Yasser – Rudal Udara ke Permukaan ‘Mutan’ Hasil Kawin Silang MIM-23 Hawk dan Bom MK117

Raytheon Company, manufaktur persenjataan kondang asal Amerika Serikat, mungkin tidak pernah menyangka, bahwa produk buatannya bisa beralih fungsi hingga sedemikian berbeda. Netizen pemerhati dunia alutsista tentu mahfum dengan sosok rudal hanud jarak sedang MIM-23 Hawk, yang kebetulan juga dioperasikan oleh Singapura. Rudal hanud battle proven ini punya berat 627 kg dan mampu melesat hingga Mach 2.7 sampai ketinggian 18 km. Namun di tangan Iran, rudal Hawk dapat ‘disulap’ sebagai rudal udara ke permukaan. Kok bisa?

Baca juga: Raytheon I-Hawk – Rudal Hanud “Tua” Yang Masih Menakutkan

Kilas balik ke masa kejayaan Syah Mohammad Reza Pahlevi, Iran kala itu punya alutsista papan atas dalam jumlah berlimpah dari Amerika Serikat. Di lini rudal, ribuan unit rudal udara ke permukaan AGM-65 Maverick sempat dimiliki AU Iran, dimana rudal Maverick menjadi andalan pada jet tempur F-14A Tomcat dan F-4 Phantom. Pecahnya Perang Iran-Irak di dekade 80-an, sontak menguras persediaan rudal Maverick Iran. Sementara jet tempur peninggalan AS masih dapat dioperasikan, maka perlu diupayakan rekayasa pada arsenal senjata yang ada.

Entah ini bisa disebut reverse engineering atau bukan, yang jelas injiner militer Iran kemudian melirik stok rudal hanud MIM-23 Hawk. Di tangan injiner yang panjang akal, kemudian rudal Hawk dialihfungsi, dari yang awalnya rudal hanud menjadi rudal udara ke permukaan. Wujudnya adalah dengan melepas bagian guidance (pemandu) dan hulu ledak di rudal Hawk, kemudian menggantinya dengan bom konvensional MK117. Bom MK117 adalah jenis General Purpose Bomb, yang mirip spesifikanya dengan bom MK12 yang digunakan oleh TNI AU pada jet tempur F-16 Fighting Falcon. Bobot bom MK117 sendiri mencapai 340 kg.

Bom MK117

Dipadukan dengan bagian belakang (solid-fuel rocket engine) milik rudal Hawk, kemudian jadilah apa yang disebut Iran sebagai rudal “Yasser.” Rual Yasser yang dikembangkan pada 1986 sekilas pandang bentuknya langsun mengingatkan kita pada rudal udara ke udara jarak jauh hipersonik AIM-54 Phoenix. Dan seperti sudah bisa ditebak, rudal Yasser memang dirancang untuk dilepaskan dari F-14A Tomcat, dimana dalam sekali terbang, Tomcat dapat menggotong dua rudal mutan ini.

Dikutip dari TheDrive.com (13/5/2020), rudal Yasser meskipun digambarkan sebagai rudal udara ke permukaan, namun tidak ada yang tahu persis, bagaimana metode panduan pada rudal bongsor ini. Jika berasumsi mengandalkan sistem semi-active radar seeker milik Hawk, jelas tidak mungkin, karena komponen tersebut sudah dicopot.

Beberapa gambar kontemporer menunjukkan, Yassers dengan sirip ekor yang dimodifikasi, kemungkinan menggunakan beam-riding guidance system, dimana radar F-14A dapat mengunci target di darat dan kemudian mengarahkan rudal ke arah tersebut. Iran mungkin juga dapat memanfaatkan autopilot analog Hawk yang ada sebagai salah satu cara untuk membimbingnya menuju sasaran yang bersifat statis, seperti pabrik atau kilang minyak.

Baca juga: MK12 “Restu Ibu,” Bom Udara Andalan F-16 Fighting Falcon TNI AU

Lepas dari dugaan apakah Yasser dipandu atau tidak, yang jelas tingkat akurasi rudal ini dinilai sangat buruk dan penggunaannya sangat terbatas, yaitu dengan hanya beberapa peluncuran yang telah dilaporkan. Meski begitu, rudal mutan ini menawarkan jangkauan tembak yang lebih jauh dibandikan AGM-65 Maverick generasi awal, rudal Yasser dilaporkan dapat mencapai target sejauh 15 mil, atau setara 25,7 km. Bila mengacu pada kemampuan Hawk sebagai rudal hanud, dengan solid-fuel rocket engine, rudal ini sanggup menguber jet tempur hingga jarak 40 km. (Gilang Perdana)

4 Comments