‘Leading Edge Root Extension’ di Vertical Stabilizer, Jadi Ciri Khas Jet Tempur F-5E/F Tiger Indonesia

Setelah dua hari lalu kami turunkan artikel penerbangan perdana jet tempur legendaris F-5E Tiger II, maka masih tentang pesawat tempur yang pernah menjadi andalan TNI AU itu, punya sisi menarik dan jarang dibahas oleh netizen, yakni adanya perbedaan pada desain ekor vertikal antara F-5E/F Tiger II TNI AU, bila dibandingkan dengan F-5E/F Tiger II negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan. Mengapa demikian?

Baca juga: Hari Ini Dalam Sejarah, Prototipe F-5E Tiger II Terbang Perdana, Ternyata Operator Pertamanya Adalah Iran

Bila dicermati, F-5E Tiger II pesanan Indonesia, punya perbedaan kecil pada desain ekor vertikal (vertical stabilizer) dibanding sebagian besar F-5E produksi awal. Perbedaan tersebut ada pada F-5E standar awal yang punya leading edge (bagian depan sirip ekor vertikal) lurus dari pangkal sampai ujung.

Sebaliknya, F-5E milik Indonesia dan beberapa pelanggan lain (misalnya Kenya, Brasil dan Chili) menggunakan sirip ekor dengan leading edge root extension di bagian pangkal, yaitu semacam tonjolan memanjang yang mengalir dari akar sirip ke arah belakang. Selain itu, beberapa pesawat juga dilengkapi ventral fins (sirip kecil di bawah ekor) yang sedikit berbeda bentuknya.

Hari ini dalam Sejarah, Batch Pertama F-5 E/F Tiger II TNI AU Tiba di Lanud Iswahjudi

 

Adanya sedikit perbedaan pada desain ekor vertikal tentu ada alasannya, salah satunya Northrop ingin menyesuaikan desain ekor pada batch tertentu untuk meningkatkan kestabilan arah (directional stability) terutama saat membawa drop tank atau beban eksternal besar di sayap. Dengan adaptasi desain baru, menjadikan tambahan area vertical stabilizer di pangkal, membentuk ‘ekor lebih panjang’.

Dalam hal ini, Indonesia memesan F-5E yang sudah memakai desain ekor modifikasi (kadang disebut shark-fin extension atau extended dorsal fin), yang merupakan hasil evaluasi dari uji penerbangan varian ekspor sebelumnya. Perubahan ini bukan pesanan khusus TNI AU, tapi karena Indonesia membeli pesawat dari batch produksi yang sudah memakai desain baru. Sementara operator lain yang memesan lebih awal, seperti Iran (pengguna pertama F-5E) masih menggunakan desain ekor tipe lama.

F-5E Tiger Chili masih beropersi dengan upgarde air refueling probe.
F-5E Tiger milik Kenya.

Pengadaan F-5 E/F Tiger II di Indonesia dilaksanakan melalui suatu proyek yang diberi nama “Operasi Komodo”. Operasi Komodo ini tidak hanya merencanakan pembelian pesawat saja, tetapi juga pendidikan penerbang, teknisi, termasuk fasilitas tambahan berupa sarana dan prasarana.

Dengan pembelian pesawat ini, TNI AU kembali memasuki era supersonik seperti pada masa MiG-21F yang cukup disegani di tahun 1960-an. Pesawat F-5 E/F Tiger II ini sudah dilengkapi dengan radar dan rudal AIM-9 P2 sidewinder sebagai perlengkapan utama dalam misi pertempuran udara modern.

F-5E Tiger II TS-0510 – Kisah Jet Tempur TNI AU yang ‘Tertahan’ Tujuh Tahun di AS

Sejak kedatangannya, F-5E/F Tiger II mulai dilibatkan dalam berbagai operasi maupun latihan untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Operasi-operasi yang dilaksanakan yaitu; Operasi Panah di wilayah Aceh, Operasi Elang Sakti XXI, Operasi Garuda Jaya, Operasi Pengamatan Udara Perbatasan, dan Operasi Oscar yang merupakan operasi pengamanan wilayah perairan, termasuk mencegah penyeludupan lewat jalur laut.

Sedangkan latihan-latihan yang dilaksanakan adalah Latihan Elang Gesit, Latihan Tutuka, Latihan Sikatan Daya, Latihan Angkasa Yudha, Latihan Gabungan Laut, Latihan Gabungan TNI, dan latihan bersama dengan negara tetangga. (Gilang Perdana)

F-5E Taiwan Jatuh di Lepas Pantai, Terungkap Fakta Jet Tempur Lawas ini Bisa Meluncurkan Rudal Udara ke Udara Hipersonik