Gagal di Jakarta, Boeing Panen di Seoul: 59 Unit F-15K Korea Selatan Disulap Setara Eagle II

Meskipun kampanye F-15EX Eagle II di Indonesia dinyatakan berakhir, Boeing Defense justru meraih kesuksesan besar melalui kontrak modernisasi armada F-15K Slam Eagle milik Angkatan Udara Korea Selatan (RoKAF). Kontrak strategis senilai US$2,8 miliar ini bertujuan untuk mentransformasi jet tempur andalan Seoul tersebut menjadi varian yang jauh lebih mematikan, yang untuk sementara dijuluki sebagai F-15K+.
Baca juga: Setelah Tiga Tahun MoU, Boeing Nyatakan Kesepakatan F-15EX dengan Indonesia Berakhir
Melalui proyek ambisius ini, seluruh pekerjaan modernisasi akan dipusatkan di fasilitas utama Boeing di St. Louis, Amerika Serikat, dengan target penyelesaian seluruh armada pada akhir tahun 2037 mendatang.
Paket peningkatan yang akan diterima oleh F-15K mencakup perombakan total pada arsitektur sistem misi untuk mengejar standar F-15EX Eagle II yang paling mutakhir. Fokus utama upgrade ini terletak pada pemasangan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) tipe AN/APG-82(v)1 yang memberikan jangkauan deteksi jauh lebih luas serta sistem peperangan elektronik AN/ALQ-250 EPAWSS yang sangat canggih untuk memproteksi pesawat dari ancaman rudal modern.
Selain itu, pesawat akan dilengkapi dengan komputer misi pusat yang baru serta desain ulang kokpit yang kini menggunakan Large Area Display berbasis kristal cair (LCD) untuk memberikan kesadaran situasional maksimal bagi pilot. Berdasarkan laporan media Korea Selatan, dua unit pertama hasil modifikasi ini diharapkan sudah bisa dikirim kembali ke Seoul pada akhir tahun 2028.
Banyak pihak mungkin mempertanyakan alasan di balik upgrade besar-besaran ini, mengingat F-15K sebenarnya telah menjadi platform yang mumpuni sejak pertama kali didatangkan. Namun, kebutuhan untuk menghadapi dinamika ancaman di kawasan serta tuntutan interoperabilitas dengan sekutu membuat pemutakhiran sistem elektronik menjadi harga mati.
Tanpa modernisasi ke standar “Plus” ini, F-15K akan sulit mengimbangi kemajuan teknologi perang elektronik masa kini. Saat ini, RoKAF mengoperasikan 59 unit F-15K dari total 61 unit yang dipesan secara bertahap sejak tahun 2005 hingga 2012 untuk menggantikan peran jet tempur veteran F-4 Phantom II.
Secara strategis, F-15K Slam Eagle tetap menjadi aset serangan kunci yang tak tergantikan bagi militer Korea Selatan. Dengan kemampuan membawa rudal jelajah Taurus KEPD-350, pesawat ini memegang peran sebagai “pemukul berat” yang memberikan dukungan kritikal bagi jet tempur stealth F-35A Lightning II.
Strategi tersebut mengadopsi pendekatan serupa yang diterapkan oleh Amerika Serikat, Israel, dan Jepang, di mana F-15 bertugas sebagai penyedia daya gempur maksimal sementara F-35 menjalankan misi penetrasi senyap. Dengan kontrak yang berjalan hingga dua dekade ke depan, F-15K dipastikan akan tetap menjadi primadona dan ujung tombak kedaulatan udara di Semenanjung Korea. (Gilang Perdana)
Korea Selatan Upgrade Armada Jet Tempur F-15K Slam Eagle, Diproyeksi Mengudara Sampai 2060



syarat pengunaan f 15 terlalu berat untuk dipenuhi, haluan politik harus pro us, ga boleh kerjasama dengan ini itu,…. sudahlah kalau terlalu banyak aturan yg mengikat mo pakai jadi sibuk baca baca syarat dan ketentuan nya,…. mending lupakan beli yg lain
Meskipun diatas kertas pespur Amerika masih mendominasi, akan tetapi jika diakusisi oleh RI maka, pespur tersebut secara fungsional dibatasi oleh Amerika dan tidak tertutup kemungkinan Amerika meminta imbalan keuntungan yang menudutkan pihak pembeli
Saya pribadi senang dengan batalnya kontrak F-15ID karena untuk apa dibeli jika manfaaatnya kurang karena dibatasi
Jangankan RI, negara dibenua biru saja sekarang banyak mengalihkan pembelian hampir semua jenis alusistanya dari Amerila