Shenyang J-35A untuk Pakistan Berpotensi Dibekali Rudal Udara ke Udara PL-21, Lebih Canggih dari PL-15

Setelah apa yang menimpa jet tempur Rafale dalam perang di atas Kashmir, sepertinya India wajib khawatir atas rencana kedatangan jet tempur stealth Shenyang J-35A yang akan memperkuat Angkatan Udara Pakistan. Bukan sekedar pesawat tempur generasi kelima yang akan lebih dulu dioperasikan Pakistan, melainkan ada rudal udara ke udara jarak jauh yang diklaim lebih canggih dari PL-15 dan akan melengkapi kehadiran J-35A Pakistan.
Rudal yang dimaksud adalah PL-21, yang statusnya saat ini masih dalam pengembangan dan tengah diuji coba dipasang pada jet tempur stealth Chengdu J-20. Sebuah gambar yang baru-baru ini muncul telah memicu perhatian di antara para analis pertahanan global setelah memperlihatkan jet tempur Chengdu J-20, yang dipersenjatai dengan apa yang tampak seperti dua rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-21.
Meskipun gambar tersebut tidak memiliki autentikasi resmi dan masih kabur, para analis percaya bahwa gambar tersebut memberikan salah satu indikator visual bahwa Angkatan Udara Cina sedang melakukan uji coba lanjutan terhadap rudal yang sangat rahasia tersebut.
Kemunculan PL-21 pada jet tempur superioritas udara tercanggih milik Cina telah menghidupkan kembali minat di kalangan analis pertahanan Pakistan, terutama mengingat rencana Angkatan Udara Pakistan untuk memasok jet tempur stealth J-35A dalam waktu dekat.

Menurut laporan media lokal, Angkatan Udara Pakistan diharapkan akan menerima batch pertama J-35A paling cepat tahun depan, menjadikan kemungkinan integrasi PL-21 sebagai subjek kegembiraan yang semakin meningkat di Islamabad.
Pengamat Pakistan berharap untuk meniru preseden yang ditetapkan oleh pengalihan rudal PL-15 oleh Cina ke Pakistan untuk armada J-10CE, yang diyakini telah memberikan keberhasilan strategis selama pertempuran udara baru-baru ini dengan India.

Berdasarkan perjanjian awal, Pakistan dijadwalkan untuk mulai menerima pesawat J-35A pertama dari 40 pesawat menjelang akhir tahun 2026, tetapi jadwal yang direvisi menggarisbawahi urgensi yang mendorong kolaborasi pertahanan bilateral.
PL-21
PL-21 adalah generasi lebih lanjut dari rudal PL-15, yang merupakan rudal BVR (Beyond Visual Range). Dibandingkan PL-15, PL-21 dirancang untuk mengisi peran Ultra Long-range Air-to-Air Missile (LRAAM) dan menargetkan pesawat bernilai tinggi dari jarak jauh, seperti AWACS, tanker, dan pesawat pengintai.
PL-21 dengan propulsi ramjet dirancang untuk menghancurkan target dari jarak dua kali lipat dibanding PL-15 yang ditenagai solid-fuel rocket motor. Ini memberi pilot keunggulan taktis terhadap pesawat besar musuh yang mengandalkan jarak aman.
PL-21 dikembangkan oleh China Academy of Aerospace Aerodynamics (CAAA) – di bawah AVIC (Aviation Industry Corporation of China) dengan status belum dioperasikan secara resmi, kemungkinan masih dalam tahap uji coba lanjutan. Pengembangan PL-21 diduga dimulai pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an, sebagai respons terhadap pengembangan rudal jarak jauh Amerika seperti AIM-120D dan AIM-260.
Debut PL-21 pertama kali terungkap ke publik sekitar 2016, lewat foto-foto uji coba di bawah sayap pesawat tempur Shenyang J-16.
Meski masih serba rahasia, namun estimasi dari analis militer menduga PL-21 punya panjang sekitar 5 meter dengan berat di kisaran 250-300 kg. Disokong propulsi ramjet atau dual-pulse solid rocket, kecepatan rudal PL-21 diperkirakan mencapai sekitar Mach 4 hingga Mach 6, tergantung pada sistem propulsi yang digunakan. Sementara pemandunga diduga menggunakan kombinasi inertial, data link dan aktif radar homing (ARH). (Bayu Pamungkas)



