Saab: Satu Tahun Setelah Kontrak, Jet Tempur Gripen Sudah Bisa Dikirim ke Indonesia

Saat muncul kabar KnAAPO baru dapat memenuhi pesanan Sukhoi Su-35 Indonesia mulai tahun 2018, publik di Tanah Air jadi terhenyak, sebab deployment jet tempur multirole asal Rusia ini bakal membutuhkan waktu yang amat panjang. Di tahun 2018, KnAAPO pun hanya bisa mengirim dua unit Su-35 ke Indonesia. Sehingga bila kontrak dan sistem pembayaran lancar, total 10 unit Su-35 baru akan diterima lengkap pada tahun 2020 – 2022. Sebuah rentang waktu menunggu yang lumayan panjang.
Indonesia memang harus pasrah diurutan buncit dalam proses produksi, mengingat KnAAPO kini sedang fokus memenuhi produksi Su-35 pesanan Cina dan Dalam Negeri Rusia. Ditambah, proses penandatanganan kontrak sampai tulisan ini belum juga dilakukan antara Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dengan pihak Rusia, tentu tanpa dasar kontrak maka proses produksi belum bisa dijalankan. Kabarnya di pertengahan April ini delegasi Kemhan RI akan bertandang ke Moskow, Rusia, yang kemungkinan terkait proses kontrak tersebut.

Baca juga: Menerawang Plus Minus Sukhoi Su-35 Super Flanker Untuk TNI AU
Waktu tunggu yang cukup lama, plus Sukhoi Su-35 yang juga lebih dulu dioperasikan oleh Cina, menjadikan kehadiran penempur twin jet ini kurang greget lagi. Disisi lain, TNI AU selaku operator membutuhkan pesawat tempur dengan kemampuan taktis/strategis dalam waktu tunggu pembelian yang tak terlalu panjang. Panjangnya waktu tunggu pesawat tempur, juga berimbas pada efek deteren, jika hari ini suatu alutsista disebut sangat canggih, maka tiga atau empat tahun lagi efek deterennya akan menurun, mengingat akan muncul temuan dan terobosan teknologi senjata yang lebih baru lagi. Ujung-ujung kekuatan udara nasional tidak akan ter-cover secara maksimal disaat yang tepat.

Baca juga: PIRATE – Penjejak Target Berbasis Elektro Optik di Eurofighter Typhoon dan JAS 39 Gripen
[the_ad id=”12235″]
Dikesempatan lain, Magnus Hagman, Campaign Director Gripen and Airborne System Saab Asia Pacific, membuat pernyataan penting, “Satu tahun setelah kontrak pembelian, maka unit Gripen sudah bisa mulai dikirim ke Indonesia.” Dalam dokumen Indonesia Gripen update yang kami terima kemarin malam (5/4/2016), Gripen juga menyebut akan mendukung program smooth transition dan pelatihan bagi pilot serta awak teknisi TNI AU. Diharapkan nantinya jet segera dapat beroperasi penuh dan mampu menjalankan misi-misi tempur yang dipercayakan.
Saab saat ini juga tengah memproduksi Jas 39 Gripen pesanan dari Brazil dan AU Swedia. Jet tempur single engine ini telah digunakan di enam negara, selain Swedia, operator Jas 39 Gripen adalah Republik Ceko, Hungaria, Afrika Selatan, Inggris, dan Thailand. Masuknya Gripen lewat Thailand, dipercaya jadi fondasi yang kuat dalam pemasaran jet ini di kawasan Asia Tenggara, setidaknya terbukti jet asal Skandinavia ini juga cocok beroperasi atmosfir tropis Asia.
[the_ad id=”12235″]
Dalam catatan, selain bekal kecanggihan sistem sensor kendali/navigasi dan skema ToT (Transfer of Technology), ada beberapa poin yang menjadi value added dalam penawaran Gripen untuk Indonesia, diantaranya adalah:
1. Sistem senjata
Meski bukan bagian dari anggota NATO, jet Gripen dirancang untuk dapat menggotong hampir semua sistem senjata (rudal dan roket) keluaran terbaru, baik buatan AS dan Eropa Barat. Berarti bisa kompatibel dengan bekal senjata yang dipersiapkan untuk jet F-16 A/B C/D TNI AU.
