDM besar2an. kalau PT.DI tidak diberi kesempatan kasihan SDM baru ini tidak memiliki kesempatan belajar.
Mungkin untuk rotary wing memang dimasa kejayaan PT.DI mereka berfokus pada FIX wing jadi wajar klo fix wing lebih unggul,,
@ariel bukan noah
Waow…kemenkes pesen 30-40 biji helikopter (jumlahnya saja tidak pasti), emang kemenkes mo buka rental heli….????
Jangankan 30 biji, pesen 16 biji seperti yg disebut ayam jago aja beritanya pasti dimuat di majalah aviation week….NGACO!!!!!!!
Coba dibeli dengan proses yang jelas dan sesuai spec dan fungsinya pasti keren,,, apalagi ditambah TOT dan bisa bantu industry dalam negeri mau puma atau AW gak ada masalah yg penting jelas,,,
@bigboss
Tapi kalo toat prosedur, tampaknya kecil kemungkinan heli ini bisa tembus…apalagi setelah melihat daftar negara2/militer yang menggunakan heli ini. Contoh negara2 disekitar kita…di asia-pasifik, hanya jepang. yang pakai heli ini. Itupun hanya digunakan untuk menarik wahana penyapu ranjau.
Kalo kita luangkan waktu melihat brosur heli aw-101 versi utility, beserta detil spesifikasinya…akan terlihat dimana penyimpangannya
kalau yang jadi pertimbangan tingkat urgent kebutuhan dan kapasitas produksi PT.DI sekarang dan kapan heli puma siap delivery sejak ttd kontra, kira-kira apa yang bakal jadi pesaing puma yang bisa lolos om kalau lewat jalur yang jelas?
Yang lolos kan ec-725, hihihihi….coba deh dicek ke negara tetangga kita (singapur/tender terbaru, malay, thai&jepang/CG), heli dikelas ini kan semua pake ec-725.
Malah kuwait yang super kaya pesen 30 biji heli ini
uang bisa bikin orang mabuk kepayang
Lupa sahabat, lupa kerabat, lupa saudara,
mungkin juga lupa ingatan
uang…
lagi-lagi uang
Daripada gak jelas, mubazir
Mending kasihkan ke pt.di buat di oprek2.
Semua kecanggihan AW101 dicontek untuk ciptakan buatan sendiri seperti RRC ,
Kasih modal & waktu 5 tahun.
@ramses
Mantab bung idenya….disana nanti heli aw-nya tinggal dijual lagi, buat nambahin modal sertifikasi. N-219
sedih ya
Emang spertinya harga pembelian alutsista, kita g cuman bayar harga barang, mngkin termasuk pelatihan, sucad, dan pendukung yg lain, nah mngkin pritilan2 ini yg bisa di mark-up. Ada yg tau harga heli ini wktu dijual di negara lain?
KSAU harus cpt menyelesaikan masalah ini, kalo emang ada masalah dalam pengadaan mngkin perlu utak atik skenarionya yg penting barang g mubazir.?
https://en.m.wikipedia.org/wiki/2013_Indian_helicopter_bribery_scandal ?
@johntitor
Kalo tidak dibreakdown apa saja kelengkapan yang dibeli dan kuantitnya memang agak susah dibandingkan.
Tapi secara hitung2an kasar kita tetep bisa melihat kejanggalan pd heli kita
Norway sudah full gear, radar aesa+sucad selama 15 thn=100 juta dollar…kita “belum” full gear, defense suite+sucad 2 thn=55 juta dollar.
Tentunya kita menyusun spesifikasi berdasar kebutuhan operasional&tingkat ancaman…heli aw ini diberikan misi sbg heli sar&heavylift (bukan csar lho!!!), jd asumsinya bukan bertugas digaris depan.
