Fokker F50 Maritime Enforcer MK2: Intai Maritim Taktis dengan Kemampuan Penindakan Penuh di Lautan

Suatu hari ada yang bertanya, pesawat intai maritim apakah yang paling canggih di Asia Tenggara? Dengan penekanan kata ‘intai maritim,’ maka kebaradaan CN-235 220 MPA (Maritim Patrol Aircraft) baik yang dioperasikan Puspenerbal TNI AL dan Skadron Udara 5 bisa jadi contoh bagaimana pesawat intai maritim yang modern dilengkapi sarana yang relatif memadai. Namun, bila ditelaah lebih jauh, seperti pada kelengkapan fitur secara keseluruhan dan adanya kemampuan penindakan, maka yang terdepan di Asia Tenggara adalah Fokker F50 ME (Maritime Enforcer) MK2 milik AU Singapura (RSAF).

Baca juga: Ilyushin Il-38 May – Jejak Supremasi Rusia di Lini Pesawat Intai Maritim

Singapura dengan luas udara dan lautan yang sangat terbatas, mengoperasikan Fokker F50 ME MK2 sebanyak lima unit. Sebagai perbandingan, di kelas yang sama dengan basis pesawat angkut sedang, CN-235 220 MPA TNI AL/TNI AU yang sudah diserahkan saat ini juga ada lima unit. Seperti halnya TNI AU, rupanya AU Singapura juga peminat basis Fokker untuk angkut sedangnya.

Sebelum dipensiunkan, Skadron Udara 2 TNI AU pernah mengoperasikan delapan unit Fokker F27 Troopship. Dan dari basis Fokker F27 kemudian dirilis Fokker F50, yang dari desain dan tampilan, antara F27 dan F50 nyaris bisa disebut serupa. Walau desainnya oldskul, namun Fokker F50 terlahir dengan sejumlah penyepurnaan, sebut saja bodi sudah memakai material komposit dan anti korosi, struktur diperkuat, sehingga bobot pesawat menjadi lebih ringan.

Di bawah Skadron 121 “Brahminy Kite,” kini AU Singapura mengoperasikan sembilan unit Fokker F50, terdiri dari empat unit varian Utility Aircraft (UTA) dan lima unit adalah varian MPA plus enforcer.

Lantas apa yang menjadi keunggulan Fokker F50 ME, sehingga layak disebut pesawat intai maritim terdepan di Asia Tenggara? Pesawat yang sudah dioperasikan Singapura sejak 1993 ini memang tampil agak beda dari Fokker F50 UTA. Khususnya pada bagian bawah lambung (fuselage) terdapat belly dome yang berisi radar maritim pulse doppler AN/APS-134(v)7. Dari kemampuannya, AN/APS-134(v)7 dapat menangkap sasaran hingga jarak 296,3 km. Radar generasi 90-an ini berputar dengan kecepatan 150 rpm untuk mendeteksi objek kecil di permukaan laut seperti periskop kapal selam atau kapal pembajak. Fokker memesan enam unit radar APS-134(v)7 dengan nilai US$26 juta pada tahun 1992 untuk melayani pesanan AU Singapura dengan penyerahan akhir pada 1996.

Jika dibandingkan dengan radar intai di CN-235 220 MPA TNI AL/TNI AU yang menggunakan AN/APS-143C(V)3 OceanEye, maka CN-235 220 MPA lebih unggul, dimana dapat mengendus sasaran dari jarak 370,4 km.

Baca juga: AN/APS-143C(V)3 OceanEye – Generasi Radar Intai Maritim Terbaru Untuk CN-235 220 NG MPA

Namun keunggulan yang belum ada tandingannya di kawasan adalah pendindakan, pasalnya Fokker F50 ME dapat dipersenjatai. Daftar persenjataan yang bisa dibawa memang maut, sebut saja torpedo Mk44/Mk46, Stingray, A244/S, rudal anti kapal AM39 Exocet, AGM-84 Harpoon, atau Sea Eagle. Awalnya Singapura begitu merahasiakan kapabilitas Fokker F50. Namun kemudian semuanya terungkap setelah Singapura mengajukan pembelian 24 unit AGM-84 Harpoon yang merupakan varian Harpoon yang diluncurkan dari pesawat udara pada 1996.

