MQ-9 Reaper Lepaskan Rudal Hellfire R9X “Flying Ginsu”, Dua Pentolan ISIS-K Meregang Nyawa

“We will hunt you down and make you pay,” demikian pekik Presiden Amerika Serikat Joe Biden merespon serangan bom bunuh diri di Bandara Kabul pada 26 Agustus lalu yang menewaskan 13 personel militer AS dan ratusan warga sipil Afghanistan. Dan hanya dalam hitungan hari, Biden mulai menebus janjinya.

Baca juga: Hellfire R9X “Flying Ginsu” – Cara Sadis Mengelimimasi Sasaran Terpilih Tanpa Korban Sipil

Seperti halnya model eliminasi pada gembong teroris sebelumnya, maka dalam kasus penargetan pentolan ISIS-K, kabarnya juga menggunakan rudal Hellfire R9X “Flying Ginsu”. Dikutip dari Bloomberg.com (28/8/2021), rudal Hellfire tanpa hulu ledak itu dilepaskan dari drone kombatan MQ-9 Reaper pada hari Jumat (27/8). Kedua pentolan ISIS-K disebutkan ditembak rudal Hellfire saat berada di bagian timur Kota Kabul, Provinsi Nangahar.

Penggunaan Hellfire R9X dilakukan untuk memberikan efek menakutkan, plus mengurangi jatuhnya korban sipil (civilian casulities) di area sekitar target. Mengingat pergerakan target dalam perlindungan tinggi dan sangat rahasia, maka umumnya serangan lewat drone dilakukan saat target dalam kondisi bergerak, atau artinya sedang menaiki kendaraan. Dari foto yang beredar, nampak target memang dilumpuhkan saat berkendara.

Dengan tujuan untuk menghindari korban dari pihak sipil, Hellfire R9X tidak dilengkapi hulu ledak. Meski tidak ada hulu ledak, tapi cara mengeliminasi sasaran lewat Hellfire R9X bisa dibilang cukup sadis. Sebagai ganti hulu ledak, rudal ini dilengkapi enam pasang pedang lipat (switchblade).

Hellfire R9X menyasar bagian atas kendaraan sasaran, dengan bilah pedang yang mengembang, maka hanya sasaran di dalam kabin kendaraan yang menjadi korban dengan cabikan pedang. Hellfire R9X telah digunakan untuk mengeliminasi Abu Khayr al-Masri, deputy leader of Al-Qaeda. Punya bobot relatif ringan (45 kg), Hellfire dapat melesat dengan kecepatan Mach 1.35 (1.601 km per jam).

Sementara MQ-Reaper yang diterbangkan dari salah satu Pangkalan AU AS di Timur Tengah, dikenal sebagai algojo udara yang battle proven. Setidaknya sudah dua petinggi militer Iran yang tewas akibat serangan dari MQ-9 Reaper.

Yang pertama Jenderal Qasem Soleimani yang tewas akibat serangan rudal “Flying Ginsu” di Bandara Baghdad pada 3 Januari 2020. Kedua, Muslim Shahdan yang menjabat sebagai komandan senior di Pasukan Pengawal Revolusi Iran, tewas akibat serangan drone pada 29 November di tahun yang sama. Shahdan dilaporkan tewas beserta tiga pengawalnya di dalam kendaraan yang berada di perbatasan Irak dan Suriah.

Sekilas tentang MQ-9 Reaper, drone produksi General Atomics Aeronautical Systems ini dapat terbang terus menerus selama 40 jam (dalam muatan ringan) atau 14 jam (dalam payload penuh). Total payload yang bisa dibawa mencapai 1,7 ton. Senjata favorit yang bisa dibawa adalah bom pintar GBU-12 Paveway II, rudal udara ke permukaan AGM-114 Hellfire II, rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder dan GBU-38 Joint Direct Attack Munition (JDAM).

Baca juga: Jenderal Iran Qasem Soleimani Jadi Korban Hellfire R9X Ninja “Flying Ginsu”

Dengan mesin turborop 1 × Honeywell TPE331-10, Reaper dapat melesat dengan kecepatan maksimum 482 km per jam dan kecepatan jelajah 313 km per jam. Jarak jelajah Reaper bisa mencapai 1.900 km dengan kendali Beyond Line of Sight. (Gilang Perdana)

7 Comments