2. Operational Cost per Hour
Dengan basis single engine dan penggunaan mesin modern General Electric yang efisien, maka Jas 39 Gripen punya operational cost per hour yang paling rendah dibanding kompetitornya. Estimasinya adalah US$3.000 – US$4.000 per jam.
3. Combat radius
Dengan kecepatan maksimum Mach 2 (2.204 km/h), Jas 39 Gripen C/D punya combat radius hingga 800 km, khusus untuk misi air battle operation, combat radiusnya mencapai 100 km. Combat radius tentu tak bisa dipukul rata, berbicara tentang ini tersebut akan bergantung pada konfigurasi persenjataan yang dibawa pesawat dalam suatu misi, semisal misi CAP (combat air patrol) dan ground attack pasti membawa konsekuensi berbeda pada performa pesawat. Kemudian soal kapasitas bahan bakar yang dibawa, apakah jet tempur membawa drop tanks atau conformal fuel tanks. Kesemua ramuan tersebut bila dikalkulasi akan membawa perhitungan yang berbeda tentang combat radius.

Baca juga: Melihat Skema Combat Radius (Calon) Jet Tempur Baru TNI AU
4. Gelar Tempur ke Pangkalan Aju
Meski telah dilengkapi fasilitas air refueling system, kemampuan untuk mudah di deploy pada pangkalan aju tetap menjadi perhatian penting, khususnya bagi negara dengan wilayah luas, dan minim dukungan pesawat tanker udara.
“Kami dapat men-deploy satu skadron Gripen hanya dengan dukungan satu unit C-130 Hercules,” ujar Magnus. Dukungan satu unit Hercules untuk 10 unit Gripen bisa berlangsung untuk waktu empat minggu. Hal ini menegaskan bahwa Gripen sebagai jet tempur yang ekonomis dari sisi dukungan logistik.

Baca juga: Gelar Satu Skadron Gripen Ke Pangkalan Aju, TNI AU Hanya Butuh Satu C-130 Hercules

Spesifikasi Gripen yang low cost operation, plus mampu mendarat di jalan raya yang tidak terlalu lebar, bahkan di landasan yang tidak beraspal, menjadi poin menarik untuk Indonesia yang kerap terkendala urusan budget operasi pertahanan. Terkait take off and landing, Gripen NG mampu lepas landas di runway sepanjang 800 meter, canggihnya lagi untuk mendarat hanya butuh 500 meter dengan dukungan canard sebagai air brake. Dalam waktu singkat, Gripen didapuk dapat mendarat di hampir semua pangkalan aju TNI AU, tentunya termasuk di Lanud Ranai, Natuna. (Haryo Adjie)



jarak jangkau gripen sesungguhnya adalah 4200 KM pake drop tank. batch pertama bisa datang banyak, ToT nya bukan bohong, mudahan pemerintah indonesia membeli gripen ng ini.
lets move on from su 35 to Gripen NG
long life Gripen-indonesia mandiri
jarak jangkau gripen sesungguhnya adalah 4200 KM pake drop tank. batch pertama bisa datang banyak, ToT nya bukan bohong, mudahan pemerintah indonesia membeli gripen ng ini.
lets move on from su 35 to Gripen NG
long life Gripen-indonesia mandiri
saya lebih memilih gripen ketimbang su 35. walaupun single engine, tapi hampir persenjataan bisa digotong sama gripen, murah belinya , murah biaya operasionalnya, mudah menanganinya. beli gripennya tipe NG nya 2 skuardron sekaligus
Su-35 kemungkinan dibatalkan
http://indonesia.rbth.com/news/2016/10/28/indonesia-kemungkinan-batalkan-pembelian-su-35_643109
RBTH adalah media Resmi milik Pemerintah Rusia
Range 800 km jadi PP 400 km. sehingga perbanyak Lanud ato Tangker dong………. Mahal di SDM Lanud dan beli Tangkernya…..
