Angkatan Udara AS Kembangkan Pengiriman Kargo dengan Roket Reusable, Mendarat di Mana Saja di Bumi Kurang dari 90 Menit

Pengiriman kargo jarak jauh lewat jalur udara dengan pesawat angkut berat, kerap dihadapkan pada beragam tantangan, mulai dari kecepatan, biaya sampai risiko pada aspek keamanan, khususnya pada misi di wilayah konflik. Nah, rupanya Angkatan Udara AS (USAF) telah merancang bentuk pengiriman logistik guna mengatasi tantangan di atas.

Baca juga: Korps Marinir AS Adopsi TRV-150C – Drone Kargo Copter ‘Besar’ untuk Dukungan Logistik di Medan Perang

Persisnya, Angkatan Udara AS lewat Air Force Research Laboratory (AFRL) berinvestasi dalam pengembangan sistem transportasi yang dapat mengirimkan 100 ton kargo atau personel dengan roket ke tempat mana pun di Bumi dalam waktu kurang dari 90 menit. Dinamakan Rocket Cargo, sistem ini mungkin akan memulai uji coba awal tahun depan.

Sebagai bagian dari program Rocket Experimentation for Global Agile Logistics (REGAL), Rocket Cargo berupaya mengembangkan roket transportasi komersial yang dapat mendarat dan digunakan kembali, serta mampu melaju ke lintasan suborbital dan mendarat di titik mana saja di Bumi dalam waktu 60 hingga 90 menit.

Tidak hanya itu, kendaraan akhir diharapkan memiliki kapasitas kargo setara pesawat angkut berat C-17 Globemaster III, atau setara 77 ton bahan makanan sekaligus.

Untuk mencapai tujuan di atas, Rocket Cargo digadang untuk punya kemampuan untuk digunakan kembali (reusable), seperti halnya yang dilakukan SpaceX dengan roket Falcon 9, Falcon Heavy dan Starship. Selain itu, program REGAL juga mensyaratkan sistem logistik lengkap yang berfungsi dan terintegrasi sepenuhnya seperti sayap transportasi udara militer mana pun.

Dengan kata lain, bayangkan roket yang dapat membawa satu detasemen Marinir AS atau pengiriman bantuan kemanusiaan dari Vandenberg Space Force Base di Nebraska ke sisi lain di planet ini dalam waktu yang lebih singkat daripada yang diperlukan untuk sampai ke bandara dan dengan biaya yang sebanding dengan operasi kargo udara tradisional.

Sebagai bagian dari upaya ini, AFRL baru saja menandatangani perjanjian dengan Rocket Lab USA untuk melakukan penerbangan orbital tidak lebih awal dari tahun 2026 yang digambarkan sebagai uji ketahanan.

Dengan menggunakan salah satu roket Neutron medium-lift reusable milik Rocket Lab yang mampu membawa muatan seberat 13 ton, misi tersebut akan ditempatkan pada lintasan yang mirip dengan lintasan yang digunakan dalam misi transportasi dan data akan dikumpulkan untuk membangun kendaraan masa depan yang mampu menjalankan misi dengan masalah yang minimal.

[the_ad id=”77299″]

Misi uji coba Rocket Cargo akan terdiri dari pendaratan yang terkendali selama telemetri akan memantau suhu, tekanan, gaya akselerasi, fluks panas, efek pada elemen struktural, material, dan sistem kendaraan hingga fase pendaratan dan pemulihan. Ini akan digunakan untuk memvalidasi model misi masa depan dan untuk memastikan keamanan setiap muatan yang dibawa. Ini sangat penting jika penumpang disertakan dalam manifes karena roket dengan muatan manusia harus bekerja dalam toleransi yang sangat ketat, karena manusia menjadi tidak berdaya ketika terjadi kesalahan. (Bayu Pamungkas)

Junker DG-250 – Teknologi Parasut Kargo Terbaru Pasukan Lintas Udara Rusia dengan Navigasi GLONASS