Setelah 40 Tahun, Angkatan Udara Polandia Resmi Pensiunkan Jet Tempur Sukhoi Su-22 Fitter

Setelah 40 tahun pengabdian, pada 11 September 2025, Angkatan Udara Polandia (Siły Powietrzne) mengadakan upacara pelepasan dan penerbangan terakhir jet tempur Sukhoi Su-22 Fitter di Pangkalan Udara Mirosławiec. Dengan pensiunnya Su-22, maka Angkatan Udara Polandia hanya menyisakan MiG-29 Fulcrum di kelompok jet tempur peninggalan era Soviet.
Rencana awal adalah mempensiunkan Su-22 pada akhir tahun 2024, tetapi Angkatan Udara Polandia menggesernya sampai di bulan September ini. Su-22 adalah pesawat tempur era Soviet yang sudah tua dan mahal untuk dioperasikan serta dirawat. Meskipun telah melewati beberapa program peningkatan, pesawat ini dianggap tidak lagi relevan dalam peperangan modern.
Penarikan Su-22 akan digantikan oleh pesawat tempur yang lebih modern, termasuk FA-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan dan jet tempur generasi kelima F-35A Lightning II dari Amerika Serikat, yang akan tiba tahun depan.
Pensiunnya Su-22 menandai berakhirnya sebuah era di mana Polandia bergantung pada alutsista buatan Rusia. Saat ini, MiG-29 adalah satu-satunya jet tempur buatan Rusia yang tersisa dalam layanan aktif di Angkatan Udara Polandia, meskipun pesawat itu pun dijadwalkan akan pensiun dalam beberapa tahun mendatang.
Berdasarkan data historis, Angkatan Udara Polandia menerima total sekitar 110 unit pesawat tempur Su-22, yang terdiri dari 90 unit tipe Su-22M4 (kursi tunggal) dan 20 unit tipe Su-22UM3K (latih/dua kursi). Jumlah ini kemudian berkurang secara bertahap seiring waktu, hingga tersisa 32 unit yang masih aktif pada beberapa tahun terakhir, dan akhirnya hanya 12 unit yang masih layak terbang sebelum dipensiunkan pada September 2025.
Saat ini, kekuatan utama jet tempur modern Polandia terdiri dari F-16C/D Block 52+, FA-50 Golden Eagle, dan F-35A Lightning II (yang saat ini dalam masa pengiriman dan pelatihan).

Ada beberapa faktor utama yang membuat Su-22 menjadi jet tempur yang menarik dan mampu bertahan lama dalam layanan, seperti di Angkatan Udara seperti Polandia. Seperti sayapnya yang bisa disesuaikan, memberikan dua keunggulan utama pada kecepatan, sayap dapat ditarik ke belakang untuk penerbangan kecepatan tinggi dan supersonik, dan sayap dapat dibentangkan sepenuhnya untuk pendaratan dan lepas landas yang lebih pendek, bahkan dari landasan pacu yang kasar atau tidak beraspal, menjadikannya sangat fleksibel.
Su-22 dirancang dengan filosofi Soviet yang menekankan ketangguhan dan kesederhanaan. Pesawat ini dibangun untuk dapat beroperasi dalam kondisi lingkungan yang keras dengan perawatan yang minimal. Suku cadangnya juga relatif mudah dan murah dibandingkan jet tempur Barat yang lebih canggih. Hal inilah yang membuatnya menjadi pilihan logis bagi angkatan udara dengan anggaran terbatas.

Selain itu, Su-22 adalah jet tempur pembom, yang berarti dapat melakukan misi serangan darat maupun pertempuran udara. Kemampuannya untuk membawa muatan bom, roket, dan rudal yang beragam menjadikannya aset serbaguna.
Kombinasi dari desain yang kokoh, biaya operasional yang rendah, dan kemampuan multiperan inilah yang membuat Su-22 tetap relevan selama puluhan tahun, bahkan setelah teknologi jet tempur telah berkembang pesat. Ini adalah bukti dari desain orisinalnya yang efektif dan praktis.

Sukhoi Su-17, yang merupakan basis dari varian ekspor Su-22, melakukan penerbangan perdananya pada 2 Agustus 1966. Varian Su-22 sendiri kemudian mulai diuji coba dan diproduksi setelahnya.
Su-22 dirancang oleh Biro Desain Sukhoi (Sukhoi Design Bureau) dan diproduksi secara massal oleh Komsomolsk-on-Amur Aircraft Plant (KnAAPO) di Uni Soviet. Total produksi dari seluruh keluarga pesawat Su-17/20/22 sangat masif, mencapai sekitar 2.867 unit dari berbagai varian. Jumlah ini menjadikannya salah satu pesawat tempur taktis dengan produksi terbanyak di era Perang Dingin. (Bayu Pamungkas)
Lockheed Martin Luncurkan Unit Perdana Jet Tempur Stealth F-35A “Husarz” Pesanan Polandia



bentuk roket podnya cantik….
Mig-21, SU-22 dan MIg41 bentuk nya mirip mirip.