61 Tahun D-21: Menyingkap Jejak Drone Supersonik Mach 3 yang Melampaui Zamannya

Bersamaan dengan tanggal penerbangan perdana SR-71 Blackbird, pada 22 Desember 1964 juga menjadi saksi lahirnya sebuah teknologi yang jauh lebih misterius. Di hari yang sama, divisi Skunk Works milik Lockheed menerbangkan untuk pertama kalinya D-21, sebuah drone pengintai yang dirancang untuk menembus batas kecepatan dan ketinggian yang sulit dibayangkan pada zamannya.
D-21 bukan sekadar proyek sampingan, drone ini adalah turunan langsung dari keluarga pesawat intai A-12 dan SR-71. Dirancang oleh jenius penerbangan Kelly Johnson, drone ini lahir dari kebutuhan mendesak CIA untuk memata-matai situs nuklir sensitif milik lawan tanpa harus mempertaruhkan nyawa pilot di wilayah udara musuh. Hubungan antara keduanya sangat erat hingga secara teknis mereka disebut sebagai pasangan “Ibu dan Anak”.
Kode “D-21” berasal dari huruf “D” untuk Daughter (Anak), sementara pesawat induknya, sebuah varian khusus A-12, diberi kode M-21 yang berarti Mother (Ibu). Dalam operasionalnya, D-21 tidak lepas landas dari darat, melainkan digendong di atas punggung M-21 hingga mencapai kecepatan supersonik di mana mesin uniknya bisa bekerja.
Secara teknis, D-21 adalah sebuah mahakarya aerodinamika. Drone ini ditenagai oleh mesin ramjet Marquardt RJ43-MA-11 yang sangat efisien pada kecepatan tinggi. Spesifikasinya mencerminkan ambisi gila era Perang Dingin, D-21 mampu melesat hingga Mach 3.35 (lebih dari 3.600 km/jam) dan terbang stabil di ketinggian 90.000 kaki—wilayah di mana langit mulai menggelap menuju luar angkasa.

Berbeda dengan drone modern yang dikendalikan via satelit, D-21 beroperasi secara mandiri menggunakan sistem navigasi inersia yang sudah diprogram. Misinya adalah terbang sejauh ribuan mil, memotret target, lalu terbang kembali ke wilayah aman di atas laut lepas. Di sana, drone akan melepaskan tabung berisi film kamera yang akan ditangkap di udara oleh pesawat C-130 Hercules, sementara badan drone akan hancur sendiri saat menghantam air laut.
Meskipun teknologinya luar biasa, perjalanan D-21 penuh dengan tantangan maut. Pada tahun 1966, sebuah uji coba peluncuran berakhir tragis ketika drone tersebut menabrak pesawat induknya saat memisahkan diri, mengakibatkan hancurnya pesawat M-21 dan gugurnya salah satu awak.

Kejadian tersebut membuat metode peluncuran diubah; D-21 dimodifikasi menjadi varian D-21B yang diluncurkan dari bawah sayap pesawat pengebom strategis B-52 Stratofortress dengan bantuan roket pendorong raksasa.
Rekam jejak operasinya mencatat empat misi pengintaian nyata di atas situs nuklir Lop Nor, Cina, antara tahun 1969 hingga 1971. Namun, nasib baik jarang berpihak pada proyek ini. Dari keempat misi tersebut, tidak ada satu pun yang berhasil membawa pulang data foto.

Kegagalan teknis mulai dari masalah navigasi hingga parasut kamera yang tidak mengembang membuat program ini akhirnya resmi dihentikan pada Juli 1971.
Setelah masa operasinya berakhir, sisa-sisa armada D-21 sempat disimpan di fasilitas “Boneyard” Arizona. Namun, kecanggihan desainnya tidak dibiarkan begitu saja. Beberapa unit sempat dimanfaatkan untuk penelitian aeronautika kecepatan tinggi, termasuk keterlibatan terbatas dalam program pengujian yang dilakukan oleh NASA untuk mempelajari aliran udara supersonik dan teknologi ramjet.
Kini, 61 tahun sejak penerbangan perdana yang dilakukan bersamaan dengan SR-71, D-21 tetap menjadi simbol dari keberanian para insinyur masa lalu dalam mengejar mustahil. Ia mungkin tidak setenar saudaranya yang berawak, namun D-21 adalah kakek buyut dari teknologi drone siluman modern yang kita kenal hari ini. (Gilang Perdana)
Wuzhen 8 (DR-8) – Inilah Drone Intai Supersonik Lansiran Negeri Tirai Bambu


