Pembom Strategis Cina Xian H-6K Bawa Muatan Misterius, Diduga Rudal Balistik Hipersonik

Pembom strategis Angkatan Udara Cina, Xian H-6K umumnya terlihat membawa rudal jelajah subsonik dan supersonik. Namun, ini untuk pertama kalinya pembom H-6K memperlihatkan membawa rudal aero-balistik – air-launched ballistic missile (ALBM), yang diduga memiliki kecepatan hipersonik.

Baca juga: Pembom Strategis Cina Xian H-6K Luncurkan Drone “Loyal Wingman” LJ-1

Dikutip dari eurasiantimes.com (5/11/2022), disebut sebuah H-6K membawa satu rudal semacam itu di setiap sayap. Penampakan rudal misterius terendus dalam laporan video oleh China Central Television (CCTV). Sementara itu, pejabat militer Cina tidak merinci jenis senjata yang dimaksud, salah satu rudal misterius itu terlihat dengan “2PZD-21” tertulis di tubuhnya.

Laporan media Cina menyatakan bahwa itu tampak seperti rudal udara ke darat dengan bentuk yang sangat mirip dengan rudal balistik. Segera setelah foto-foto mulai membanjiri media sosial, pengamatan paling mencolok yang dibuat oleh para ahli adalah bahwa rudal ini memiliki kemiripan dengan rudal hipersonik aero-balistik Kh-47M2 Kinzhal produksi Rusia, yang dapat memiliki varian anti-kapal.

Song Zhongping, seorang pakar militer Cina dan komentator TV, mengatakan kepada Global Times bahwa rudal tersebut memiliki beberapa kemiripan dengan rudal balistik hipersonik yang diluncurkan dari udara Kinzhal Rusia.

Song juga menyatakan bahwa kemungkinan bisa mengenai target yang diam dan bergerak perlahan seperti kapal induk, rudal jenis ini mungkin akan datang dalam versi darat dan diluncurkan dari kapal perang permukaan.

Perkembangan ALBM dengan kecepatan hipersonik terjadi ketika Rusia mengerahkan jet tempur MiG-31K yang dipersenjatai dengan rudal Kinzhal (sudah digunakan untuk melawan Ukraina) dari wilayah Belarusia.

Kinzhal adalah rudal aero-balistik yang diluncurkan dari udara dengan jangkauan lebih dari 2.000 kilometer. Ketika diluncurkan oleh MiG-31K, tekanan udara di depan rudal hipersonik menciptakan awan plasma dengan kecepatan hipersonik yang menyerap frekuensi radio, yang membuatnya tidak terlihat oleh radar.

Karena kemampuan manuvernya yang ditingkatkan, rudal tersebut dapat menghindari sistem pertahanan rudal anti-balistik (ABM) yang saat ini ada. Fitur-fitur ini cukup untuk memperingatkan sekutu NATO yang belum dapat mencegat rudal hipersonik karena lintasannya yang tidak dapat diprediksi.

Selain bersaing dengan proyeksi kekuatan Rusia, pihak Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, akan lebih terancam oleh Cina yang menggunakan dan mengerahkan rudal serupa. Bahkan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan India yang masih dilanda ketegangan dengan Beijing akan mengamati dengan cermat peluncuran kemunculan sosok rudal misterius tersebut.

Pakar penerbangan militer Cina yang berbasis di Jerman, Andreas Rupprecht, mengatakan dalam sebuah tweet bahwa rudal itu menyerupai CM-401, sebuah rudal anti-kapal balistik ketinggian tinggi. Ini penting karena CM-401 mampu melakukan manuver hipersonik jarak penuh dan dapat diluncurkan dari berbagai platform. Kesamaan, dengan demikian, menunjukkan bahwa ALBM baru bahkan bisa menjadi versi CM-401 yang diluncurkan di udara.

CM-401 memiliki diameter maksimum sekitar 2,8 kaki, menempatkannya dalam kategori yang sama dengan rudal balistik Iskander berbasis darat Rusia, yang juga telah dimodifikasi untuk peluncuran dari udara sebagai rudal balistik Kh-47M2 Kinzhal.

Yang terakhir dikatakan memiliki peran anti-kapal yang belum ditunjukkan secara operasional. Jadi, juga berspekulasi bahwa ALBM baru yang di-flash oleh AU Cina bisa menjadi varian rudal CM-401 yang diluncurkan dari udara.

Diantara ke-12 varian H-6, Xian H-6K disebut-sebut dalam beberapa jurnal sebagai yang terbaru dan tercanggih. Meski desainnya oldskul, H-6K terbilang pesawat pembom baru, lantaran baru terbang perdana pada 5 Januari 2007, dan mulai resmi dioperasikan AU Cina pada Oktober 2009, bertepatan dengan 60 Tahun Perayaan HUT Republik Rakyat Cina.

Dibanding generasi H-6 sebelumnya, Xian H-6K mengalami modifikasi yang cukup mendasar, sebut saja struktur yang diperkuat dengan material komposit, engine inlets yang diperbesar untuk penggunaan mesin Soloviev D-30KP2 turbofan buatan Rusia. Malahan sejak 2009, Cina telah memproduksi mesin WS-18 yang copy-an dari mesin D-30 untuk H-6K.

Baca juga: Xian H-6K Mampu Lepas Landas dari Woody Island, Kini Seluruh Asia Tenggara dalam Jangkauan

H-6 dikatakan memiliki jangkauan 3.700 mil atau hampir 6.000 kilometer, sedangkan H-6K, berkat mesinnya yang lebih efisien, dapat melakukan perjalanan lebih jauh dan mengisi bahan bakar di udara (air refueling). (Bayu Pamungkas)

3 Comments