Radar Quantum Cina: Pemburu ‘Siluman’ yang Berpotensi Mengubah Medan Perang

Apa yang sedang dikembangkan Cina telah menarik perhatian dunia: sebuah teknologi revolusioner yang dikenal sebagai Quantum Radar. Sistem radar ini menggunakan prinsip-prinsip fisika kuantum yang canggih, seperti belitan kuantum dan deteksi foton tunggal, untuk mengatasi keterbatasan radar konvensional. Klaim utamanya adalah kemampuannya untuk mendeteksi dan melacak pesawat tempur siluman (stealth fighters), seperti F-22 dan F-35 AS, yang selama ini dianggap tak terlihat. Inovasi ini menandai pergeseran signifikan dalam teknologi pertahanan udara modern.
Baca Juga: Tandingi F-35C, Cina Klaim Shenyang J-35B Punya Tanda Radar Sekecil Telapak Tangan
Pengembangan utama dipimpin oleh lembaga-lembaga penelitian Cina, terutama China Electronics Technology Group Corporation (CETC), melalui unitnya seperti Intelligent Perception Technology Laboratory of the 14th Institute. Institusi-institusi ini bekerja di bawah naungan pemerintah Cina, menjadikan proyek ini sebagai prioritas strategis nasional. Para ilmuwan Cina mengklaim bahwa sistem purwarupa mereka telah berhasil dalam uji coba lapangan, menunjukkan keunggulan Cina dalam perlombaan teknologi kuantum global.
Meskipun penelitian kuantum telah dilakukan selama bertahun-tahun, pengumuman signifikan pertama mengenai prototype Quantum Radar Cina terjadi pada September 2016. Pada saat itu, CETC mengklaim telah menguji sistem radar kuantum foton tunggal dengan jangkauan deteksi hingga 100 kilometer. Sejak saat itu, pengembangan terus berlanjut, dengan fokus pada miniaturisasi, peningkatan jangkauan, dan persiapan untuk produksi massal, menunjukkan keseriusan Cina dalam mengintegrasikan teknologi ini ke dalam pertahanan mereka.
The Chinese 🇨🇳researchers have claimed mass-production of a quantum entanglement-based ‘single-photon detector’, a core component of a quantum radar tech system. They claim this new component would enable even the weakest energy signals to be isolated and detected. pic.twitter.com/ypzUjSr1hd
— Hiro Mizuno (@hiromizuno258) October 17, 2025
Pengembangan teknologi kuantum secara umum terkonsentrasi di pusat-pusat penelitian teknologi tinggi, dengan Nanjing menjadi lokasi penting bagi CETC. Selain itu, pihak Cina telah banyak berinvestasi dalam infrastruktur penelitian kuantum di berbagai kota besar, seperti Hefei, yang dikenal sebagai “Silicon Valley Kuantum”. Keberhasilan pengujian seringkali dilaporkan dilakukan di lingkungan nyata, seperti di atas laut, untuk memvalidasi kinerja sistem terhadap target maritim dan udara.
Lalu, apa yang melandasi Cina bisa sangat fokus mengembangkan Quantum Radar? Alasannya terkait dengan kesiapan perang di masa mendatang dan sebagai salah satu strategi pertahanan. Pesawat siluman AS, seperti F-22 dan F-35, merupakan ancaman utama bagi Cina. Dengan menghilangkan kemampuan siluman pesawat-pesawat ini, Cina dapat secara drastis meningkatkan efektivitas sistem pertahanan udaranya dan membatasi keunggulan taktis lawan. Pembangunan Quantum Radar adalah bagian dari upaya Cina untuk mencapai kesetaraan atau bahkan superioritas militer teknologi (teknologi counter-stealth).
Hubungan pembangunan radar ini dengan AS bersifat langsung dan kompetitif. Investasi besar AS dalam pesawat siluman telah membentuk tulang punggung proyeksi kekuatan udaranya di Pasifik. Quantum Radar Cina secara efektif dapat mengandaskan investasi triliunan dolar AS dalam teknologi siluman, yang dianggap Washington sebagai game-changer.
Quantum Radar bekerja sangat berbeda dari radar tradisional, yang bergantung pada seberapa banyak gelombang radio yang dipantulkan kembali oleh target. Radar kuantum menghasilkan pasangan foton yang terbelit secara kuantum; satu dikirim dan yang lain disimpan. Ketika foton yang dikirim berinteraksi dengan pesawat siluman, bahkan hanya sedikit pantulan atau perubahan pada properti kuantumnya dapat dideteksi dan dicocokkan dengan foton yang tersimpan.
🚨🇨🇳🇺🇸 BREAKING: CHINA has begun MASS PRODUCTION of new QUANTUM RADAR that will make U.S. stealth jets useless pic.twitter.com/66KFST4t7n
— Legitimate Targets (@LegitTargets) October 19, 2025
Teknologi ini mampu mengatasi dua tantangan utama radar konvensional terhadap pesawat siluman: Pertama, pesawat siluman menggunakan material penyerap radar untuk mengurangi pantulan gelombang; Quantum Radar hanya membutuhkan deteksi satu foton tunggal yang kembali. Kedua, pesawat siluman sering mencoba memalsukan sinyal balasan; namun, karena fenomena kuantum tidak dapat diduplikasi dengan mudah (No-Cloning Theorem), radar kuantum dapat membedakan antara pantulan asli dan sinyal palsu.
Implikasi jangka panjang dari keberhasilan Quantum Radar Cina sangat besar bagi keseimbangan kekuatan global. Jika teknologi ini berhasil diterapkan secara luas, era pesawat tempur siluman sebagai aset taktis yang tak tertandingi akan berakhir. Hal ini akan memaksa AS dan sekutunya untuk mencari terobosan pertahanan baru atau menggeser strategi militer mereka dari platform siluman ke teknologi pertahanan kuantum atau platform lain seperti hipersonik. (Nurhalim)



Hahahahaha,
Jet silukman yang diidamkan oleh seseorang ternyata sedang dipersiapkan penangkalnya.
Kalo radar ini berfungsi sebagaimana diharapkan maka kita tidak perlu lagi akuisisi jet silukman ini.
“Inovasi ini menandai pergeseran signifikan dalam teknologi pertahanan udara modern.”
Justru alutsista penjejak udara seperti ini yang harus dibeli oleh militer Indonesia setidaknya 2 unit untuk mendukung cover radar lainnya di wilayah barat dan timur tak cukup hanya mengandalkan Vera-E (450 km), Ground Master 400 Alpha (515 km) apalagi Prototipe Radar GCI (Ground-Controlled Intercept) 3D Balitbang Kemhan (450 km) dengan melihat luasnya negara dan cakupan wilayah yang harus selalu dimonitor
siluman pada dasarnya meminimalkan pantulan radar yang diterima reciever, mau metodenya gimana juga maksudnya sama, barulah di jarak “dekat” penyamaran thermal serta visual dapat berguna, entah cina bakalan sejauh apa dengan perkembangan teknologinya