Lalu mengapa malah dilengkapi dg defense suites yang harganya mahal dan akan dipasangi door gun, sementara untuk menunjang misa sar, heli ini lebih membutuhkan cargo door&hoist (dua item ini malah tidak dibeli)???? Padahal heli csar (ec 725) yang misinya bertugas digaris depan malah belum dilengkapi dg defense suites, termasuk juga heli VVIP super puma juga belum dipasang defense suites…..disini kelihatan “akal-akalan” spy produk jagoannya terlihat lebih hebat dibanding produk yang lain (super puma&cougar).
Kembali ke soal harga…harga pembelian awal sebuah alutsista sebenarnya mencerminkan “hanya” 20~30% dari total biaya untuk mengoperasikan barang tersebut seumur siklus hidupnya. Jadi bisa dibuat kalkulasi kira2 berapa total biaya yang harus dikeluarkan untuk “menafkahi” heli yang “high maintenance” ini.
Dari angka tsb kita bisa bandingkan dg metoda yang sama dg heli ec-725 ato dg heli yang lain….barulah akan ketemu komparasinya yang fair.
Tapi itu baru dari segi harga saja…masih ada parameter2 lain untuk menentukan feasibilitas suatu alutsista yang akan dibeli.
Faktanya, sampai saat ini…TODAY (dg gaya SBY) hanya negara2 yang mampu dan mumpuni saja yang mengoperasikan heli ini (nigeria bisa dianggap sbg sebuah anomali….masak kita mau disamakan?).
Jadi hemat kita, soal heli yang sudah terlanjur datang ini tidak perlu merasa sedang mendapat buah simalakama….segara tuntaskan investigasinya dan dikroscek dg perhitungan feasibilitasnya.
Dari dugaan seorang awam, kita bisa menebak…lebih murah dan mudah membayar penalti atas satu biji heli “malang” ini daripada seumur hidupnya negara kita menanggung biaya operasional&pemeliharaan yang besar
basarnas sudah duluan punya, nggak ada yang ribut2 tuh
@ari
Subyeknya itu AW-101 sendiri…bukan tipe yang lain, karena kalo membahas heli AW-139 pembahasannya berbeda lagi.
Itu lho mbok dibaca komen2 dibawah supaya tau dimana bagian yang bermasalah dari heli ini.
Direpply ya om ari….
iya gan ane paham itu beda tipe, tp ndak ada yg membandingkan aw139nya basarnas dgn dauphin, beda dgn aw101 ini selalu dibandingkan dgn super puma. salah satu yg bkin produk ini ditolak kan karena ada anggapan harusnya beli super pumanya pt di
Komenku…komenku ilang!!!
Tadi naruhnya disini….????
@ari
Dimajalah angkasa, mantan kabasarnas mengungkapkan hanya beli 1 biji aw-139 dan plotingnya jelas…untuk wilayah papua yang areanya luas&terdapat dataran tinggi shg membutuhkan heli yang memiliki enduran dan daya muat lebih besar dibanding dauphin.
Sebenarnya dauphin&aw-139 berada dlm kelas heli yang sama, namun heli aw-139 bisa dikatakan sbg “juara kelasnya”.
Airbus sebenarnya punya heli ec-175 namun heli ini belum lama memperoleh sertifikasi sbg heli sar, shg banyak operator yang memilih platform yang lebih proven spt dauphin atau aw-139
#komen yang ini jangan hilang ya om admin
Cie pada cuci tangan nih yee.. Ckckck
Bau baunya komisi gede nih..ckckck
@admin
Diformil sebelah (defense studies) ada artikel baru, majalah flight global merilis serial number heli aw-101 yang dipageri pita kuning…rupanya serial number tersebut merujuk pd salah satu produksi heli varian VIP yang semula ditujukan untuk AU India.
Kalo bung admin berkenan mengundang salah satu pengamat militer (bung Ryan Muhammad) untuk menyumbang artikelnya kembali disini, trimakasih.
Bahkan disitu disebutkan barang sudah diproduksi sejak 2013. Akan semakin rumit rupanya.. sepertinya akan kerja keras kasau sekarang untuk mengatur cerita. Let’s see what the end.
emang eks india, malah di arc.web.id lebih jelas berikut no seri dan no produksi nya
Kalau harga nya sampai 700 miliar per unit, pantas saja disebut kemahalan.
