Bila suatu negara dengan anggaran pertahanan ngepas, namun menuntut kehadiran jet tempur mumpuni dalam waktu relatif cepat, sementara dari dalam negeri ada ketentuan untuk menerima ToT (Transfer of Technology), maka lantas apa yang dapat dilakukan oleh negara tersebut? Opsi pertama yang mudah dibayangkan adalah membeli jet tempur bekas pakai, tapi ini akan minus pada harapan mendapatkan ToT. Dengan kondisi yang serba dilematis, apa yang bisa dilakukan oleh negara tadi, sementara eskalasi konflik di masa depan bisa pecah suatu waktu. (more…)
Ada kabar dari Linköping, yaitu kota kecil di selatan Swedia yang menjadi markas dari Saab Aeronautics. Dikabarkan bahwa Saab telah sukses melakukan uji coba pemasangan radar baru pada jet tempur Gripen. Radar yang dimaksud berteknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) X-band. Pada uji coba 8 April lalu, jet uji Gripen D (tandem seat) terbang selama 90 menit dari Saab’s Linköping airfield untuk serangkaian uji kemampuan deteksi pada sasaran udara dan permukaan. (more…)
Sebagai ekspansi pasar di kawasan Asia-Pasifik, kesuksesan Saab menjual 12 unit jet tempur Gripen C/D pada ke Thailand pada tahun 2008 menjadi trigger vendor asal Swedia ini untuk bertarung di pasar multirole fighter. Maka saat Indonesia memutuskan mencari pengganti F-5 E/F Tiger II, nama Gripen sontak diwartakan, pihak pabrikan pun telah mencangkan paket ToT (Transfer of Technology) terbaik. (more…)
Peristiwanya sudah berlangsung hampir sebulan lalu, tepatnya 19 Mei 2016, atau sehari pasca rollout Gripen NG (Next Generation) di fasilitas Saab Aeronautics di kota Linköping, Swedia, Indomiliter.com bersama jurnalis dari Thailand, Brasil, dan Jepang berkesempatan mengunjungi fasilitas hanggar test flight Gripen NG. Di hanggar yang mendapat penjagaan ketat, namun jauh dari kesan kaku ini, Saab memperlihatkan sosok Gripen 39-7, sebuah jet yang dibangun khusus sebagai pondasi pengembangan Gripen NG, atau yang setelah di rollout resmi disebut sebagai Gripen E. (more…)