Rudal Meteor di Su-30MKI IAF: Senjata Baru India Dominasi Udara Jarak Jauh

Rudal Meteor

Setelah beberapa waktu yang lalu ramai diberitakan soal pembetukan “Su-30 Forum” antara TNI AU dengan Indian Air Force (IAF) pada Oktober 2025 kemarin, warganet kini mulai memusatkan perhatian pada program modernisasi ambisius India melalui program “Super Sukhoi” untuk menjaga jet tempur andalan mereka tetap relevan di tengah persaingan teknologi, serta upaya kerja sama internasional.

Baca Juga: Lanjutkan Uji Coba Mesin Kaveri, India Gunakan Sukhoi Su-30MKI Sebagai Flying Testbed

Melalui program “Super Sukhoi” tersebut, India hendak memadu-padankan sekitar 150 unit Su-30MKI yang mereka miliki dengan Europe’s Meteor Long-Range Missile atau Rudal Meteor. Lalu, mengapa penggabungan dua entitas ini dinilai menyeramkan dan mendapatkan perhatian dari publik?

Pengintegrasian Rudal Meteor pada jet tempur Su-30MKI dianggap “menyeramkan” karena gabungan ini menyatukan dua keunggulan yang sebelumnya tidak dimiliki oleh masing-masing platform, menghasilkan kemampuan tempur udara-ke-udara jarak jauh yang sangat mematikan.

Rudal udara-ke-udara jarak jauh tradisional Rusia (seperti R-77) yang dibawa oleh Su-30MKI memiliki kelemahan utama, yaitu: kinetik yang menurun; sebagian besar rudal Rusia mengandalkan pendorong roket padat yang tidak dapat diatur (non-throttleable). Ini berarti rudal akan kehilangan kecepatan (energi kinetik) secara signifikan pada fase akhir serangan (endgame) di jarak yang sangat jauh.

Di sisi lain, rudal Meteor menggunakan mesin Ramjet (Throttleable Ducted Rocket) yang memberikan daya dorong berkelanjutan hingga titik intersepsi (ruang di mana rudal diprogram untuk bertemu dan menghancurkan targetnya). Ini memastikan rudal mempertahankan kecepatan supersonik yang tinggi bahkan pada jarak ekstrem. Menyoal kecepatan, Rudal Meteor Mampu mencapai kecepatan hingga Mach 4 atau lebih, mengalahkan rudal jelajah seperti Tomahawk atau Exocet.

Dengan Sistem Pencari (Seeker) Buatan Dalam Negeri, India Sukses Uji Tembak Rudal Astra dari Jet Tempur Sukhoi Su-30MKI

Ditambah lagi, ramjet ini memberikan Zona Tanpa Lolosan (No-Escape Zone/NEZ) yang jauh lebih besar daripada rudal pesaing mana pun. Dengan kata lain, Rudal Meteor memiliki jangkauan kinetik yang mematikan, di mana target tidak bisa melarikan diri hanya dengan bermanuver.

Dengan integrasi rudal Meteor, Su-30MKI milik IAF bisa berubah dari jet tempur yang unggul dalam manuver jarak dekat menjadi “Force Multiplier” yang dominan dalam pertempuran jarak jauh. Kombinasi ini efektif menciptakan ancaman udara-ke-udara jarak jauh yang sebanding dengan jet tempur Barat terkemuka.

Sedikit merinci daya gempur dari Rudal Meteor sendiri, jenis hulu ledak dari rudal ini adalah High Explosive Blast-Fragmentation yang mematikan. Belum lagi kombinasi dua jenis pemicu untuk memastikan kehancuran total target: Pemicu Proximity (rudal meledak secara otomatis pada jarak optimal dari target, memaksimalkan efek serpihan) serta Pemicu Impak (rudal meledak saat terjadi benturan langsung dengan target).

Selain program “Super Sukhoi” yang diusung IAF, diketahui Rudal Meteor juga pernah atau tengah diintegrasikan dengan beberapa jet tempur terkenal; seperti Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, Saab JAS 39 Gripen hingga Lockheed Martin F-35 Lightning II dan KF-21 Boramae milik Korea Selatan. (Nurhalim)

Bikin Yunani Geram, Ini Tanggapan Perancis Terkait Permintaan ‘Veto’ Penjualan Rudal Meteor ke Turki

7 Comments