Uji tembak perdana dilakukan secara rahasia pada 1999, kemudian Singapura baru terbuka menampakkan AGM-84 yang terpasang pada F50 ME pada 2004 dan mengakui bahwa pesawat ini mampu melakukan penindakan langsung atas sasaran permukaan. AU Singapura tercatat juga menembakkan Harpoon dari F50 ME Mk2 dalam latihan bersama RIMPAC 2013.

Fokker F50 UTA

Baca juga: Fokker F-27 Troopship A-2707 Perkuat Etalase Museum Dirgantara Mandala

Untuk melibas kapal selam, Fokker F50 ME dapat menjatuhkan sonobuoy untuk mendeteksi kapal selam. Secara keseluruhan untuk membawa payload senjata, F50 dilengkapi dengan dua pylon di bawah tiap sayap dan satu pylon di setiap sisi fuselage sehingga total ada enam pylon yang siap digunakan untuk operasi lawan permukaan dan lawan bawah permukaan.

Yang di atas baru seputar persenjataan, mengemban peran sebagai MPA, Foker F50 ME Singapura dipastikan dibekali FLIR (Forward Looking Infra Red), kamera televisi, dan kamera thermal yang tergabung dalam satu modul dan dapat berputar 360 derajat. Bola optik sensor ini diposisikan tepat di bawah kokpit di belakang ruang roda pendarat depan. Kemudiam di ujung-ujung sayap dan ekor belakang terdapat antena ESM (Electronic Surveillance Measure) untuk menangkap emisi radar kapal permukaan atau pesawat terbang di sekitar area dengan cakupan 360 derajat. Sebagai sistem peringatan bahaya, disematkan antena RWR (Radar Warning Receiver) pada bagian belakang fuselage. Konon kabarnya, beberapa F50 ME telah dilakukan upgrade dengan penambahan perangkat Signals intelligence (SIGINT).

Satu pesawat F50 ME Mk2 dioperasikan oleh satu set kru yang terdiri dari pilot, kopilot, satu teknisi, satu analis, dua operator sensor, dan satu orang spesialis misi yang bertugas mengambil foto udara. Dua operator sensor masing-masing menangani satu konsol misi yang bisa diganti-ganti mulai dari radar, sistem ESM, atau sensor elektro optik. Konsol misi ini menempel ke dinding sebelah kanan dari kabin, sehingga aisle/ gang dan kursi untuk operator ada di sisi kiri kabin. Spesialis misi mengambil foto kapal permukaan untuk dikirimkan ke analis foto myang langsung memeriksa hasil jepretan saat itu juga di komputernya. Spesialis misi yang menggunakan kamera DSLR dapat memotret dari jendela belakang, depan, atau satu jendela hadap bawah yang disediakan di lantai pesawat.

Singapura menerapkan strategi yang unik untuk penempatan awak, dimana pesawat dipiloti oleh personel AU Singapura, tetapi spesialis sensor dan misi diambil dari AL. Hal ini memungkinkan koordinasi dengan AL Singapura terus terjaga terutama karena operasi maritim tentunya adalah domain AL Singapura sendiri. Hal yang sama juga diterapkan pada awak helikopter AKS (Anti Kapal Selam) Sikorsy S-70B.

Fokker F50 ME disokong dua mesin Pratt & Whitney Canada PW125B dengan enam bilah baling-baling yang menawarkan tingkat kebisingan rendah. Dengan bahan bakar penuh (7.257 kg), pesawat turbo propeller ini sanggup menjelah selama 12 jam dalam jarak 2.224 km.

Meski pesawatnya diakuisi dari Belanda, pelajaran yang perlu dicatat adalah proses integrasi seabrek sistem dan sensor dikerjakan sendiri oleh Defence Technology Group yang merupakan badan di bawah Kementerian Pertahanan Singapura, dengan demikian proses ToT (Transfer of Technology) dalam tiap pengadaan alutsista dalam dijalankan.

Baca juga: Gulfstream G550 CAEW: Stasiun Radar Terbang Conformal Perisai Ruang Udara Singapura

Walau masih tergolong canggih, Singapura kini tengah memikirkan penggantian Fokker F50 ME, kabarnya pilihannya dari basis Gulfstream G550, dengan alasan agar memudahkan logistik dan perawatan, lantaran AU Singapura selama ini telah menggunakan Gulfstream G550 sebagai CAEW (Conformal Airborne Early Warning and Control). (Dani Sapari)

9 Comments