Artikel yang menarik bung Admin.
Stuju dengan pandangan teman-teman, bahwa payung udara Indonesia harus diisi oleh alutsista yang mumpuni, tapi pas dikantong dalam gelarannya plus menuntun “Kemandirian”.
Tapi melihat anggaran yang pas-pasan seperti sekarang, bila misal paket pertahanan udara dari SAAB (Pespur, Peringatan dini, data link) diambil, mungkin paketnya ngeteng plus nanggung. SU-35 saja yang terakhir cuma mau ngeteng 10-12 aja.
apa dengan kuntitas yang seperti itu kita bisa memperoleh ToT yang memadai? Ngak ada makan siang yang Gratiskan?
Andai dulu F-16 hibah itu dananya dialihkan untuk Gripen plus dana buat pembentukan skuadron baru juga kesana, mungkin saat ini kita tergabung dengan Swedia dan Brazil dalam trek pengembangan NG.
Catatan juga bila Gripen ini kita ambil, akan ada akses ke teknologi buat KF-X yang selama ini jadi kendala plus akses ke rudal Meteor yang menjadi salahsatu rudal rudal udara ke udara terbaik saat ini yang kedepan bisa memungkinkan diinstal ke KF-X..
Andai saja ya min…
Memang dilema khas Indonesia, banyak rencana strategis yang saling tidak “terkoneksi” untuk kebutuhan masa depan.
untuk pilihan SU-35 mungkin OK lah sebagai penyeimbang kekuatan pemukul dari tetangga-tetangga usil (F-15 Singapur, F/A 18 Hornet dan Super Hornet Malay & Australia, dan SU-30 MKM) plus rencana merapatnya si siluman penuh masalah F-35 ke tetangga selatan dan mungkin ke Singapura.
Tapi yang masih mengganjal adalah skema hibah F-16 yang sekarang masih belum tuntas pengirimannya plus banyak masalah mengganjal dan tanpa ToT.
Semoga KF-X segera mengudara sehingga walaupun kelasnya mungkin masih dibawah F-35 dan kemampuanya pun tak lebih dari F-15, tapi buatan sendiri. Sehingga urusan service dan up grade bisa dilakukan lebih effektif.
karena yang mahal itu ilmunya.. Segarang dan sehebat apapun alat yang kita miliki, tak akan maksimal bila statusnya masih sekedar “Beli”. Seperti saudi Arabia yang peralatannya full up to date tapi hanya jadi pembeli, tidak menimbulkan efek signifikan, beda dengan Iran yang berhasil belajar mandiri, sampai AS pun berfikir ratusan kali untuk menyerangnya.
Kalo saja Admin yang jadi pemegang kekuasaan dan otoritas penanggung jawab soal alutsista di negri ini, mungkin road map pembangunan militer akan lebih terarah.
Jayalah NKRI.
Thailand juga beli gripen nyicil kok bung
Yaitu 6 unit Gripen C/D + 2 AEWC
Meskipun menyicil Thailand sangat berbangga, dan bisa berbangga diri karena Angkatan udaranya tercanggih di Asia Tenggara dengan biaya sangat murah terutama Biaya Operasinalnya
Itu karena sudah tersambungnya “Network Centric” dinegaramya karena ada ToT dari SAAB
sekarang ditambah lagi 6 unit Gripen C/D lagi
dan Ada Rencana beli Gripen E/F
efek gentar yang sebenarnya. bukan sekedar bongsor
Pembelian alutsista model resim orba harus di evaluasi barang rongsokan berharga baru itu fakta broo …liat pesawat tucano di belli kosongan tanpa radar jatuh di investegasi hanya dari pihak menhan dari pabrican brasil tidak boleh ikut alias di tutupi buat melindungi resim si pembelli demokrat itu kan anehh …pesawat tni berjatuhan menhan malah terheran heran tidak tahu ..kan ga masuk akal perang enggak pesawat tni jatuh hampir saban hari makan korban tidak sedikt di investegasi hasil nihill itu adanya hanya di indonesia broo…
Kalo melihat situasi sekarang baiknya indonesia mencari pesawat cadangan sembari menunggu su35 datang..kalo saya sendiri sih lebih condong ke gripen..pesawat baru..senjata dri f16 kita compatible ke gripen,dan nilai paling penting cost fly dan konsumsi bahan bakar sangat irit..pluuuss..nih pesawat bisa mengisi lanud2 kecil yang ada di indonesia dan mengcover sejumlah area(terbatas)..meski radius terbang ngga sejauh sukhoi..
