Dua Kapal Selam TNI AL Uji Penembakan di Pulau Sapudi, KRI Cakra 401 (Torpedo SUT) dan KRI Alugoro 405 (Torpedo Black Shark)

Mengambil lokasi di sekitaran Pulau Sapudi (sebelah timur Pulau Madura), Komando Armada II diwartakan bakal menggelar uji penembakan torpedo berat (heavy torpedo) yang melibatkan dua unit kapal selam dan dua jenis torpedo. Rangkaian persiapan uji penembakan torpedo tersebut telah dipublikasikan, salah satunya lewat Instagram Komanda Armada II.

Baca juga:Β Tentang Sasaran Pada Uji Tembak Torpedo Black Shark di Perairan Utara Bali, Ini Jawabannya!

Dua jenis torpedo yang akan diuji tembak adalah torpedo Surface and Under Water (SUT) yang akan diluncurkan dari KRI Cakra 401 dan torpedo Black Shark yang akan diluncurkan dari KRI Alugoro 405. Meski kedua torpedo punya kaliber yang sama (533 mm), namun Black Shark adalah torpedo yang lebih modern dan kini menjadi torpedo tercanggih di arsenal Korps Hiu Kencana. Torpedo Black Shark didatangkan untuk melengkapi persenjataan pada kapal selam Nagapasa class.

Torpedo SUT
Torpedo SUT adalah produksi AEG (Allgemeine ElektrizitΓ€ts-Gesellschaft), Telefunken, Jerman, yang dahulu pernah diproduksi secara lisensi oleh PT Dirgantara Indonesia (d/h PT IPTN).

Torpedo SUT 533 mm.

Torpedo SUT punya panjang enam meter lebih, berat torpedo SUT ditaksir lebih dari 1,4 ton, yang mana di dalamnya sudah termasuk hulu ledak seberat 225 kg. PT DI membuat dua varian SUT torpedo, torpedo latihan dan torpedo perang. Khusus varian latihan baterai torpedo dapat diisi ulang. Satu kali isi ulang dapat digunakan 10 hingga 15 kali latihan. Umur baterai torpedo dapat diperpanjang, Hal ini membuat usia pakai SUT Torpedo menjadi lebih lama.

Dirancang sejak tahun 1967, torpedo SUT punya jarak jangkau sekitar 38 km dengan kemampuan menyelam hingga lebih dari 100 meter. Dalam menuju sasarannya torpedo SUT digerakkan dengan motor listrik yang mampu memberikan daya dorong hingga 35 knots dengan tingkat kebisingan rendah dan dipandu menggunakan sistem pemandu sonar pasif dan aktif. Kecepatan 35 knots bisa dimungkinkan saat menghajar sasaran sejauh 12 km, sedangkan untuk sasaran 28 km kecepatan torpedo merosot jadi 23 knots. Sebagai sumber pasokan tenaga adalah baterai silver zinc.

Tahap pemasangan torpedo SUT

Di arsenal TNI AL, torpedo SUT bukan hanya digunakan pada kapal selam Type 209 Cakra class, melainkan torpedo SUT juga dipersiapkan sebagai sistem senjata pada KCT (Kapal Cepat Torpedo) FPB-57 TNI AL. Tiap FPB-57 dapat membawa dua torpedo, tanpa isi ulang.

Torpedo Black Shark
Black Shark adalah tipe torpedo heavy weight buatan Whitehead Sistemi Subacquei (WASS), Finmeccanica Company, Italia (Leonardo). Tak hanya garang dari nama yang disematkan, tapi Black Shark atau yang akrab diberi label IF21, juga wujud dari torpedo tercanggih di kelas kaliber 533 mm. Sejak aktif digunakan pada tahun 2004, Black Shark di dapuk sebagai sosok senjata monster bawah laut yang mampu menjangkau target long range dan multi purpose.

Black Shark asasinya untuk mengahajar kapal selam dan kapal permukaan, torpedo ini juga mampu manjalankan misi antiship torpedo. Dari segi operasional, Black Shark ideal untuk digunakan di perairan dalam dan perairan dangkal. Agar sukses menghantar maut ke sasaran yang dituju, Black Shark punya kemampuan full stealth, dalam artian tingkat emisi suara yang dipancarkan nyaris tidak terdeteksi. Sebagai alutsista berstandar NATO, Black Shark mengusung STANAG 4405, dengan interface yang punya kompabilitas dengan semuan CMS (Combat Management Systems) modern.

Torpedo dengan bobot 1,5 ton ini punya kemampuan long range dengan jarak luncur ideal hingga 50 km dengan kecepatan maksimum 50 knots. Namun, sesuai kebutuhan operasi dan jenis sasaran yang ingin dihantam, Black Shark dapat di setting meluncur hingga kecepatan 52 knots untuk jarak luncur 22 km. Sementara bila dibutuhkan, jarak luncur bisa di setting sampai 90 km, namun kecepatan melorot jadi 12 knots.

Black Shark dibekali dua bilah propeller yang masing-masing bergerak secara berlawanan, pola gerakan propeller ini menghasilkan tingkat kesenyapan yang tinggi, selain laju kecepatan tinggi pada torpedo.

Untuk hulu ledak Black Shark dibekali powerful explosive charge, meski pihak pabrikan merahasiakan berat hulu ledaknya. Pada prinsipnya, hulu ledak dapat diaktifkan oleh pengaruh dari gelombang akustik dan efek tabrakan. Amunisi yang diusung bersifat sensitif dengan standar STANAG 4439 dan MURAT-2.

Baca juga:Β KRI Nagapasa 403 Laksanakan Uji Tembak Torpedo Black Shark di Perairan Utara Bali

Sumber pasokan tenaga Black Shark berasal dari desain baru advanced lithium polymer rechargeable battery. Sistem propulsi listrik, didasarkan pada baterai oksida perak dan aluminium. Baterai ini punya kepadatan energi yang tinggi dan konduktivitas elektrolit tinggi menawarkan keamanan maksimum dan penyimpanan energi hingga 12 tahun. (Bayu Pamungkas)

12 Comments