Uzbekistan Beli Drone VTOL Flexrotor dari Airbus untuk Pengawasan Perbatasan dengan Afghanistan

Pemerintah Uzbekistan, melalui industrinya (Uzoboronprom/UzD), telah mencapai kesepakatan akuisisi yang signifikan dengan Airbus (melalui anak perusahaan Aerovel) untuk sistem pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) Flexrotor. Akuisisi ini menegaskan upaya Uzbekistan untuk memodernisasi kemampuan militer dan pengawasan perbatasannya, terutama di wilayah yang berbatasan dengan Afghanistan.
Baca juga: Lanjutkan Pengembangan Drone VTOL Flexrotor, Airbus Helicopters Akuisisi Aerovel
Jumlah pasti unit Flexrotor yang diakuisisi tidak diungkapkan secara resmi, sesuai dengan praktik transaksi pertahanan di wilayah tersebut. Namun, laporan industri mengindikasikan bahwa Uzbekistan telah mengakuisisi batch yang signifikan untuk membangun kapasitas operasional yang memadai.
Nilai finansial kontrak ini juga dirahasiakan, tetapi diperkirakan bernilai jutaan dolar mengingat teknologi canggih dan kemampuan jangka panjang dari drone tersebut.
Flexrotor menonjol di pasar drone karena merupakan sistem VTOL (Vertical Take-Off and Landing) yang sangat efisien, menggabungkan kemudahan helikopter dengan daya tahan pesawat sayap tetap (fixed-wing).
AL AS Uji Aerovel Flexrotor di Lautan – Drone VTOL Hybrid Berdesain ala Roket
Flexrotor mengusung propulsi mesin multi-bahan bakar yang efisien dan senyap. Daya tahan (endurance) drone ini lebih dari 30 jam (tergantung muatan dan profil misi).
Beban Muatan (payload) hingga 3 kg, termasuk bekal kamera EO/IR presisi tinggi dan laser illuminator). Fitur unik Flexrotor mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal di ruang sempit (seperti geladak kapal atau area hutan) sebelum transisi menjadi penerbangan efisien seperti pesawat.
AU Singapura Uji Coba “Crewed-uncrewed Teaming” Antara Helikopter H225M Caracal dan Drone Flexrotor
Kemampuan Flexrotor sangat cocok dengan kebutuhan operasional militer Uzbekistan, terutama dalam konteks keamanan perbatasan dan pengawasan aset strategis. Ini adalah fungsi militer utama Flexrotor. Dengan kemampuan terbang terus-menerus selama lebih dari 30 jam, satu unit Flexrotor dapat memantau sektor perbatasan yang luas tanpa henti (terutama perbatasan Uzbekistan dengan Afghanistan yang rawan penyelundupan dan infiltrasi).
Karena kemampuan VTOL-nya, Flexrotor tidak memerlukan landasan pacu yang panjang. Drone dapat diluncurkan dan diambil kembali dari pos militer kecil di medan yang sulit, memungkinkan fleksibilitas taktis yang tinggi.
Flexrotor membawa sensor optik dan infra merah beresolusi tinggi (gimbal EO/IR), memungkinkan operator untuk mengidentifikasi pergerakan personel atau kendaraan musuh di malam hari atau kondisi cuaca buruk, menentukan koordinat target dengan presisi untuk diteruskan ke artileri atau unit serangan udara lainnya. (Gilang Perdana)
Dubai Airshow 2025: Kalashnikov Tampilkan Integrasi Drone Intai SKAT 350M dan Drone Kamikaze KUB-2E


