Setelah Tiga Tahun MoU, Boeing Nyatakan Kesepakatan F-15EX dengan Indonesia Berakhir

Meski telah ada Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding/MoU) antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (RI) dan Boeing untuk pengadaan 24 unit F-15EX yang ditandatangani pada 21 Agustus 2023 di  St Louis, Missouri, namun, hampit tiga tahun berlalu, belum juga ada kepastian atas kelanjutan pengadaan tersebut, pasalnya pihak Boeing masih menantikan adanya kontrak efektif.

Baca juga: Jelang Indo Defence, Rencana Pembelian F-15EX Eagle II Kembali Mengemuka, Boeing Siap Sesuaikan Kebutuhan Indonesia

Dan dari hari pertama Singapore Airshow 2026 (3 – 12 Februari 2026), ada kabar mengejutkan terkait masa depan F-15EX untuk Indonesia. Dikutip dari Reuters.com, Bernd Peters, vice president of business development and strategy at Boeing Defense, menyebut bahwa status pesanan F-15EX untuk Indonesia adalah “No Longer an Active Campaign”.

Meski demikian, Peters enggan menjelaskan lebih lanjut alasan di balik keputusan tersebut. Ia mengarahkan pertanyaan lanjutan kepada pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah Indonesia.

Penghentian proyek ini berpotensi memengaruhi rencana ekspansi dan modernisasi kekuatan udara Indonesia, mengingat kesepakatan F-15EX sebelumnya disebut sebagai salah satu proyek strategis pertahanan nasional

Pernyataan Bernd Peters bahwa F-15EX bukan lagi kampanye aktif bagi Boeing berarti perusahaan tersebut telah menghentikan upaya penjualan atau proses produksi yang sebelumnya direncanakan untuk Indonesia. Padahal, pada Agustus 2023, Menteri Pertahanan Indonesia (saat itu Prabowo Subianto) sudah menandatangani MoU di St. Louis untuk pengadaan 24 unit jet tempur yang diberi kode khusus F-15ID.

Meskipun Boeing tidak memberikan detail dan melempar bola panas ke pemerintah AS dan Indonesia, ada beberapa kemungkinan faktor yang biasanya menjadi ganjalan dalam kesepakatan sebesar ini, seperti masalah pembiayaan. Kesepakatan 24 unit F-15EX diperkirakan bernilai sekitar US$13,9 miliar. Dengan kondisi ekonomi global dan prioritas anggaran dalam negeri, ada kemungkinan hambatan pada skema pendanaan atau persetujuan kredit ekspor.

Kilas Balik Tawaran Paket Alutsista dari DSCA dan Isu Neraca Perdagangan AS – Indonesia

Kemudian ada faktor persetujuan Pemerintah AS (Kongres). Penjualan alutsista tingkat tinggi dari AS selalu membutuhkan lampu hijau dari Kongres. Jika ada hambatan birokrasi atau politik di Washington, Boeing tidak bisa melangkah lebih jauh.

Ditambah, Boeing saat ini sedang menghadapi banyak masalah internal pada divisi pesawat komersial mereka. Mungkin saja mereka memutuskan untuk memprioritaskan pesanan lain yang lebih pasti secara finansial dan politik. Di sisi lain, Boeing telah mendapatkan pesanan lain untuk F-15EX, yakni dari Israel yang memesan 25 unit F-15IA (Israel Advanced)—varian yang berbasis pada F-15EX Eagle II—dengan opsi tambahan sebanyak 25 unit lagi di masa depan. (Gilang Perdana)

Pentagon Resmi Teken Kontrak US$8,6 Miliar: F-15IA Israel Segera Masuk Jalur Produksi

.

11 Comments