Kembali ke Kenangan Tu-143, Tupolev Berencana Memproduksi Drone untuk Militer

Siapa yang tak kenal dengan Tupolev, manufaktur dirgantara asal Rusia ini amat legendaris, bahkan jejak produksian Tupolev begitu lekat dengan nostalgia era Perang Dingin semasa Uni Soviet berjaya. Sebut saja pembom strategis Tu-16 Badger, Tu-95, Tu-142 dan Tu-160 Blackjack, adalah karya-karya terbaik dari Andrei Tupolev. Belum lagi di jagad komersial, Tupolev telah berhasil merilis beberapa tipe pesawat komersial, yang sebenarnya cukup kondang di negara-negara sohib Rusia. Namun di tengah era drone alias pesawat tanpa awak, nama Tupolev seolah tenggelam.

[Video] Barracuda – Usaha Kemandirian Eropa dalam Pengembangan Drone Bermesin Jet

Ketimbang koleganya Sukhoi, yang populer merilis drone kombatan Su-70, nama Tupolev nyaris tak disebut-sebut dalam produksi drone. Namun, paradigma tersebut rupanya ingin diubah oleh Joint Stock Company Tupolev. Mengutip sumber dari Forbes.com (30/6/2020), pada pekan lalu manajemen Tupolev mengumumkan adanya rencana besar untuk membuat drone untuk kebutuhan milter modern Rusia. Sayangnya pengumuman dari pihak Tupolev kurang detail. Dalam sebuah laporan tahunan, Tupolev melansir akan membuat pesawat berawak dan tanpa awak.

Tentunya sampai prototipe berhasil dibuat, rencana Tupolev tak akan dianggap serius. Sejumlah masalah klasik hingga kini masih menjadi momok bagi Rusia dalam pengembangan drone, diantaranya masalah pada pembuatan mesin drone, mikroelektronika, dan komponen sensor yang merupakan bagian dari drone militer modern saat ini. Tak ayal, masalah-masalah tersebut mengakibatkan lambannya adopsi drone militer Rusia.

Meski begitu, tak banyak orang yang tahu, bahwa sejatinya Tupolev di masa lalu justru telah berhasil memproduksi drone. Drone yang dibuat Tupolev di era Perang Dingin tentu tak bisa disamakan dengan model drone saat ini. Salah satu bukti konkretnya adalah Tupolev Tu-143.

Drone dengan wujud bak rudal jelajah ini hanya dapat diterbangkan sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan. Karena hadir di zaman serba analog, Tu-143 tidak memiliki fitur live video feeds. Tu-143 dengan kode Reys adalah drone intai, yang menjalankan tugas intai dengan cara mengambil gambar dengan kamera, yang hasilnya baru diproses setelah drone kembali ke ‘markas’.

Uniknya, Tu-143 diproduksi dalam jumlah besar, yaitu mencapai 950 unit. Penggunanya pun tak hanya Rusia, tercatat Tu-143 dioperasikan oleh Korea Utara, Suriah dan Ukraina. Di era Perang Dingin bahkan Tu-143 pernah digunakan Irak, CekoSlovakia, Bulagaria dan Rumania. Tu-143 digunakan oleh Suriah dalam misi pengintaian atas Israel dan Lebanon selama Perang Lebanon 1982, serta oleh pasukan Soviet di Afghanistan selama Perang Soviet-Afghanistan.

Baca juga: Inilah “Jalak,” Target Drone Lansiran PT Sari Bahari

Disokong mesin turbojet berkekuatan 590 kg, Tu-143 mampu melesat hingga kecepatan 950 km per jam. Sementara jarak jelajah drone ini sejauh 200 km dan punya ketinggian terbang sampai 5.000 meter. Sampai saat ini varian Tu-143 masih digunakan oleh Rusia dan Ukraina, namun difungsikan sebagai target drone. (Gilang Perdana)

Spesifikasi Tu-143
– Lebar bentang sayap: 2,24 meter
– Panjang: 8 meter
– Tinggi: 1,54 meter
– Berat: 1.230 kg
– Kecepatan maks: 950 km per jam
– Ketinggian maks: 5.000 meter
– Jarak jelajah: 200 km

7 Comments