Boeing Australia Kembangkan Drone ScanEagle dengan Teknologi Otonom Anti Tabrakan

(Insitu Pacific/Boeing Australia)

Australia dikenal sebagai pengguna drone intai ScanEagle terbesar di luar Amerika Serikat. Bahkan, Angkatan Darat Australia pernah mengerahkan ScanEagle dalam operasi di Irak dan Afghanistan, meski kini hanya dioperasikan oleh Angkatan Laut Australia (RAN), ada kabar bahwa ScanEagle milik Australia mendapatkan kemampuan baru dalam hal navigasinya.

Baca juga: Angkatan Laut Malaysia Resmikan Beroperasinya Skadron Drone ScanEagle

Dikutip dari Janes.com (16/4/2021), disebutkan upgrade navigasi itu dilakukan oleh Boeing Australia (Insitu Pacific). Peningkatan kemampuan pada ScanEagle Australia yaitu berupa instalasi perangkat pengindraan baru, dimana ScanEagle dilengkapi teknologi otonom untuk mendeteksi dan menghindari ancaman dan halangan.

Solusi ini dikembangkan untuk meningkatkan jangkauan deteksi antara sistem drone dan pengguna wilayah udara lainnya, meningkatkan kemampuan untuk mengintegrasikan drone dengan aman ke dalam berbagai situasi di udara. Singkat kata, teknologi baru ini akan meningkatkan keamanan dalam penerbangan, khususnya dari kemungkinan tabrakan di udara.

Pasukan Australia dengan ScanEagle di Irak.

Andrew Duggan, managing director di Insitu Pacific mencatat, bahwa setelah lebih dari lima tahun pengembangan, kapabilitas ini sekarang “siap digunakan dalam operasi dunia nyata”, terutama setelah teknologi ini berhasil mendeteksi pesawat lain pada jarak lebih dari satu mil laut selama pengujian terbaru, menunjukkan bahwa teknologi ini telah melampaui persyaratan untuk penghindaran yang aman.

Dalam pengoperasiannya, ScanEagle diawaki oleh kru pada Ground Control Station. Sistem kontrol dan navigasi ScanEagle menggunakan GPS waypoint dan autonomous object tracking and autonomous in-flight route mapping. Untuk transmisi data, ScanEagle disokong datalink UHF 900MHz dan downlink S-band 2.4GHz untuk transmisi video.

Standarnya drone yang juga digunakan oleh Puspenerbal TNI AL ini, dilengkapi sensor thermal beresolusi tinggi DRS E6000. Sensor ini menyediakan resolusi 640×480 pixels dengan 25 micron pitch. ScanEagle juga dilengkapi short-wave infrared camera buatan Goodrich Sensors. Untuk misi memburu sniper, ScanEagle milik AU AS dipasangi sniper gun fire detection and location system. Pengujian terus berlanjut, yang terbaru ScanEagle malah digarap Boeing untuk instalasi NanoSAR synthetic aperture radar (SAR).

Baca juga: Diintegrasikan Oleh PT Len, TNI AL Akan Terima 14 Unit Drone Intai Maritim ScanEagle

Sebagai dapur pacu, ScanEagle menggunakan tenaga propeller dengan dua bilah baling-baling. Menggunakan mesin piston dapat dihasilkan tenaga 0,97kW. Dalam sekali terbang, ScanEagle dapat membawa 4,3 kg bahan bakar (JP5 jet aircraft fuel). (Gilang Perdana)

5 Comments