“Maju Sulit Mundur Pun Rugi,” Dilema Indonesia dalam Program Jet Tempur KFX/IFX

Menutup tahun 2020, isu seputar masa depan jet tempur (Korean Fighter Experiment)/IFX (Indonesian Fighter Experiment) kembali mengemuka, khususnya setelah media Korea Selatan – Korea JoongAng Daily pada 28 Desember lalu mengangkat kembali isu ini, sebenarnya tak ada informasi yang baru, hanya memang menarik untuk memperhatikan posisi Indonesia yang serba sulit dalam program ini.

Baca juga: Saat Menhan ‘Lirak-Lirik’ Jet Tempur dari Eropa, Bagaimana Nasib Program KFX/IFX?

Korea JoongAng Daily mengungkapkan adanya dugaan Indonesia bakal mundur dalam program pengembangan KFX/IFX. Indikasi Indonesia bakal mundur dari program KFX/IFX menguat dengan beberapa pertanda, selain mangkir dalam angsuran jadwal pembayaran dana pengembangan, Indonesia juga tidak mengirimkan kembali 114 teknis dari PT Dirgantara Indonesia yang dipulangkan pada Maret 2020 karena pandemi virus corona di Korea Selatan.

Sesuai kesepatakan bilateral pada tahun 2016, Indonesia kebagian porsi untuk menanggung biaya pengembangan sebesar 20 persen, dengan nilai total US$1,5 miliar dan sampai saat ini baru terbayarkan sekitar US$200 juta. Merespon dari permasalahan keuangan yang dihadapi Indonesia, pemerintah Korea Selatan dan Indonesia kemudian sepakat membentuk komite bersama dan akan menyelesaikan negosiasi ulang dalam waktu 12 bulan, terhitung mulai Oktober 2018.

Namun yang menjadi masalah (lagi), negosiasi ulang antara Indonesia dengan Komite Bersama Korea gagal menyimpulkan solusi dalam batas waktu yang disepakati, malahan negosiasi ulang ditunda lantaran pandemi Covid-19.

Menurut salah satu sumber dari Pemerintah Korea Selatan, pejabat Indonesia meminta negosiasi ulang kesepakatan awal KFX/IFX, dimana meminta lebih banyak transfer teknologi sebagai imbalan atas komitmennya, serta pengurangan bebannya dari 20 menjadi 15 persen. Namun, lagi-lagi, belum ada kesepakatan yang dicapai, dan negosiasi tetap berlangsung, kata pejabat itu.

Malahan sempat ada kabar, bahwa Indonesia menawarkan pembayaran kontribusi dalam bentuk barang, yakni seperti penjualan pesawat angkut CN-235, ground equipment dan pakaian untuk orang dewasa. Dikatakan juga Indonesia telah meminta perpanjangan batas waktu pembayaran dan memperluas transfer of technology yang didapatkan dari program KFX/IFX.

Kepincut Rafale
Secara garis besar maju mundurnya negosiasi soal KFX/IFX rupanya menarik pemain baru dalam perhatian pemangku kebijakan di Indonesia. Seperti diungkapkan media Perancis, La Tribune, yang menyebut hampir terjadi kesepakatan untuk pembelian 48 unit jet tempur Rafale sebagai bagian dari kerja sama pertahanan komprehensif dengan Perancis.

Tawaran yang dikeluarkan oleh Perancis, menurut salah satu sumber di industri pertahanan Korea Selatan termasuk transfer teknologi yang jauh lebih besar, telah memikat Indonesia. “KFX/IFX adalah jet tempur yang saat ini hanya ada di cetak biru, tapi Rafale adalah jet yang sudah beroperasi,” kata sumber itu. “Untuk Indonesia, [melengkapi angkatan udaranya dengan jet Perancis] mungkin merupakan kesepakatan yang layak untuk dicapai, meskipun itu berarti melepaskan dana yang telah terlanjut dikucurkan.”

Sejauh ini, belum ada pembahasan tentang dana yang telah dikucurkan Indonesia senilai US$200 juta, jika Indonesia benar-benar menarik diri dari program KFX/IFX, boleh jadi dana tersebut sulit untuk ‘kembali.’ Sementara jika terus maju melanjutkan program KFX/IFX, maka terbentur permasalahan anggaran yang diperparah dampak Covid-19.

Pengaruh Ketegangan di Laut Cina Selatan
Ketegangan dan ancaman meletusnya konflik terbuka di Laut Cina Selatan, disebut-sebut menjadikan Jakarta ingin memperoleh jet tempur generasi baru dalam waktu yang tidak terlampau lama. Digawangi oleh Korea Aerospace Industries (KAI), bila Indonesia terus maju dalam program KFX/IFX, maka paling cepat Indonesia baru bisa mendapatkan unit perdana IFX pada tahun 2026 ke atas.

Terlepas dari sikap tak jelas Indonesia, Pemerintah Korea Selatan bersikeras, meski Indonesia menarik penuh dari program tersebut, namun program KFX akan tetap berjalan sesuai rencana. Bagi Korea Selatan, adanya kabar lanjutan dari pemerintah Indonesia sangat dinanti, pasalnya pada April 2021, prototipe perdana KFX/IFX akan diluncurkan (roll out) dan kepastian keterlibatan Indonesia sangat dinanti bagi masa depan program ini.

Namun, masalah terbesar terletak pada investasi yang dijanjikan Indonesia. Bila Indonesia mundur, maka hilang produksi 51 unit jet yang dijanjikan akan dipesan untuk kebutuhan TNI AU. Akibat berkurangnya kuantitas produksi secara keseluruhan, maka akan meningkatkan biaya per unit, yang ujung-ujungnya berpotensi merugikan prospek ekspor jet tempur tersebut.

Baca juga: Indonesia Pertimbangkan Mundur dalam Program Jet Tempur KFX/IFX

Mengutip dari tealgroup.com, harga satu unit KFX ditaksir mencapai US$100 juta, namun itu taksiran harga tertinggi, ada sumber lain yang menyebut harga jual per unit jet tempur ini bakal ada di kisaran US$70 juta. (Haryo Adjie)

77 Comments