Boeing F-15K Slam Eagle – Langkah Strategis Alih Teknologi Tinggi Korea Selatan dalam Industri Dirgantara

Belum lama berselang, F-15K Slam Eagle milik Angkatan Udara Korea Selatan – Republic of Korea Air Force (ROKAF), memperlihatkan tajinya, yakni dengan meluncurkan rudal jelajah jarak jauh Taurus KEPD 350 dengan menargetkan sasaran di Laut Kuning dari jarak 400 kilometer. F-15K Slam Eagle sendiri berstatus sebagai jet tempur garis depan ROKAF, yang juga didapuk sebagai salah satu pesawat tempur tercanggih di Asia Timur, yang setelah mendapatkan upgrade masih akan mengudara hingga tahun 2060.

Baca juga: Pamer Serangan Presisi Jarak Jauh, Korea Selatan Uji Peluncuran Rudal Jelajah Taurus dari F-15K Slam Eagle

Selain punya ‘nama besar’ di bawah payung keluarga F-15 yang tersohor dalam berbagai operasi udara, Slam Eagle rupanya punya cerita tersendiri, yang utamanya mewakili kebangkitan industri pertahanan Negeri Gingseng, khususnya dalam mendapatkan manfaat dari pengadaan alutsista, yakni alih teknologi (transfer of technology) yang dimanfaatkan semaksimal mungkin, sehingga pencapaian Korea Selatan di industri dirgantara dapat sedemikian maju seperti saat ini.

F-15K Slam Eagle sejatinya adalah varian dari F-15E Strike Eagle yang dikembangkan oleh Boeing untuk Angkatan Udara Korea (ROKAF). F-15K dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan operasional Korea Selatan dalam menghadapi ancaman regional, terutama dari Korea Utara, dan dilengkapi dengan teknologi mutakhir yang disesuaikan dengan medan perang modern.

Taurus di sayap F-15K

Sejarah akuisisi Slam Eagle dimulai pada akhir 1990-an, Korea Selatan memulai program untuk meningkatkan kemampuan angkatan udaranya dan mencari jet tempur multirole yang mampu melaksanakan misi serangan darat dan udara secara efektif. Setelah meninjau berbagai platform, termasuk Eurofighter Typhoon dan Dassault Rafale, pemerintah Korea Selatan memilih F-15E sebagai basis pengembangan jet tempur baru.

Pada 2002, Boeing memenangkan kontrak untuk memproduksi 40 unit F-15K, dengan pengiriman dimulai pada 2005. Jet ini diproduksi di pabrik Boeing di St. Louis. Pada 2008, Korea Selatan memesan tambahan 21 unit lagi, sehingga total F-15K yang dipesan adalah 61 unit.

F-15K Slam Eagle adalah pesawat tempur berkursi ganda (dua kursi), yang terdiri dari pilot dan weapon systems officer (WSO), sama seperti varian F-15E Strike Eagle yang menjadi dasarnya.

Beberapa poin peningkatan pada F-15K rasa Ginseng mencakup adopsi radar Active Electronically Scanned Array (AESA) AN/APG-63(V)1 yang lebih canggih, memberikan kemampuan deteksi yang lebih baik di berbagai kondisi cuaca dan medan. Bicara dapur pacu, F-15K menggunakan mesin General Electric F110-GE-129 yang menghasilkan daya dorong yang lebih besar dibandingkan mesin Pratt & Whitney yang digunakan pada F-15E.

Jet tempur ini juga mampu membawa berbagai jenis senjata, termasuk rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM dan rudal udara-ke-permukaan AGM-84 Harpoon serta rudal Taurus KEPD 350 untuk serangan jarak jauh. F-15K dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik (EW) yang ditingkatkan, serta sistem penglihatan malam yang lebih baik.

