Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Latma Camar Indopura 2019, Tampilkan Fokker F50 MPA, Pesawat Intai Maritim Tercanggih di Asia Tenggara

Latihan militer bilateral Camar Indopura 2019 antara TNI AU dan AU Singapura (RSAF) baru saja tuntas (29/8) setelah resmi dibuka pada 26 Agustus lalu di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Latihan dengan sandi Air Manuver Exercise (AMX) Latma Camar Indopura ke 16 ini melibatkan dua pesawat intai maritim andalan dari kedua negara. Dari TNI AU, dikerahkan satu unit Boeing 737-200 Surveillance dengan nomer AI-7303 dari Skadron Udara 5 dan dari RSAF satu unit Fokker F50 MPA (Maritime Patrol Aircraft).

Baca juga: Radar CP-SAR Profesor Josaphat Berhasil Diuji Coba di Boeing 737-200 Surveillance TNI AU

Tentang sosok Boeing 737-200 Surveillance rasanya sudah cukup banyak dikupas seputar upgrade dan kemampuannya. Sementara Fokker F50 yang dikirim Singapura ke Lanud Supadio, juga bukan sosok yang baru. Di bawah komando Skadron Udara 121 “Brahminy Kite,” Fokker F50 MPA telah dioperasikan AU Singapura sejak 1992 – 1993.

Meski menggunakan mesin propeller dan fuselage dari platform Fokker F27 Troopship, Fokker F50 MPA dengan label “Maritime Enforcer MK2” sampai saat ini masih menempati predikat sebagai pesawat intai maritim terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Tampilan memang laksana pesawat angkut biasa, namun jangan salah, bodi Fokker F50 sudah memakai material komposit dan anti korosi, struktur diperkuat, sehingga bobot pesawat menjadi lebih ringan.

Sebagai pesawat intai maritim tercanggih di Asia Tenggara, pada bagian bawah lambung (fuselage) terdapat belly dome yang berisi radar maritim pulse doppler AN/APS-134(v)7. Dari kemampuannya, AN/APS-134(v)7 dapat menangkap sasaran hingga jarak 296,3 km. Radar generasi 90-an ini berputar dengan kecepatan 150 rpm untuk mendeteksi objek kecil di permukaan laut seperti periskop kapal selam atau kapal pembajak.

Memang jika dibandingkan dengan radar intai di CN-235 220 MPA TNI AL/TNI AU yang menggunakan AN/APS-143C(V)3 OceanEye, maka CN-235 220 MPA lebih unggul, dimana dapat mengendus sasaran dari jarak 370,4 km.

Tapi ada predikat yang membuat Fokker F50 unggul secara komparatif dibanding CN-235 220 MPA dan Boeing 737 Surveillance Indonesia, yaitu kemampuan dalam penindakan alias law enforcement di lautan. Persisnya memang Fokker F50 dapat dipersenjatai.

Daftar persenjataan yang bisa dibawa memang maut, sebut saja torpedo Mk44/Mk46, Stingray, A244/S, rudal anti kapal AM39 Exocet, AGM-84 Harpoon, atau Sea Eagle. Untuk melibas kapal selam, Fokker F50 MPA dapat menjatuhkan sonobuoy guna mendeteksi posisi kapal selam.
Secara keseluruhan untuk membawa payload senjata, F50 dilengkapi dengan dua pylon di bawah tiap sayap dan satu pylon di setiap sisi fuselage sehingga total ada enam pylon yang siap digunakan untuk operasi lawan permukaan dan lawan bawah permukaan.

Pada awalnya Singapura begitu merahasiakan kapabilitas Fokker F50. Namun kemudian semuanya terungkap setelah Singapura mengajukan pembelian 24 unit AGM-84 Harpoon yang merupakan varian Harpoon yang diluncurkan dari pesawat udara pada 1996.

Dengan AGM-84 Harpoon terpasang.

Baca juga: Fokker F50 Maritime Enforcer MK2 – Intai Maritim Taktis dengan Kemampuan Penindakan Penuh di Lautan

Uji tembak perdana dilakukan secara rahasia pada 1999, kemudian Singapura baru terbuka menampakkan AGM-84 yang terpasang pada Fokker F50 ME pada 2004 dan mengakui bahwa pesawat ini mampu melakukan penindakan langsung atas sasaran permukaan. AU Singapura tercatat juga menembakkan Harpoon dari F50 ME Mk2 dalam latihan bersama RIMPAC 2013. (Bayu Pamungkas)

10 Comments