Taiwan Bergabung Dalam Komunitas Intelijen ‘Pemburu’ Puing Rudal Udara ke Udara PL-15 Cina

Bertambah lagi negara yang berusaha mengintip puing-puing dari rudal udara ke udara jarak jauh PL-15 yang ditemukan di wilayah India. Setelah aliansi intelijen “Five Eyes”—yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, menyatakan minat untuk pemeriksaan ketat terhadap komponen PL-15, kabar terbaru menyebut Taiwan ada dalam antrian yang akan mengendus teknologi dibalik rudal buatan Cina tersebut.
Media internasional menyebut Taiwan secara resmi bergabung dengan lingkaran negara-negara yang mencari akses ke serpihan rudal udara-ke-udara jarak jauh (Beyond Visual Range/BVR) PL-15.
Bagi Taiwan yang menghadapi tekanan dari militer Cina yang semakin keras, maka kesempatan untuk mempelajari komponen ‘sebenarnya’ dari PL-15 merupakan keuntungan intelijen yang langka dan sangat penting. Sebagai negara garis depan di Indo-Pasifik, Taiwan punya banyak alasan untuk meneliti kemampuan dan keterbatasan PL-15, yang kini melengkapi jet tempur papan atas Cina, termasuk jet tempur stealth J-20 “Mighty Dragon” dan J-10C yang kini sedang naik daun.
Maksud strategis Taiwan sangat kentara, yakni guna memperoleh pemahaman teknis tentang kekuatan dan kerentanan rudal tersebut guna membentuk taktik balasan baru, mengembangkan tindakan balasan yang efektif, dan mempersiapkan rudalnya sendiri untuk kemungkinan terlibat dengan kekuatan udara Cina suatu waktu.

Penggunaan PL-15 dalam pertempuran sesungguhnya, terutama dengan hasil yang dramatis, telah memicu minat yang luas di antara analis pertahanan global dan badan intelijen yang berusaha mengevaluasi kinerja rudal di dunia nyata. Meskipun tingkat keberhasilannya tinggi, tidak semua rudal PL-15 mengenai sasaran yang dituju, beberapa ada yang jatuh dan ditemukan dalam kondisi relatif baik.
Pihak berwenang India menemukan beberapa puing rudal PL-15, termasuk bagian yang relatif utuh di desa Kamahi Devi di Hoshiarpur, Punjab, dan beberapa lokasi dampak lainnya di wilayah utara India.

Menurut media pertahanan India, minat dari Perancis dan Jepang juga muncul, dengan kedua negara mengusulkan upaya kolaboratif dengan India untuk menganalisis puing-puing rudal untuk tujuan penelitian dan pengembangan. Bagi badan intelijen Barat seperti CIA, NSA, dan divisi intelijen militer sekutu, maka puing PL-15 merupakan peluang langka dan berharga untuk merekayasa ulang rudal BVR Cina yang dengan cepat mengubah keseimbangan kekuatan udara di Asia.
Tujuan peneltian puing PL-15 meliputi pembedahan forensik menyeluruh dari pencari radar, dual-pulse propulsion motor, s onboard datalink system dan arsitektur panduan untuk mengungkap wawasan tentang kinerja PL-15, ketahanan penanggulangan, dan kemampuan penargetan siluman.
Salah satu fokus utama adalah untuk menentukan pita frekuensi radar rudal, karakteristik bentuk gelombang pencari, dan apakah rudal tersebut punya kemampuan penanggulangan elektronik canggih (ECCM), yang akan memungkinkannya untuk mengalahkan sistem pengacauan (jamming) Barat. pasalnya muncul dugaan PL-15 mampu menyaingi AIM-120D AMRAAM buatan AS dan MBDA Meteor Eropa dalam hal kinerja.
Rudal itu sendiri merupakan lompatan signifikan dalam kemampuan kedirgantaraan Cina yang mampu mencapai kecepatan Mach 4 dan menyerang target udara pada jarak hingga 300 kilometer—jauh melampaui jangkauan BVR tradisional.
[the_ad id=”77299″]
Ahli strategi pertahanan Barat memandang upaya intelijen ini sebagai hal yang penting untuk mengkalibrasi ulang doktrin operasional, khususnya karena Indo-Pasifik kemungkinan menjadi medan pertempuran udara canggih di masa depan yang melibatkan aset udara Cina atau proksi.
Investigasi juga sedang dilakukan untuk menentukan apakah PL-15 menggabungkan komponen buatan Rusia, khususnya dalam modul propulsi atau radar, mengingat ketergantungan historis Cina pada teknologi pertahanan Rusia. (Gilang Perdana)



