Mendefinisikan Ulang Perang Elektronik, Airbus Resmi “Kawinkan” Eurofighter Typhoon dengan Arexis dari Saab

Kerja sama antara Airbus Defence and Space dan Saab telah menandai langkah maju yang signifikan dalam modernisasi kemampuan pertahanan udara Eropa. Keputusan Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) untuk memilih sistem Arexis Electronic Warfare (EW) dari Saab untuk melengkapi Eurofighter Typhoon mereka bertujuan untuk menciptakan varian khusus: Eurofighter EK (Elektronischer Kampf / Electronic Combat). Proyek ambisius ini dirancang untuk memastikan Eurofighter tetap relevan di medan pertempuran modern dan, yang paling penting, mengisi kekosongan kapabilitas kritis yang akan ditinggalkan oleh pensiunnya armada Tornado ECR mulai tahun 2030.

Baca Juga: Inggris dan Turki Raih Kesepakatan Penjualan 20 Unit Eurofighter Typhoon Senilai 8 Miliar Pounsterling, Mulai Dikirim 2030

Pesanan dengan nilai signifikan yang mencapai sekitar EUR 549 juta ini menggarisbawahi urgensi dan pentingnya akuisisi kemampuan Perang Elektronik yang superior. Eurofighter EK akan mengambil alih peran vital Suppression of Enemy Air Defences (SEAD), yaitu menekan atau menghancurkan sistem pertahanan udara musuh, yang menjadi kunci dalam operasi udara militer kontemporer. Sistem Arexis yang dipasang sebagai jammer pod eksternal dan sensor internal akan mengubah Eurofighter dari sekadar pesawat tempur superioritas udara menjadi platform Electronic Combat yang mematikan.

Inti dari peningkatan ini adalah teknologi Arexis itu sendiri. Dikembangkan oleh Saab, Arexis adalah EW suite digital ultra-wideband yang menggunakan teknologi canggih seperti Digital Radio Frequency Memories (DRFM). Kemampuan utamanya adalah menghasilkan sinyal jamming yang sangat kuat dan kompleks untuk secara efektif membutakan atau menipu sistem radar ancaman. Lebih jauh, Arexis memanfaatkan Active Electronically Scanned Array (AESA) jammer yang ditenagai oleh semikonduktor Gallium Nitride (GaN), memberikan daya pancar (radiated power) yang jauh lebih tinggi dan fleksibilitas wideband yang superior dibandingkan teknologi EW generasi sebelumnya.

Peran Eurofighter EK akan berpusat pada menjadi Escort Jammer yang andal. Dalam skenario konflik, pesawat ini akan memimpin formasi, menciptakan koridor aman dengan mengganggu radar pengawasan dan penargetan musuh yang membentuk Anti-Access/Area Denial (A2/AD) “gelembung” pertahanan udara. Kemampuan Arexis untuk melakukan precision direction finding terhadap emisi radar juga memungkinkan Eurofighter EK untuk tidak hanya mengganggu, tetapi juga menargetkan ancaman secara akurat untuk penghancuran menggunakan rudal anti-radiasi yang sesuai.

Keputusan Jerman untuk mengadopsi Arexis, yang berasal dari Swedia, merupakan hal yang menarik mengingat semua Eurofighter lainnya—termasuk milik Jerman—sudah dilengkapi dengan sistem Defensive Aids Sub-System (DASS) Eropa, Praetorian. Penting untuk digarisbawahi bahwa Arexis melengkapi, bukan menggantikan, Praetorian. Praetorian adalah sistem EW internal yang berfokus pada pertahanan diri (menjaga pesawat tetap hidup), sedangkan Arexis berfungsi sebagai sistem Serangan Elektronik (EA) ofensif. Kombinasi kedua sistem ini menjanjikan tingkat perlindungan dan kapabilitas serangan yang komprehensif.

Jerman Pesan 20 Unit Eurofighter Typhoon Tranche 5 Baru Untuk Perkuat Superioritas Udara

Integrasi teknologi modern ini juga mencakup komitmen untuk Future Proofing. Saab bekerja sama dengan mitra strategis seperti Helsing untuk memasukkan elemen Kecerdasan Buatan (AI) ke dalam perangkat lunak Arexis. Penggunaan AI ini dirancang untuk memungkinkan sistem merespons ancaman radar baru dan tidak dikenal secara lebih cepat dan adaptif, sebuah fitur krusial dalam lingkungan spektrum elektromagnetik yang terus berkembang. Kemampuan adaptif inilah yang memposisikan Arexis sebagai solusi yang tangguh di masa depan.

Meskipun prospek Eurofighter EK sangat menjanjikan, program ini tidak luput dari tantangan. Kendala waktu adalah yang paling mendesak; Luftwaffe harus mencapai kapabilitas operasional penuh Eurofighter EK sebelum Tornado ECR pensiun pada 2030, sebuah tenggat waktu yang ketat untuk program integrasi avionic yang kompleks. Kegagalan mencapai target ini dapat menimbulkan kesenjangan kapabilitas Perang Elektronik yang serius bagi Jerman dan NATO.

Tantangan kedua terletak pada kompleksitas integrasi teknis. Memasangkan sistem EW asing, seperti Arexis dari Saab, ke dalam arsitektur pesawat yang dirancang oleh konsorsium berbeda menuntut upaya rekayasa yang masif. Memastikan kompatibilitas antara jammer pod Arexis yang canggih dengan mission computer dan sistem senjata Typhoon memerlukan koordinasi dan pengujian yang ekstensif, yang berpotensi memicu kendala biaya (cost overruns) dan penundaan jadwal.

Secara geopolitik, pemilihan Arexis oleh Jerman, yang di beberapa kalangan dianggap mengesampingkan opsi yang sepenuhnya dikembangkan di Eropa, memicu perdebatan mengenai kedaulatan industri dan kolaborasi pertahanan antar-Eropa. Namun, keputusan ini secara pragmatis diyakini sebagai hasil evaluasi yang menyimpulkan bahwa Arexis adalah solusi off-the-shelf yang paling matang, berkinerja tinggi, dan paling cepat tersedia untuk memenuhi kebutuhan SEAD/DEAD Jerman yang mendesak.

Padahal Punya Jet Tempur Rafale, F-15QA dan Eurofighter Typhoon, Tapi Qatar Tak Berkutik Menghadapi Serangan Udara Israel

Pada akhirnya, pengintegrasian Saab Arexis ke dalam Eurofighter Typhoon Jerman tidak melulu soal upgrade teknis; namun lebih kepada pernyataan strategis yang menegaskan komitmen Jerman terhadap Pertempuran Elektronik sebagai domain perang yang penting. Dengan kombinasi kekuatan jamming Arexis dan kemampuan tempur Eurofighter, varian EK akan memainkan peran sentral dalam memastikan superioritas udara dan kemampuan penangkalan NATO di tahun-tahun mendatang. (Nurhalim)

Jepretran Fotografer Spanyol Rekam ‘Detik-detik’ Bird Strike Menghantam Kanopi Jet Tempur Eurofighter Typhoon