Angkatan udara kok helikopteri angkut pdhal sdh punya banyak knp tidak beli pesawat tempur saja. Apa mau jd TNI Angkutan udara hiiii…
Ribut..ribut..terus nbo..ya.d sukuri saja..dari pd hilang ..tu uang muka…kan sia2 uang rakyat..jelas PT DI belum bisa buat yg ber mesin tiga..kasihan tak da penyambutn padahl hli canggih..pd lepas tangan ribet2…
@aweawe
Hadeuh ini lagi…
Tau ndak bang, kenapa heli ini pake mesin 3?
hai parapengamat alutsista indonesia kalian harus curiga, jangan-jangan serupa dengan kasus emir
harganya tuhh setara dengan pesawat RI 01 yg di beli jaman pak SBY . karna itu ditolak pak JOKOWI . harganya tidak wajar.
Wajar g wajar tergantung spekny … India beli ini lbh murah norway beli ini lbh mahal… Spekny berbeda
@swan
Wallahualam masalah hrga soale kita ga dikasi lihat kontraknya.
Tapi yang kasat mata gak wajar itu pd perencanaannya yang asal2an…yang penting proyeknya jebol, gimana2nya urusan belakangan, biar negara&rakyat yang nanggung.
Kuampret…anak codot !!!!
Dari pengajuannya yang tiba2 berubah (VVIP ke SAR+AB)…faktanya heli ini fisiknya adalah platform heli VVIP.
Pd varian VVIP, “cargo door/sliding” ditidakan/dihilangkan…sebaliknya pd varian SAR+AB, “cargo door” ini sangat vital fungsinya, selain utk akses bongkar muat, “cargo door” yang lebarnya sekitar 1,8~2 meter ini merupakan akses keluar masuk stretcher korban/evakuan yang dihoist/dikatrol kedalam heli.
#Sudah bukan waktunya lg bicara “User paling tau apa yang dibutuhkan”…faktanya, masalah ini sekarang diurusin PM
Kalo liat kasus ini spertinya perlu kpk masuk. Seperti kasus rasuah melibatkan brjgjen yg akhirnya dihukum seumur hidup.
Jadi skg ini semakin terlihat bahwa pengadaan alutsista kita bukan hanya berdasar kebutuhan user tapi kebutuhan pejabat.
Heli Ini memang lebih efektif daripada puma dan turunannya . . dah ambil aja. . .Sebisa mungkin dibuat di lokal donk. Cina aja bisa . .
@rini
Gimana ukurannya, klaim heli ini lebih efektif dibanding keluarga puma?
Kalo hanya daya muatnya yang lebih besar…kenapa ga sekalian ngajuin CH-53 aja?
Ayo mbak dibahas disini….
jadi fenomena jalangkung nih…..
Daripada ribut mending serahin ke museum dirgantara aja..
summon bung Ayam Jago, hehehe
om bikin artikel dong tentang hasil upgrade kri fatahillah …. perbedaannya apa dengan sebelum diapgrade
@swan: sebelum di upgrade pakai ini http://www.indomiliter.com/thales-wm-22wm-28-radar-pengendali-tembakan-khas-kapal-perang-tni-al-era-80-dan-90-an/ dan sesudah di upgrade pakai ini http://www.indomiliter.com/terma-scanter-4100-radar-intai-terbaru-untuk-kri-fatahillah-361/ semoga bisa menjelaskan.
Kita tambahin ya om admin…
Selain penggantian radar sea scanter, KRI-361 dilengkapi dg 2x eots/flir buatan radarmec (seperti yang dipakai oleh Bung Tom class), penambahan ESM buatan indra dan cms baru juga dari indra/spanyol
Xixixixi…bisa aja yang kasi judul
Judulnya menggemaskan ya bu? Wkwkwkwk