Ah mana linknya kalo beliau bilang “kiblat alutsista ke barat”.
Lha beliau aja klepek-klepek ditawari beli kapal perang yang masih operasional dengan jumlah semaunya (kalo bisa bayar).
https://x.com/LembagaKERIS/status/1927075795249357257?ref_src=twsrc%5Egoogle%7Ctwcamp%5Eserp%7Ctwgr%5Etweet
Hihihihi.
@Tukang Ngitung stop berhalusinasi. Pak prabowo udh bilang kalo kiblat alutsista ke Barat.
Bicara tentang pesawat tempur dari China, baru-baru ini muncul rumor untuk AURI akan ada pengadaan 42 jet tempur J-10 (hopefully varian C) second hand yang akan diambil dari inventaris AU China. Kalo memang bener varian C berarti kita akan dapat yang seperti Pakistan punya yang menghajar Rafale India.
Trus ada lagi berita dari Tribun Perancis bahwa mungkin akan ada pengadaan tambahan 12 Rafale untuk Indonesia.
42+12 = 54
Nah duluuuu sekali mantan menhan Pak Purnomo bilang akan ada 180 jet tempur.
Nah coba kita hitung ya :
Ada 32 F-16 yang bisa terbang, 1 F16 yang kecelakaan dan hidungnya bengkok entah sudah diperbaiki atau belum, dan ada 6 unit F16 yang katanya untuk cadangan suku cadang.
Kita hitung yang 32 aja, yang bengkok hidungnya dan yang cadangan spare part tidak usah kita hitung.
54+32 = 86
Trus ada 16 sukhoi di skadron udara 11.
86 + 16 = 102
Lalu kita sudah pesan 42 rafale.
102 + 42 = 144
Lalu ada juga rumor kita akan beli mirage ex qatar sejumlah 12 unit, dulu dibilang batal tapi kemudian dibilang jadi. Kita anggap aja jadi beli.
144 + 12 = 156
Trus kita akan beli F-15EX sejumlah 24 unit.
156 + 24 = 180 unit.
Jadi pas tuh 180 unit.
Sukhoi Su-35 kita kesampingkan saja dulu karena belum tentu beli, kalopun beli cuma 6 unit doang untuk sparing partner latihan.
Nah yang menarik kemarin juga muncul pesan di eks punya lembaga pedang meliuk-liuk ada di situ angka misterius 2+4+50 padahal yang datang bukan sekelas presiden.
Apakah itu artinya:
2 tanker Y-20
4 aewc KJ-500
50 Jet tempur
Atau
2 lhd
4 destroyer
50 hubei class
Atau
2 kapal selam type 39
4 destroyer
50 hubei class
Atau
2+4+50 = 56
Saya berkhayal angka 56 itu adalah 56 miliar usd untuk pinjaman luar negeri dari China untuk akuisisi pertahanan. Ingat itu cuma khayalan saya lho, dari China belum tentu dapat pinjaman segitu besar. Kalo angka segitu sih saya kepingin setiap infanteri dapat 1 drone fpv, setiap regu senapan dapat peluncur anti tank dan setiap kompi dapat rudal manpads. Itu untuk 3 matra. Juga kendaraan amfibi ditambah. Tapi ingat itu cuma khayalan doang.
Hihihihi. Hihihihi.
Pakistan bisa jadi proxy China lawan India…dan uji coba produk pertahanan dari China…
dengan pl15 Rafale udah ketabok, dengan pl21 bisa² f-35 pun kegasak