Soar Dragon – Drone HALE Pengintai Armada Kapal Perang AS di Kawasan Pasifik

Bila Amerika Serikat punya RQ-4 Global Hawk dan Australia kelak punya MQ-4C Triton, keduanya produk Northtrop Grumman, sebagai drone intai strategis dengan kemampuan HALE (High Altitude Long Endurance), lantas bagaimana dengan militer Cina sebagai Sang Naga di Asia Pasifik?

Baca juga: Stonefish “Carrier Killer” – Ancaman Terbesar untuk Kapal Induk AS di Masa Depan

Selain ikut disebut dalam novel thriller Ghost Fleet, faktanya People’s Liberation Army Air Force punya copy-an dari Global Hawk. Disebut sebagai Soar Dragon, drone HALE ini mengemban misi untuk mengintai pergerakan armada kapal perang AS, khususnya kapal yang bersenjatan rudal jelajah di kawasan Asia Pasifik. Seperti 24 Juli 2019 lalu, Soar Dragon terlihat mengikuti pergerakan kapal penjelajah USS Antietam (Ticonderoga Class) saat melintasi Selat Taiwan.

Mengikuti platform RQ-4 Global Hawk, Soar Dragon juga mengadopsi mesi jet yang ditempatkan pada bagian belakang fuselage di bawah tegak. Sebagai alutsista strategis, paparan teknis Soar Dragon memang terbatas. Namun bukan berarti Beijing menutup erat debut Soar Dragon, bagi Cina kehadiran drone berkemampuan HALE adalah sebuah kebanggaan atas pencapaian teknologi dan tentunya mampu memberi efek psikologis bagi lawan-lawan Cina di kawasan.

Debut Soar Dragon pertama kali terendus publik saat tampil dalam bentuk model di Zhuhai AirShow 2006. Sosoknya nyata Soar Dragon baru kemudian terekam kamera pada tahun 2011. Dalam sebuah foto nampak Soar Dragon diduga tengah melakukan pengujian sistem radar dan elektromagnetik sebelum melakukan uji terbang.

Baca juga: Northtrop Grumman MQ-4C Triton – Drone Intai Maritim HALE, Pengganti P-3C Orion Australia

Beragam sensor canggih diduga telah dibenamkan pada payload Soar Dragon, dimana salah satu misi drone ini adalah untuk mengidentikasi dan penargetan kapal-kapal perang lawan. Penargetan dimaksudkan sebagai upaya dapat meluncurkan rudal balistik dan rudal jelajah anti kapal dari daratan dengan pengenaan secara presisi.

Sejak 2018, setidaknya tujuh unit Soar Dragon terpantau berada di tiga pangkalan militer Cina, yaitu di Lanud Shigatse (Tibet), Lanud Lingshui (Pulau Hainan) dan di Lanud Yishuntun. Khusus yang berpangkakan di Lanud Lingshui, kuat dugaan diproyeksi untuk melakukan kegiatan pengintaian di Laut Cina Selatan. Pada awal 2019, proyeksi penggelaran Soar Dragon diwartakan juga ditambah di tiga pangkalan udara strategis lain di Provinsi Jilin.

Dari segelintir informasi tentang Soar Dragon, drone yang ditenagai mesin turbojet Guizhou WP-13 (copy-an dari Tumansky R-13) ini merupakan hasil rancangan dari injiner di Chengdu Aircraft Corporation. Sementara sebagai manufaktur adalah Guizhou Aircraft Industry Corporation.

Meski belum bisa dikomparasi kemampuang intainya dengan RQ-4 Global Hawk, namun bila dilihat dari aspek endurance dan jarak jelajah, nampaknya Global Hawk yang belum lama ini ditembak jatuh Iran lebih unggul dibanding Soar Dragon.

Baca juga: RQ-4 Global Hawk – Pertama Kali Mendarat di Asia Tenggara, Membetot Perhatian di Singapore AirShow 2018

Soar Dragon II

Sebagai perbandingan, Soar Dragon dapat terbang terus-menerus selama 10 jam dengan jarak jelajah 7.000 km. Sementara RQ-4 Global Hawk punya endurance lebih dari 32 jam dan jarak jelajah sampai 22.729 km. Tapi Cina tidak tinggal diam, kabarnya sudah muncul prototipe Soar Dragon II yang diharapkan punya performa lebih baik. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi Soar Dragon
– Panjang: 14,33 meter
– Lebar bentang sayap: 24,86 meter
– Tinggi: 5,41 meter
– Mesin: 1 × Guizhou WP-13 turbojet
– Kecepatan jelajah:750 km per jam
– Jarak jelajah: 7.000 km
– Combat range: 2.000 km
– Endurance: 10 jam
– Ketinggian terbang maks: 18.000 meter

6 Comments