Jadi inget group KMP di DPR
Ternyata banyak yang blom pada MOVE-ON soal pengganti F5
nasib lu dah coy..!
emang kayaknya pembelian sukhoi cuma dilandasi nafsu petinggi mioiter kita saja. tendernya pun kayak ga serius dan seperti tidak membahas tentang Tot yang dimata saya lebih penting dibandingkan pesawat itu sendiri. salah belinya cuman 8 lagi. bau busuk korupsi udah mulai tercium
Sejak dulu pembelian Sukhoi berbau Korupsi
Katannya G to G
Ternyata ada pihak ke-4
Rosoboronexport sudah mendirikan wakilnya di Indonesia
tapi ada PT. Trimarga Rekatama, setelah di telusuri petingginya adalah mantan………………………………..
hasilnya Su-27/30 kita hanrganya SAMA dengan Su-30MKM milik Malaysia
Padahal Su-30MKM jauuuuuh lebih canggih dan lebih lengkap
Kalo ada bukti mending laporin aja ke kpk bro biar semua jelas,tp kalo masih asumsi pribadi mending gak usah ngomong bro daripada jadi fitnah,darimana situ tau punya malaysia lebih bagus dr punya kita emang situ pernah nyoba dua2nya ato pernah ada yg bongkar keduanya trs diperbandingkan??kalo memang pernah ada tlg buka aja disini biar sy yg awam ini tau,dan kalo bisa data korupsinya itu bro biar nanti kalo situ gak berani lapor biar sya yg lapor ke kpk.
ini berita lama bro, sekitar tahun 2012, kalau bukti sudah ada di ICW, komplit, sudah sampai di tangan KPK, namun KPK terganjal oleh birokrasi yang menghadang di dephan dan TNI
Korupsi di Indonesia adalah mudah dideteksi, tinggal bandingkan saja dengan pembeli lain pasti akan kelihatan, dalam hal ini Su-30MKM jelas sangat mencolok sekali
KPK Vs Polri kemarin “dibantai”
KPK Vs TNI pasti jadi RIP (Rest in Peace)
Maaf bro @sutti bukanya pura2 buta tp menurut saya kalo blm terbukti bersalah menurut hukum dan belum ada putusan bersalah dr hakim sebaiknya kita tidak perlu menghakimi siapapun itu,menurut saya pembelian alutsista banyak kerahasianya bro mungkin ada beberapa tambahan dlm penjualan yg tidak diungkap ke publik yg membuat seakan akan kt beli kemahalan dgn speck apa adanya,kalo perbandingan speck dan kemampuan masih menurut media saya blm percaya bro karena saya yakin gak semua jeroan su30 kita di publikasikan ke media kecuali kalo sudah head to head su 30 kita lawan su 30mkm trs punya kita rontok semua baru ane yakin.Tp saya juga setuju kalo pembelian alutsista di lakukan secara terbuka biar jauh dari tuduhan korupsi.
rahasia itu bahasa nya koruptor bro
koruptor itu paling benci disadap/dilihat
semboyannya “ssttt…jangan sampai orang lain tahu”
Su-30MKM jelas diatas Su-30MK2
SIPRI (LSM sipil) saja tahu, tipe dan jumlah barang TNI, apalagi Intelejen Militer Negara lain bro, jauh lebih tahu dan lengkap
Jadi istilah “rahasia” disini untuk siapa ??
Orang awam Indonesia macam anda kah ?
Pembelian Malaysia jelas lebih lengkap
Kalau anda tidak percaya, silahkan itu hak anda
ngak ada hubunganya dengan head to head bro
Anda mulai ngelantur kemana mana
kita disini bicara jual-beli
Saya setuju kalau dengan pernyataan anda, kalau anda itu buta dan awam
@halilintar
Mantan apa brur….sebutkan…udah gak sabar nih pengen tahu?
