Deteksi Satelit Mata-mata, Cina Perlihatkan Radar Anti Satelit “Starlink” SLC-18P

Bagi Cina, laga Perang Ukraina bisa menjadi pelajaran, khususnya terkait teknologi satelit. Meski Rusia dan Cina mampu melakukan jamming dan spoofing pada GPS (Global Positioning System), namun lain halnya dengan satelit Starlink yang dioperasikan SpaceX. Starlink milik Elon Musk dalam Perang Ukraina, disebut telah membawa kerugian pada militer Rusia. Dan kasus Starlink boleh jadi akan merepotkan bila suatu saat Cina akan melakukan invasi ke Taiwan.

Baca juga: Beroperasi di Atas Ukraina, Rusia Isyaratkan Bisa Tembak Jatuh Satelit Starlink Milik SpaceX

Meski tidak secara khusus mengaitkan dengan keberadan satelit Starlink, pada ajang Zhuhai AirShow 2022, untuk pertama kalinya Cina memperlihatkan radar dengan antena raksasa yang diberi kode SLC-18P Active Phased Arrray Radar. Dikutip dari eurasiantimes.com (10/11/2022), disebut bahwa radar ini dirancang untuk menargetkan ancaman yang ada di luar angkasa.

Lantaran menjadi maskot selama Zhuhai AirShow, dengan cepat radar ini menarik perhatian netizen Cina, yang kemudian mereka menyebutnya dengan label radar Anti Starlink.

Radar ini dirancang utamanya untuk pengawasan target ruang angkasa, dan para analis menduga radar ini menargetkan keberadaan satelit di orbit rendah bumi. Satelit tersebut mengorbit pada jarak 500 hingga 2.000 kilometer dari permukaan bumi.

Beberapa satelit yang mengorbit di orbit rendah bumi biasanya berperan untuk pengumpulan intelijen dan pengawasan di medan perang. Oleh karena itu, negara-negara di seluruh dunia sedang mencari solusi yang efektif untuk mengganggu satelit lawan mereka. Sejalan dengan tujuan itu, radar anti-satelit SLC-18P secara khusus dibuat untuk mendeteksi dan melacak ancaman dari luar angkasa.

Sistem radar SLC-18P dilaporkan menggunakan teknologi AESA (Active Electronically Scanned Array (AESA) solid-state. Radar ini dapat melakukan pencarian dan akuisisi, pengukuran pelacakan, perhitungan orbit, katalogisasi, dan peramalan target pada satelit do orbit rendah.Cina mengklaim radar ini mampu memperoleh data pengukuran pelacakan multi-target.

Cina dapat saja melakukan jamming GPS untuk mengganggu kemampuan navigasi lawan. Namun, di bawah skenario Starlink, satelit ini dapat menemukan titik mana pun di medan perang dengan akurasi delapan meter.

Selain itu, kolaborasi yang berkembang antara SpaceX dan militer AS telah mengkhawatirkan Beijung. Misalnya, pada tahun 2020, SpaceX menandatangani kontrak dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk membangun teknologi baru berdasarkan platform Starlink, termasuk instrumen sensitif yang mampu mendeteksi dan melacak rudal hipersonik.

Satelit-satelit ini (Starlink) mungkin berkembang menjadi jaringan sensor yang mengorbit dan akan memberikan informasi kepada sistem pertahanan rudal AS, kemana mengarahkan rudal mereka, sehingga menghalangi serangan rudal dari Cina.

Para analis Cina menduga bahwa koneksi satelit Starlink akan memungkinkan drone militer AS dan jet tempur stealth untuk meningkatkan kecepatan transmisi data mereka lebih dari 100 kali lipat. Mengingat kekhawatiran tersebut, maka masuk akal jika sektor pertahanan Cina berkonsentrasi pada pengembangan radar anti satelit.

Radar SLC-18P dikembangkan oleh 14th Research Institute of China Electronics Technology Group Corporation (CETC). Selama ini CETC dianggap sebagai pelopor sektor elektronik dan informasi nasional Cina, pencetus industri radar dan pencipta peralatan elektronik berskala besar, baru, dan canggih.

Baca juga: Perusahaan Swasta Australia Luncurkan Kontainer Mobile untuk Deteksi Objek Asing di Luar Angkasa

Radar ini menggunakan sistem array fase aktif all-solid-state mutakhir dan beroperasi pada pita frekuensi rendah, yang menawarkan keuntungan seperti kemampuan multi-target dan jangkauan pencarian yang luas. Sistem radar ini mampu beroperasi di semua kondisi cuaca. (Gilang Perdana)