Ilmuwan Cina Studi Serangan Rudal Hipersonik dari Peluncur di Luar Angkasa (Space Based Platform)

Dengan industri berteknologi tinggi serta obsesi menantang hegemoni AS dan Barat, maka bukan tak mungkin proyek-proyek militer ‘kelas dewa’ dapat diwujudkan oleh Cina. Seperti belum lama, sebuah studi yang dipublikasi South China Morning Post mengungkap para ilmuwan dari Chinese Academy of Sciences yang berafiliasi dengan PLA Rocket Force, menjelaskan kerangka teoritis peluncuran Hypersonic Glide Vehicle (HGV) dari orbit di luar angkasa (space based platform).

Baca juga: Xi Jinping Inspeksi DF-26 Brigade Pasukan Roket, Tegaskan Cina Tak Kesempingkan Opsi Militer dalam Masalah Taiwan

HGV menawarkan kecepatan hipersonik hingga Mach 20, dapat mencapai target di mana pun di Bumi dalam waktu kurang dari 30 menit, yang secara signifikan mengurangi kemampuan peringatan dini dan reaksi dari musuh.

Dalam model serangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina (dengan ground based platform), maka pada kecepatan hipersonik mendekati 21.000 km/jam, HGV akan kembali memasuki atmosfer Bumi dan bermanuver menuju target mereka menggunakan profil penerbangan berbasis daya angkat. Strategi ini dapat membuat lintasannya lebih sulit diprediksi dibandingkan dengan rudal balistik tradisional.

Sementara dalam konteks platform berbasis luar angkasa (space-based platform), HGV menjadi elemen kunci karena kemampuannya untuk masuk kembali ke atmosfer Bumi dengan kecepatan ekstrem hipersonik (Mach 5 hingga Mach 20). Meluncur (glide) dan bermanuver menuju target dengan lintasan tak terduga dan menghindari sistem pertahanan rudal konvensional karena tidak meluncur dalam lintasan balistik biasa seperti ICBM.

Cina Pamerkan GDF-600 – Wahana Luncur Hipersonik (HGV) yang Mampu Melepaskan Sub Amunisi di Target Area

Untuk konteks space based platform, Cina sedang meneliti kemungkinan untuk meluncurkan HGV dari satelit atau kendaraan orbit, ini bisa menggunakan wahana mirip dengan bus peluncur atau kendaraan angkut dari orbit rendah Bumi (LEO). Platform seperti itu bisa menyimpan beberapa HGV dan melepaskannya ke atmosfer saat dibutuhkan — konsep ini mirip dengan sistem orbital bombardment (FOBS) yang pernah dikembangkan Uni Soviet.

Sedangkan untuk mengangkut HGV ke orbit atau mendekati ruang angkasa, rudal pembawa diperlukan. Beberapa kemungkinan seperti penggunaan roket peluncur Long March (Chang Zheng) family yang dapat dimodifikasi untuk peluncuran militer.

Bisa juga dengan rudal balistik jarak menengah DF-17 yang dapat membawa HGV DF-ZF (Wu-14). Saat ini digunakan untuk peluncuran dari darat, tapi teknologinya dapat menjadi basis untuk sistem orbital.

Dan yang paling canggih adalah Future Spaceplane atau orbital drone, Cina sedang mengembangkan wahana orbit berawak dan tak berawak yang dapat digunakan untuk deploy payload militer dari orbit, seperti X-37B milik AS — kendaraan orbit tak berawak yang bisa membuka muatan dan menjatuhkannya ke Bumi.

Meskipun konsep space based platform untuk peluncuran HGV terdengar sangat canggih dan menakutkan secara strategis, namun ada sejumlah kelemahan besar yang membuatnya belum ideal untuk digunakan secara operasional saat ini. Seperti masalah panas saat re-entry, HGV yang diluncurkan dari luar angkasa harus masuk kembali ke atmosfer, proses ini menghasilkan panas ekstrem (ribuan derajat Celsius), yang artinya butuh perlindungan termal khusus agar tidak terbakar atau kehilangan presisi.

Kemudian ada kendala manuver dan kendali, di ruang angkasa, manuver awal sangat terbatas, dan begitu HGV masuk atmosfer, ia rentan terhadap gangguan atmosferik. Akurasi bisa turun jika tidak ada sistem navigasi presisi seperti GPS — yang bisa diblokir/dijamming oleh musuh.

Belum lagi ada deteksi dini dari satelit militer seperti milik AS (SBIRS) bisa mendeteksi objek yang berubah orbit atau bersiap melakukan serangan. Artinya, tidak mungkin melakukan serangan kejutan secara total. Deteksi peluncuran bisa memberi waktu reaksi lawan. Space based platform (seperti stasiun peluncur di orbit) bisa dijadikan target prioritas dalam konflik, seperti dihancurkan oleh senjata (rudal)) anti-satelit (ASAT).

ASM-135 ASAT – Satu-satunya Rudal dari Jet Tempur yang Sukses Hancurkan Satelit di Luar Angkasa

Dan yang tak kalah penting, mengirim platform ke orbit, menyediakan energi, pendinginan, sistem kontrol, dan sistem komunikasi tahan gangguan adalah tantangan besar. Belum lagi prosedur pengisian ulang rudal atau kendaraan luncur jika ingin operasi berulang, yang butuh roket berat seperti Long March 5 atau sekelas Falcon 9 untuk menempatkan sistem peluncur ke orbit, dengan biaya yang sangat besar.

Meskipun Cina sedang meneliti konsep ini, dan AS/Rusia pun tertarik, teknologi ini kemungkinan besar lebih digunakan untuk efek psikologis/deterrence saat ini, ketimbang benar-benar operasional dalam waktu dekat. (Bayu Pamungkas)

Pertama Kali Iran Luncurkan “Sejjil” ke Israel – Rudal Balistik Hipersonik yang Mendapat Julukan “Dancing Missile”