Bukan Bayraktar TB2, Inilah Alasan Malaysia Pilih Drone Tempur Anka-S

Meralat berita sebelumnya yang mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Turki yang menyebut bahwa Malaysia (dan Indonesia) berminat pada Bayraktar TB2, dimana kesepakatan sedang ditandatangani, maka ada update terbaru, yaitu Negeri Jiran itu tetap mempercayakan Turki sebagai pemasok drone, namun yang dipilih bukan Bayraktar TB2, melainkan tiga unit UCAV Anka-S produksi Turkish Aerospace Industries.

Baca juga: Menlu Turki: “Indonesia dan Malaysia Berminat Pada Bayraktar TB2, Kesepakatan Sedang Ditandatangani”

Mengutip dari defensenews.com (13/10/2022), “Untuk pengadaan tiga unit MALE-UAS, Pemerintah telah memilih Turkish Aerospace Industries (TAI),” kata Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein dalam sebuah pernyataan, Minggu. Rencana pembelian drone akan didanai di bawah rencana pengeluaran lima tahun – Malaysia Plan, dan bukan dari anggaran pertahanan.

Menurut rilis berita TAI di tahun 2019, menjelang pameran pertahanan dan dirgantara LIMA, manufaktur plat merah itu takan mengadakan pembicaraan tingkat tinggi tentang ekspor Anka. Dan pada 18 Agustus 2022, Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah mengunjungi fasilitas TAI di Ankara, Turki. Kemudian pada 7 Oktober lalu, TAI mengumumkan nota kesepahaman untuk bekerja sama dengan MIMOS, lembaga riset dan pengembangan teknologi Malaysia.

Sejauh ini, pihak TAI belum mengeluarkan pernyataan tentang terpilihnya Anka untuk militer Malaysia. Meski sudah ada keputusan tentang terpilinya Anka, namun program akuisisi alutsista itu masih menemui kendala.

Pasalnya periode kerja parlemen telah berakhir, sementara parlemen baru akan dibentuk setelah pemilu. Sebagai informasi, pengadaan alutsista di Malaysia membutuhkan persetujuan dari parlemen. Ini artinya, pengadaan Anka untuk Angkatan Udara Malaysia harus menunggu persetujuan dari anggota parlemen periode mendatang.

Lantas apa yang menjadi alasan Malaysia akhirnya memilih Anka-S, ketimbang Bayraktar TB2 yang sedang naik daun dan laris di pasaran? M Daim sahaja, pengamat militer dari Malaysia menyebutkan, “Anka terpilih karena punya kemampuan MALE (Medium Altitude Long Endurance) yang lebih baik, sedangkan Bayraktar TB2 lebih ideal untuk misi taktis, hal ini penting untuk mendukung misi kami di Laut Cina Selatan,” ujar Daim. Ia menambahkan, sedari awal TAI sudah lebih banyak terlibat dalam pembahasan bersama otoritas Malaysia.

Sebagai informasi, Anka-S yang beberapa tahun lalu sempat ditawarkan ke Indonesia, adalah drone MALE yang dapat terbang selama 30 jam non stop di ketinggian 9.200 meter di atas permukaan laut. Sementara jarak jelajahnya dalam mode Line of Sight (LoS) mencapai 250 km.

Teknologi kendali dan avionik drone ini sudah disokong synthetic aperture radar (SAR), inverse SAR (ISAR) dan ground moving target indicator (GMTI) radar untuk mendeteksi, identifikasi, dan penjejakan pada sasaran bergerak di permukaan. Pada bagian hidung Anka-S terlihat lebih besar, lantaran ini merupakan radome yang di dalamnya terdapat airborne satellite communications (SATCOM) antenna dari jenis ViaSat VR-18C high-power.

Baca juga: Gelar Operasi Sapu Ranjau di Laut Hitam, AL Turki Kerahkan Drone Anka-S dengan Radar MILSAR SAR/MTI

Sementara Bayraktar TB2, yang juga drone MALE, dapat terbang lebih dari 20 jam pada ketinggian 6.858 meter. Jarak jelajahnya dalam mode Line of Sight (LoS) mencapai 150 km. (Haryo Adjie)

2 Comments