setahu aku kejadiannya bukan seperti itu. ….
pakistan itu sudah tahu kalau india mau menyerang pakistan dg rombongan pesawat tempur…. hal itu di ketahui oleh satelit cina, dg bocornya komunikasi pesawat penyerang…lalu diteruskan ke pesawat aewc erieye dan yang buatan cina.
kemudian oleh komando pusat diperintahkan serombongan J10 c pakistan utk menghadapinya. mereka terbang dg mode terbang rendah utk menghindari radar serta mematikan radar dan komunkasi radionya. semua nya dibimbing oleh pesawat aewc. lalu dilepaskan lah seluruh rudal PL15 E utk menghajar rombongan jet tempur india yang masih di wilayah india. terbangya rudal rudal itu juga dibimbing oleh pesawat aewc jadi tetap senyap (stealth). sampai saat jarak 20 km dri target rudal2 itu melakukan manuver dan melakukan stage ke 2 buat menambah daya dorong dan kecepatan dan serta memancarkan radar pencari targetnya. maka buyarlah rombongan jet jet india pada berpencar lalu pada rontok…. 3 rafale, 1 su30mki, 1 mig 29, ,…malah ada 1 mirge 2000 segala lagi.
PL-15 adalah rudal buatan China yg saya yakin part dan chipnya masih buatan barat. Yg unik dari rudal ini adalah jangkauannya yg jauh hingga 300-400 km yg awalnya didesain untuk menyerang Aset strategis di udara misalnya seperti pesawat tanker atau AWACS/AEW.
Berbeda dengan konsep negara-negara Barat yg menggunakan rudal BVR pada pespur canggih dg kemampuan ECM yg tinggi atau bahkan pesawat siluman untuk mengurangi deteksi dan serangan rudal lawan. Strategi ini didasarkan pada pengalaman pertempuran udara di Perang Teluk dan kemudian di Balkan di mana musuh menggunakan pesawat dan rudal buatan Soviet/negara timur lainnya dan memanfaatkan rudal yg dipandu untuk mengarahkan rudal menyerang dg lebih stabil dg resiko pespur tersebut bisa diserang balik. Barat khususnya USA bukan tidak memiliki rudal BVR jarak jauh, mereka sudah mengembangkannya jauh 50 tahun yg lalu dg AIM-54 Phoenix yg jangkauannya bisa sampai 180 km. Rudal tersebut sangat besar dibandingkan jenis rudal BVR lainnya karena memang ditujukan untuk menjatuhkan pesawat pembom lawan dari jarak jauh sebelum musuh meluncurkan bom nuklir mereka. Mengingat kemudian hampir 40 tahun USA dan sekutunya belum menemukan lawan yg sebanding, China kembali datang dg ide lama Barat yg sudah ditinggalkan yaitu menyerang lawan dari jarak yg sangat jauh lalu kembali ke pangkalan.
Melihat adanya sisa-sisa puing PL-15 yg masih utuh menunjuk adanya kemungkinan jika rudal tersebut ditembakkan secara salvo dg 1 pespur J-10 menembakkan lebih dari 2 rudal untuk melumpuhkan 1 Rafale. Dengan jangkauan yg jauh maka jika melihat No Escape Zone Rudal PL-15 walaupun hanya 50% dari jangkauan terjauh nya tapi jarak yg bisa dicapai masih berkisar 150-200 km, masih terlalu jauh untuk AIM-120 Amraam dan Meteor sekalipun walaupun kedua rudal tersebut memiliki kemampuan no escape zone hingga 100 km. Sistem ECM Rafale mungkin memang mumpuni, tapi jika diserang beberapa rudal sekaligus itu akan menjadi serangan yg mematikan juga.
Dari sini kita bisa menduga bahwa taktik dan strategi China dalam pertempuran udara adalah melemparkan semua rudal BVR yg dimiliki untuk menyerang 1 lawan dan kemudian mundur. Kualitas dilawan dg kuantitas dan serangan yg sangat jauh. Resiko bagi pespur China adalah jika musuh masih bisa bertahan dan lolos dari serangan pertama maka mereka akan menjadi rentan karena mereka sudah tidak memiliki rudal lagi.
Jika benar demikian maka Barat khususnya USAF bisa memanfaatkan Drone/UAV loyal wingman sebagai perisai dari serangan hujan rudal tersebu sembari menghabiskan seluruh rudal milik China dan Dengan bantuan AI itu akan sangat membantu.
Jika kemudian China juga menggunakan Loyal Wingman untuk menyerang musuh dg PL-15 maka pilihan bagi USA adalah menggunakan rudal BVR super jauh atau menggunakan laser dan senjata berenergi tinggi untuk melumpuhkan rudal tersebut. Ini hanya menunggu waktu hingga kita lihat teknologi mana yg lebih siap dalam perang dan itu takkan berhenti hingga perang dingin ini berakhir dg kalahnya ekonomi negara yg saling bersaing.
Begitu ada potensi lawan negara strong, baru sibuk cari kelemahannya. Inilah akibat terlalu sering melawan negara miskin teknologi. Kalian negara sok kuat bukan lawan china