U-2 Dragon Lady Berhasil Buka Konektivitas Data antara F-22 Raptor dan F-35 Lightning II

(Lockheed Martin)

Meski terbilang super canggih, faktanya jet tempur stealth seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II punya kesulitan untuk saling bertukar data selama di udara. Pangkal musababnya adalah sifat dari stealth pada jet tempur itu yang membuatnya ada ‘batasan’ untuk saling berkirim dan bertukar data antar jet tempur, kecuali antar sesama F-22 dan F-35.

Baca juga: F-35 Ligtning II, Jet Tempur Khusus Loyalis Sejati Negeri Paman Sam

Dikutip dari Newatlas.com (3/5/2021), lantaran ada hambatan di atas, seperti pilot F-22 terpaksa menyampaikan data yang dikumpulkan dengan menggunakan panggilan radio suara model lama. Walau disebut sebagai salah satu jet tempur tercanggih di dunia, F-22 dikatakan tidak bagus dalam berbagi data secara langsung dengan apa pun selain F-22 lainnya.

Sebagai jet tempur generasi kelima, F-22 Raptor dapat menerima sinyal radio dengan standar yang ditetapkan untuk sistem AS dan NATO, namun, F-22 tidak dapat mengirimkan melalui sistem tersebut, pasalnya F-22 dirancang untuk menjadi siluman. Karena hal tersebut, pilot F-22 harus menggunakan pemancar radio Intra-Flight Data Link (IFDL).

F-22 Raptor

Sedangkan F-35 memiliki masalah serupa saat terkoneksi dengan F-22, karena juga F-35 juga merupakan pesawat dengan kemampuan stealth, sehingga menggunakan Multifunction Advanced Data Link (MADL). Nah, perangkat MADL seharusnya dipasang secara retroaktif di F-22, tetapi dibatalkan karena masalah pemotongan anggaran.

Guna mengatasi tantangan operasional di atas, Lockheed Martin Skunk Works, US Missile Defense Agency dan Angkatan Udara AS berkongsi dalam Project Hydra. Lewat Project Hydra, untuk pertama kalinya F-22 dan F-35 dapat saling berbagi data. Kesuksesan Project Hydra rupanya tidak bisa dilepaskan dari sosok pesawat mata-mata legendaris U-2 Dragon Lady.

F-35 yang punya kemampuan stealth dengan RCS 0,005

Project Hydra bertujuan untuk mengatasi kemacetan komunikasi ini dengan menggunakan payload berupa Open Systems Gateway (OSG) yang dipasang di U-2 yang terbang tinggi. Sebagai informasi, U-2 dapat terbang selama 12 jam terus-menerus pada ketinggian 24.000 meter. Pesawat inilah menerjemahkan dan menyampaikan (relay) data antara F-22 dan F-35, dan juga dengan unit di darat melalui link Tactical Targeting Network Terminal (TTNT). Selain itu, TTNT juga mengirimkan trek target ke avionik masing-masing pesawat tempur.

Dalam pengujian baru-baru ini, data dikirim US Army Integrated Battle Command System (IBCS) Airborne Sensor Adaptation Kit (A-Kit), yang menyampaikan data ke Laboratorium Integrasi Sistem Taktis (TSIL) IBCS di Fort Bliss, Texas, untuk mendukung simulasi latihan penembakan Angkatan Darat menggunakan data penargetan dari lima F-35.

Baca juga: Gerah Disandingkan dengan Chengdu J-20, AU AS Canangkan Upgrade ARES untuk F-22 Raptor

Dengan menggunakan U-2, enam pesawat tetap terhubung satu sama lain dengan unit komando, bahkan ketika mereka berada di luar garis pandang satu sama lain. “Project Hydra menandai pertama kalinya komunikasi dua arah terjalin antara pesawat Generasi ke-5 dalam penerbangan, sekaligus berbagi data operasional dan sensor ke operator darat dalam kondisi realtime,” kata Jeff Babione, Vice President Lockheed Martin Skunk Works. (Gilang Perdana)

2 Comments