PT DI Tuntaskan Konversi Satu Unit CN-235 MPA Malaysia, Dua Unit Lainnya Sebelum Pertengahan Tahun

CN-235 220 TUDM sebelum dikonversi (Humas PT DI)

Setelah tiba di Bandung pada awal September 2020, kini dikabarkan satu unit CN-235-200 milik Angkatan Udara Malaysia (TUDM) telah sukses menjalani program konversi, yakni dari varian angkut serbaguna menjadi varian Maritime Patrol Aircraft (MPA). Sementara dua unit pesawat lainnya, ditargetkan penyelesaian dan delivery-nya pada bulan April dan Mei 2022.

Baca juga: Bukan Dua, Ternyata Malaysia Bakal Konversi Tiga Unit CN-235 ke Varian MPA di Bandung, Ini Spesifikasinya

Hal tersebut diungkapkan PT Dirgantara Indonesia dalam siaran pers yang diterima Indomiliter.com (28/3/2022). Wujud dari pencapaian program konversi armada CN-235 diwujudkan lewat penyerahan Supplemental Type Certificate (STC) pesawat CN235-220 Military Transport milik Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) yang dikonversi di bawah program Maritime Security Initiative (MSI) kepada Panglima Tentera Udara (PTU) TUDM, General Dato Sri Mohd Asgjar Khan bin Goriman Khan, dalam ajang pameran Defence Service Asia (DSA) 2022 di Kuala Lumpur.

Sistem misi instalasi pada pesawat CN-235 milik TUDM telah berhasil memperoleh STC, yang merupakan hasil kerja sama antara Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) Kementerian Pertahanan RI dan Directorate General Technical Airworthiness (DGTA) Kementerian Pertahanan Malaysia.

Dalam ajang internasional pameran DSA 2022, PT DI tergabung dalam Defend ID Paviliun Indonesia bersama-sama dengan PT Len Industri (Persero), PT Pindad, PT PAL Indonesia dan PT Dahana. PT DI promosikan berbagai macam produk unggulannya, seperti pesawat CN-235-220, NC212i, N219, maupun MRO. Hal ini merupakan salah satu upaya perluasan pasar, peningkatan penjualan, serta penjajakan terhadap potensi-potensi kontrak lainnya, baik untuk produk pesawat maupun jasa after sales.

Ketiga CN-235 Malaysia yang dikonversi mengacu pada standar sistem dan perangkat intai yang ada di CN-235 220 MPA milik Puspenerbal TNI AL.

Karena mengacu pada sistem sensor dan intai yang ada di CN-235 220 MPA TNI AL, berikut beberapa fitur yang kemungkinan besar akan disematkan pada CN-233 MPA Malaysia. Untuk FLIR (Forward Looking Infrared), yang bakal diadopsi adalah jenis Star SAFIRE 380HD.

Baca juga: Bila Jadi Beli Airbus A400M Atlas, Indonesia Inginkan Otonomi yang Lebih Luas Atas Produksi CN-235

Secara garis besar FLIR SAFIRE 380HD punya kemampuan identifikasi sasaran dalam kegelapan, terobosan terbaru FLIR juga memungkinkan identifikasi dilakukan dari ketinggian terbang yang maksimum, hal ini pastinya berguna dalam pola operasi, pesawat intai tak harus terbang rendah untuk mendekati sasaran. Artinya secara umum, teknologi pengindraan ini dapat menghemat konsumsi bahan bakar pada pesawat.

CN-235 220 MPA Malaysia juga akan dipasangi belly dome radar yang kemungkinan berisi Ocean Master 400. Secara umum radar Ocean Master 400 terdiri dari 3 komponen, yaitu antena, transmitter, dan unit prosesor. Dalam operasionalnya, perangkat ini dimonitor oleh seorang awak. Antena punya dimensi 955 x 350 mm dengan bobot 16 kg. Ocean Master dapat di setting untuk moda long range/short range/small target. Secara terori untuk deteksi jarak jauh bisa mencapai 200 nautical mile (setara 370,4 km) (Gilang Perdana)

One Comment