[the_ad id=”77299″]

Kontribusi Manufaktur Korea Selatan
beberapa komponen F-15K Slam Eagle dibuat oleh perusahaan Korea Selatan. Meski secara umum jet tempur ini dirancang oleh Boeing, industri lokal Korea Selatan berperan penting dalam memproduksi dan memasok berbagai komponen untuk F-15K, terutama dalam upaya meningkatkan transfer teknologi dan keterlibatan industri lokal.

Korea Aerospace Industries (KAI) terlibat dalam pembuatan dan penyediaan struktur badan pesawat, seperti sayap dan bagian ekor F-15K. Ini merupakan hasil dari kerja sama antara Boeing dan KAI untuk memproduksi komponen pesawat militer sebagai bagian dari program transfer teknologi.

Korea Selatan Upgrade Armada Jet Tempur F-15K Slam Eagle, Diproyeksi Mengudara Sampai 2060

Sebagian besar F-15K Slam Eagle diproduksi oleh Boeing di Amerika Serikat, tetapi sejumlah komponen dan subkomponen penting untuk F-15K diproduksi di Korea Selatan melalui kemitraan dengan perusahaan lokal. Namun, F-15K tidak diproduksi secara penuh di Korea Selatan; pesawat ini tetap dirakit dan diproduksi utamanya oleh Boeing, meskipun perusahaan Korea Selatan memainkan peran penting dalam memasok beberapa komponen utama.

F-15K tidak diproduksi sepenuhnya di Korea Selatan karena kontrak awal dengan Boeing menetapkan bahwa pesawat akan dirakit di Amerika Serikat, Korea Selatan berusaha memperoleh teknologi dan kemampuan industri melalui transfer teknologi dalam program ini, tetapi perakitan penuh F-15K tetap dilakukan di Amerika Serikat, di bawah supervisi Boeing.

[the_ad id=”77299″]

Selain KAI, LIG Nex1 berperan dalam sistem avionik dan komunikasi untuk F-15K. LIG Nex1 bekerja sama dengan Boeing dalam pengembangan sistem kontrol penerbangan dan peralatan komunikasi canggih yang digunakan pada jet tempur ini. Kemudian Hanwha Systems membantu dalam sistem peperangan elektronik (EW) dan beberapa sistem radar yang digunakan pada F-15K. Hanwha juga mengembangkan perangkat lunak sistem radar dan pengendalian tembakan (fire control) untuk meningkatkan efektivitas operasional F-15K dalam berbagai skenario tempur

Samsung Techwin (sekarang Hanwha Aerospace) menyediakan mesin General Electric F110-GE-129 yang diproduksi secara lokal di Korea Selatan melalui lisensi produksi dari General Electric.

Nama Samsung pun ikut terlibat, persisnya Samsung SDS, melalui kerjasamanya dengan beberapa program pertahanan Korea Selatan, juga dilaporkan terlibat dalam penyediaan solusi perangkat lunak dan teknologi informasi yang mendukung operasional jet tempur, meskipun perannya mungkin lebih terkait dengan sistem pendukung atau manajemen informasi daripada avionik langsung.

[the_ad id=”77299″]

Kontrak F-15K Slam Eagle dengan Boeing menjadi salah satu langkah penting bagi Korea Selatan dalam memperoleh transfer teknologi tinggi di bidang pesawat tempur. Program ini tidak hanya berfokus pada pembelian jet tempur, tetapi juga memberikan keuntungan strategis bagi Korea Selatan melalui alih teknologi yang mendukung pengembangan industri pertahanan domestik, terutama dalam sektor aerospace.

Transfer teknologi dalam program F-15K kelak membantu Korea Selatan membangun fondasi teknologi kedirgantaraan yang kuat. Ini kemudian berkontribusi pada pengembangan program jet tempur buatan sendiri, seperti proyek KF-21 Boramae. (Gilang Perdana)

52 Tahun Eksis, F-15 Eagle Pecahkan Rekor 104 Kali Menang Pertempuran Udara Tanpa Kekalahan

One Comment