Arab Saudi Bergabung dengan Inggris dalam Program Future Combat Air System (FCAS)

Arab Saudi mendobrak tradisi, bila sebelumnya dikenal sebagai negara kaya minyak yang terpaku pada membeli jadi produk alutsista canggih, maka Negeri Raja Salman kini membuat gebrakan dengan niatan untuk bergabung bersama Inggris dalam program Future Combat Air System (FCAS), yakni pengembangan jet tempur generasi keenam.

Baca juga: Jadi ‘Launcher’ Remote Carriers, Inilah Peran Airbus A400M di FCAS

Dikutip dari Janes.com (2/3/2023), Kementerian Pertahanan Kerajaan Arab Saudi telah menandatangani declaration of intent (DOI) untuk bergabung dengan program FCAS Inggris, meskipun tidak dijelaskan, apakah ini termasuk keterlibatan Arab Saudi dalam program pesawat tempur generasi keenam Tempest yang kini sedang berjalan.

Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman mengumumkan DOI ditandatangani dengan rekannya dari Inggris, Ben Wallace, pada 1 Maret 2023, selama pertemuan di Riyadh mengenai kerja sama pertahanan yang lebih luas antara kedua negara.

“Kami menandatangani deklarasi niat untuk berpartisipasi dalam program FCAS yang akan memperkuat kemampuan pertahanan Arab Saudi melalui kemitraan komprehensif yang mencakup proyek produksi dan penelitian serta pengembangan bersama untuk sistem udara masa depan,” kata bin Salman men-tweet dari akun resminya.

Saat ini dalam tahap konsep dan penilaian, program FCAS terdiri dari FCAS Technology Initiative (FCAS TI) dan FCAS Acquisition Program (FCAS AP), dan diarahkan untuk memberikan teknologi yang akan menambah dan kemudian menggantikan Eurofighter Typhoon di Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force).

FCAS adalah akronim yang banyak digunakan untuk proyek pesawat tempur generasi mendatang yang dikenal sebagai Future Combat Air System, termasuk dalam FCAS adalah program jet tempur stealth Tempest yang dipimpin Inggris, yang baru-baru ini diperluas dengan memasukkan Jepang di bawah kerangka kerja baru yang disebut program Global Air Combat.

Laporan singkat media resmi Saudi tidak menunjukkan apakah Riyadh berencana untuk bergabung dengan program tempur yang dipimpin Inggris secara langsung, tetapi analis pertahanan memperingatkan bahwa aliansi semacam itu biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk bernegosiasi.

(BAE Systems)

Rencana untuk mengembangkan FCAS pertama kali diumumkan pada tahun 2017 oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Tidak lama setelah itu, FCAS yang dipimpin Inggris juga sedang dikembangkan bersama Jepang dan Italia.

Proyek FCAS Inggris (Tempest) disebut sebagai “game changing” yang akan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk pertempuran di masa depan. Pesawat yang diberi nama Tempest oleh Royal Air Force itu akan menjadi jet tercanggih yang beroperasi saat lepas landas pada tahun 2035.

Baca juga: Inilah “Tempest,” Program Jet Tempur yang Bikin Inggris Ingin Pangkas Pesanan F-35B

Tempest nantinya tidak akan memiliki tombol di kokpit, disokong teknologi kecerdasan buatan, memungkinkan pesawat tempur ini untuk tetap dalam pertempuran jika pilot kehilangan kesadaran.

Tempest pada dasarnya dapat diterbangkan dengan awak dan tanpa awak, jet tempur ini juga dipersiakan untuk beroperasi teaming dengan Loyal Wingman. Dari spesifikasi, Tempest mengusung dual Rolls-Royce afterburning turbofan engines. Kecepatan maksimum Tempest 2.500 km per jam dan mampu terbang sampai ketinggian 15.500 meter. Jangkaun terbang jet tempur masa depan ini 3.200 km.

Sebagai jet tempur stealth, amunisi disimpan di dalam bomb bay, meski pesawat ini juga menyediakan hardpoint untuk misi khusus. Tempest punya panjang 19 meter, lebar 13,5 meter dan tinggi 5 meter. Bobot kosong Tempest 14,5 ton, seentara bobot maksimum saat tinggal landas 25 ton.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengatakan pesawat tempur itu akan berada di “kemajuan mutakhir dalam teknologi pertahanan”. Rencananya Tempest akan menggantikan Eurofighter dan Dassault Rafale dengan kombinasi pesawat berawak dan tak berawak, mulai tahun 2040.

Baca juga: Proyek “Future Combat Air System” Resmi Diumumkan, Bakal Gantikan Rafale dan Typhoon di 2040

Perancis, Jerman, dan Spanyol tahun lalu mencapai kesepakatan untuk memulai fase lanjutan dari FCAS dalam menciptakan jet tempur dalam proyek pertahanan terbesar di Eropa, yang diperkirakan menelan biaya lebih dari €100 miliar (US$103,4 miliar). FCAS dimaksudkan untuk beroperasi pada tahun 2040 tetapi telah diganggu oleh ketidaksepakatan selama berbulan-bulan antara Airbus dan Dassault Aviation. (Gilang Perdana)