Tapi bukan mantannya sinta bachiiin kan…..heeeeee
Kalau pembelian su 35 di tikung di tegah jalan berarti ada penghianatan dari dalam …anehh pembelian f16 bekas gurun arizona sudah 5 tahun lamanya tidak di kirim biasa ajaa malah pak menhan pilihan partai pura 2 tidak tahu …pembelian su 35 di undur undur segaja cari masalah supaya menhan besutan resim orba punya alasan kuat megalabui rakyat indonesia buat ke pentingan kroni antec sekutu ….kita sarankan buat president pilahan rakyat menhan dan petinggi tni di evaluasi supaya ancaman kudeta di tegah jalan sirna .
KenArok: justru pembelian Su-35 itu yang harusnya dipertanyakan, mengapa dilakukan tanpa tender dan langsung ke penunjukan? Itu saja sudah ada ketentuan yang dilanggar, belum lagi soal kejelasan tentang detail ToT yang masih belum jelas seperti apa.
Gripen bisa apa kalo di beli indo ?????
Wong tetangga kiri kanan pake f35
Daripada mubajir mending sales2 tawarin barang yg lain deh
Toh bulan ini menhan mau liburan ke rusia..wkwk
Hati hati banyak antek2 asing yg gak mau militer indonesia kuat..
SU-35 IS THE BEST
@Ken Arok
@Poni Man
Rusia itu apa bukan orang asing bung ????
Aneh kamu ini……………………………..
KFX/IFX baru bukan orang orang asing
MADE-IN INDONESIA
Memakai komponen BARAT
Rusia sangat pelit ToT, mereka maunya UANG
memanfaatkan fobia EMBARGO untuk menghabisi uang Indonesia
Kata siapa tanpa tender mas….itu si Rafale,gripwn sm angin topan pd unjuk Gigi sales2 nya di mari ngapain klo ga buat ujuk kemapuan,sekalian menghadirkan tender mas….tender itu apalagi alutsista vital sifatnya bs tertutup dan bs terbuka…liat pengadaan oerlikon apa terbuka dan d beritahu kekita?
Alesan pemerintah menunjuk SU-35 sdh d jelaskan d beberapa media,soal TOT berbagai macam bentuk nya cb sampean cek perusahaan dirgantara Rusia yg akan kerja sama dng PT DI nanti selepas TTD kontrak SU-35.
@Du2nk
Masih akan, ngak ada konsep yang jelas
Kalau versi SIPIL kita sudah ahli
Ada PT. DI dan PT. RAI (Regio Aviasi Industri)
Kita juga sdh kerjasama dengan AIRBUS dan BOEING
yang sudah jelas sangat laku dipasaran
Kalau RUSIA
paling kita dijadikan Sales Superjet yang nabrak gunung kemarin
ngak laku lagi
kita butuh teknologi MILITER
Rusia Ogah Ogahan kalau teknologi militer
Maap2 ya temans, bulan ini menhan udah siap2 ttd ke rusia
sebaiknya temans buru2 pada promo Medium SAM barat aja deh,
mumpung blom di salip BUK Minah…..ayoo promo..!! wakwakwaaaak!!
aaaaahh orang JKGR lagi, ngomongnya ngak bermutu
mantab artikel nya min……. ni pesawat boleh juga apalagi bila didukung AEWC nya..
BTW ulas juga pasukan khusus indonesia berikut misi2 nya dimasa lampau donk min….
Terima kasih @BangJoe, memang Saab dalam peketnya menawarkan sistem radar airborne EriEye, seperti yang sudah diadaptasi oleh Thailand dan Brazil.
pilihan paling realistis dan masuk akal. dan pastinya berkesinambungan dan lebih mudah diintegrasikan dengan berbagai alutsista yang sudah ada
Umpama KEMHAN/TNI AU beli gripen untuk mengganti skuadronnya macan tua home basenya tetap di IWJ AFB atau pindah lanud lain ya ?
idealnya disebar di lanud lain. El Tari, Juwata dan Ranai adalah lanud-lanud yang cocok menjadi home-base pespur ini karena posisinya strategis
Mestinya sih mengacu ke homebase Skadron 14, yaitu di Lanuma Iswahjudi. Tapi toh untuk men-deploy pesawat jenis ini bisa dengan mudah digerakan ke lanud2 lain.
