Rheinmetall Rilis Skyranger 30 HEL – Kombinasikan Kanon Hanud, Rudal SHORAD dan Senjata Laser

Sejak tahun 2018 Rheinmetall Defence telah memperkenalkan prototipe High Energy Laser (HEL) Gun yang disematkan pada desain kanon Oerlikon Skyshield. Namun, kala itu adopsi HEL pada kubah Skyshield masih dirasa kurang pas dan ergonomis, sehingga jika ditawarkan ke pasar, senjata dengan konsumsi energi besar itu akan sulit terjual. Nah, guna menyiasati perkembangan dan tentunya kebutuhan pasar, kemudian HEL diintegrasikan sebagai bagian dari sistem senjata pada kanon Skyranger.

Baca juga: Oerlikon Skyranger – Sistem Hanud ‘Tactical Response’ Untuk Natuna

Sebagai catatan, Skyranger adalah sistem kanon reaski cepat besutan Rheinmetall Defence yang diperkenalkan pada tahun 2017. Skyranger pada prinsipnya mengintegrasikan keunggulan mobilitas dan kendaraan lapis baja dalam gelar operasi pertahanan udara, lantaran unit hanud taktis ini mengusung platform kendaraan tempur (ranpur) lapis baja.

Saat mendapatkan upgrade di tahun 2020 sebagai New Skyranger, pada kubah kanon kaliber 30 mm ini sudah dibekali radar AESA (Active Electronically Scanned Array), dua peluncur rudal hanud SHORAD, Infrared scanner dan senapan mesin coaxial. Bobot kubah New Skyranger ada di kisaran 2,5 ton, sementara harga per unit sistem ini ditaksir antara 5-7 juta euro. Sebagai ranpur pengusung, selan IFV Boxer 6×6, Skyranger dapat dipasang pada ranpur roda rantai KF41 Lynx.

Dan seperti dirilis Rheinmetall Defence, kini Skyranger yang terbaru sudah diapatasi dengan fitur HEL dan diberi label sebagai Skyranger 30 HEL.

Skyranger 30 HEL dirancang untuk mengatasi berbagai ancaman udara saat ini dan masa depan dengan solusi hibrida. Interaksi antara kanon otomatis 30 mm, rudal hanud, dan high energy laser, dipercaya dapat menghasilkan campuran efektor yang unik dalam kombinasi sistem pertahanan udara yang rapat.

HEL dikendalikan menggunakan Skymaster fire control system. HEL dikatakan dapat memantau wilayah udara secara mandiri, sekaligus memilih efektor optimal dalam menanggapi ancaman yang terdeteksi. Sementara peran rudal memberikan lapisan luar pertahanan terutama terhadap pesawat, helikopter, dan sistem udara tak berawak. Kemudian, kanon otomatis KCE revolver gun (30 mm x 173) dengan kecepatan tembak 1.200 proyektil per menit yang mengandalkan munisi AHEAD atau ABM (airburst) dirancang untuk mengeliminasi target keras, seperti roket dan proyektil, dan mennadi garis pertahanan kedua setelah rudal.

Penggunaan laser dengan sistem optik dalam HEL ditekankan untuk menghadapi target dari jarak dekat, terutama mengalahkan target soft, seperti drone dan loitering munition, helikopter, pesawat terbang, dan senjata berpemandu.

Baca juga: Oerlikon High Energy Laser Gun: Sistem Hanud Masa Depan dari Rheinmetall Defence

Dalam uji coba langsung, sistem sampel HEL saat ini dapat mencapai output laser sebesar 20 kW. Output laser hingga 20-50 kW direncanakan untuk fase realisasi pertama. Kemampuan untuk meningkatkan kekuatan laser akan digenjot menjadi 100 kW pada fase pengujian akhir, dimana akan digabungkan kemampuan multiple fiber-optic lasers menjadi satu powerful beam. (Gilang Perdana)

4 Comments