Gripen itu paling masuk akan untuk kondisi Indonesia saat ini (kita lebih butuh anti-maling yg rutin terbang dengan dana pas2an).
Dan lagi versi C/D ini, selain udah digunain Thailand, bisa diupgrade ke E/F.
Jika bisa dioperasikan dari Lanud Ranai dgn kondisi sekarang, maka jet ini paling efektif sebagai pengawal Natuna. Bahkan bisa air refueling dari tanker hercules yg udah kita punya. Sesuatu yg jd kekurangan F-16 kita sampe saat ini!
@admin
Salah satu artikel di majalah Angkasa menulis bhw menurut tni au (dalam tender pengganti F-5), radar aesa tidak menjadi kriteria prioritas krn potensi ancaman bg Indonesia kecil.
Lha itu KFX/IFX ngebet banget pake radar aesa,,,,njur karepe pak marsekal itu opo to oom?
Kok kayaknya jauh-jauh hari sdh ngarahin ke merek tertentu…parameternya kurang terukur (tidak seperti tender mrca india yang mencantumkan dg jelas kriteria pespur yang dibutuhkan). Yang penting bisa memberikan “Efek Getar”…???
Pd artikel yang berbeda, pangkohanudnas mengungkapkan kriteria pespur idamannya, dg konsep “dispersed basing”, yg luwes digerakkan dipangkalan aju dg dukungan terbatas dan akan digelar di 7 pangkalan aju dilokasi terluar dan rawan Black flight (diluar lanud utama yang sudah ada)
Dua pernyataan dr petinggi tni au tsb tdk sinkron dan kalo diteruskan berjalan sendiri-sendiri nggak akan pernah tercapai cita-cita utk merampingkan jenis alutsista.
Mengenai perbedaan sikap dan kebijakan antara pimpinan lama dan pimpinan yang baru memang sudah kerap terdengar, ya itulah citarasa negara berkembang 🙂 Sebelumnya juga ada perbedaan di level pimpinan lama dan baru di TNI AL, yang berdampak mandegnya program KCR Klewang Class.
@admin 1
Mengenai klewang sy pny pandangan yang berbeda oom…
Material Carbon-Komposite/CK sdh terbukti keunggulannya (dipakai pd visby, kamorta&opv terbaru singapur)…namun material CK mempunyai watak “bawaan lahir” yang cukup membuat jeri petinggi AL.
Bahan CK memiliki titik didih yang lebih tinggi namun setelah terbakar sifat kekakuannya/stiffnes lebih rendah dibanding baja.
Jika keduanya dibakar scr bersama2, baja akan lebih dulu terbakar dibanding CK…namun stl sama2 terbakar, CK akan collapse/runtuh/lumer dg sgt cepat (spt keruntuhan gedung WTC), sementara material baja masih tetap kokoh berdiri.
@admin 2
Karakter CK tsb tetap bisa dikendalikan…ibarat gedung pencakar langit yang harus bisa mengendalikan kebakaran scr mandiri sedini mungkin sebelum api-nya tdk terkendali. Kapal berbahan CK sgt mengandalkan sistem “Damage control/DC” utk menjamin keselamatan kru dan perangkat didalamnya. DC terdiri dari sistem pemantauan dan penanganan kebakaran/ledakan/guncangan yang terintegrasi dan dibuat scr redundan/berlapis yang terdiri dari banyak sensor api, cctv, sistem pemadaman api yang terintegrasi shg memberikan waktu yang sangat ketat bagi kru kapal utk berekasi.
Karakter kapal berbahan DC ini tampaknya dianggap terlalu “rewel/delicate”, bahkan petinggi AL lsg meminta lundin mengganti material kapal ketika klewang I terbakar habis.
Bahkan kalo standar kapal Visby & Oksoy class diadopsi dg benar…utk mempertahankan bobot kapal tetap ringan, maka seluruh kable tembaga diganti dg fiber optik dan semua pipa S/S diganti dg bahan titanium.
Bahkan lagi, kompartemen mesin harus diselubungi/berbahan metrial insulasi yang sangat2 tahan api dan didukung dg sistem pemadam api (halotron hi-fog watermist).
Ada satu lagi…komponen “water propulsor” yang juga terbuat dari bahan CK (dibuat oleh grup Kamewa di dubai: dsn byk dipakai utk yatch mewah), diproduksi secara customized, shg jika terjadi kerusakan dijamin kapalnya akan mangkrak di dok smp barangnya selesia dibuat.
Hanya untuk sebuah FAC, “saat ini” karakter dan konsekuensi bahan CK sangat mungkin dianggap terlalu “WAH” bagi TNI AL
infonya luar biasa lengkap.. mantab mas 🙂
@admin 3
Kram jari obatnya apa ya oom…???
@admin 4
Sekarang ttg aspek perencanaannya:
Terhentinya project klewang adl contoh lemahnya aspek perencanaan dlm pengadaan alutsista. Aplikasi desain CK/stealth dlm platform trimaran utk aplikasi militer adl yang pertama didunia. Tapi masalahnya bukan disitu,,,sampai klewang I habis terbakar, tyt AL “belum menentukan” jeroan apa saja yang akan diinstal ke FAC Klewang.
Disini letak titik krusialnya, dg desain bodi CK dan hull trimaran, konsep ini mengunggulkan faktor bobot total yang ringan (<100 ton), kemampuan sea keeping yang baik pd ombak besar dan mampu mencapai kecepatan&endurance yang lebih baik.
Dg bobot yang cukup ringan serta luas kompartemen yang terbatas maka kapal klewang memandatkan/membatasi bobot serta ukuran jeroan yang akan diinstal. Sensor, persenjataan serta CMS yang digunakan "harus ringan dan berdimensi ringkas".
Ketika AL belum mampu mengambil keputusan, justru disinilah masalah ini berawal. Pihak Lundin, kesulitan utk menentukan spesifikasi/perfomance yang akan ditawarkan, karena kapal ini hanya memberikan "marjin bobot" yang terbatas, shg bila dipaksakan dg jeroan yang melampaui "marjin bobot" yang ada, maka akan mempengaruhi perfomannya,,,entah mengurangi kecepatan maksimalnya, mengurangi jarak jangkaunya, atau kedua2nya sekaligus.
Hingga akhirnya SAAB muncuk sbg penyelamat dg memberikan asistensi dlm penyempurnaan material CK serta menawarkan product range (sensor, senjata, cms) yang lengkap dan sesuai dg "marjin bobot" yang disarankan…tampaknya baru disadari, kedatangan produk SAAB tsb tidak pernah masuk dlm perencanaan sebelumnya, dan berpotensi tumpang tindih/tabrakan dg alutsista buatan cina yang direncanakan dipakai pd semua tipe KCR.
Mungkin dari segi harga juga melampaui anggaran yang tersedia……………sempurna sudah !!!!!
setuju sekali dengan analisa Anda 🙂
Mas @Lesus, analisanya bagus sekali, coba dikemas jadi artikel, nanti bisa dimuat disini 🙂
wah gimana mau backup? budget aja pas2an. Udah lah memang kalau mengedepankan logika, Gripen lebih cocok buat Indonesia, entah ya kalau beli dengan emosi.
setuju, temanteamn di Indomiliter, gripen juga ok….
Jadi ini udah deal atau baru pernyataan penawaran jk RI beli grippen bisa dikrim dlm 1 tahun ?
Tentunya baru dalam penawaran 🙂
kebiasaan di Indonesia “penawaran = tahap produksi” “deal = barang sudah ditembat” hehehe
sambil nunggu su 35 beli gripen boleh juga
Bisa untuk backup…. bentuk skuadron baru pake gripen