Tidak Tergantung Pada Internet, Inilah Keunggulan Radar ADS-B Buatan Depohar 50 TNI AU

Perangkat yang satu ini kerap terdengar dalam dunia penerbangan sipil, bahkan Kementerian Perhubungan RI telah mewajibkan setiap pesawat komersial yang beroperasi di Indonesia untuk dilengkapi dengan apa yang disebut Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B). Karena dianggap penting, data dari Direktorat Navigasi Penerbangan menyebutkan sudah terdapat 30 unit ADS-B Groundstation yang telah dipasang di seluruh Indonesia dan dioperasikan oleh Airnav.

Baca juga: Dengan Radar Weibel, Kini Satrad 215 Mampu Mengendus Pergerakan di Pulau Christmas

Instalasi fasilitas ADS-B Groundstation tersebut telah dilakukan secara bertahap sejak 2006 sampai dengan 2014. Dan masih terkait perangkat yang sama, TNI lewat Depohar 50 Koharmatau telah meluncurkan prototipe radar ADS-B.

Seperti dikutip dari tni-au.mil.id (18/10), disebutkan telah dilakukan uji dinamis pada radar ADS-B. Uji dinamis dilaksanakan di Satuan Radar 215 Congot Yogyakarta. Hal ini menunjukan bahwa salah satu kemampuan Depohar jajaran Koharmatau adalah melaksanakan pembuatan produk lokal sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengadaan dan perbaikan materiel dari pihak luar TNI AU.

Radar ADS-B sendiri bukan sesuatu yang baru bagi TNI AU, namun selama ini masih mengandalkan produk lansiran luar negeri. ADS-B buatan Depohar 50 disebut-sebut sangat ekonomis dari segi biaya tetapi mempunyai kemampuan yang lebih hadal dibandingkan dengan radar ADS-B yang dimiliki TNI AU saat ini. Radar ADS-B buatan Depohar 50 ini tidak tergantung terhadap internet, bahkan dapat langsung diintegrasikan dengan Existing System yang sudah dimiliki oleh Kohanudnas.

Sekilas ADS-B
Pamor perangkat ini terdongkrak saat hilangnya pesawat Boeing 777-200 MH370 Malaysia Airlines. Seperti diwartakan banyak media, ADS-B milik Indonesia sempat mendeteksi keberadaan pesawat Boeing 777 berkode MH370 milik Malaysia Airlines sebelum hilang. Alat ADS-B diletakan di Pulau Matak yang letaknya bersinggungan dengan Laut Cina Selatan.

Ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang, ADS-B adalah pengganti untuk (atau untuk suplemen) surveillance tradisional pesawat terbang berbasis radar. ADS-B merupakan perubahan besar dalam filosofi surveillance – dari hanya menggunakan radar di darat mendeteksi pesawat terbang dan menentukan posisi mereka, namun sekarang setiap pesawat terbang dapat menggunakan GPS untuk menemukan posisinya sendiri dan kemudian secara otomatis melaporkannya ke darat. Posisi GPS yang dilaporkan oleh ADS-B menjadi lebih akurat dibandingkan dengan posisi radar saat ini dan lebih konsisten.

Dalam dunia penerbangan militer, ADS-B pun digunakan, merujuk informasi dari opensky-network.org, penerbangan militer umumnya menggunakan ADS-B mode A/C/S. Seperti di Eropa ada 6.000 pesawat militer yang menggunakan ADS-B dengan mode tersebut.

Baca juga:Β Misteri MH-370 – Sempat Menghindari Pantauan Radar Kohanudnas!

Meski banyak kegunaannya, namun karena memancarkan informasi berupa koordinat dan status serta parameter penting dari pesawat, ADS-B dalam dunia militer masih dianggap rentan dalam aspek cyber security, hal ini menjadi perhatian yang diungkapkan pihak Kementerian Pertahanan Amerika Serikat.

Sementara itu,Β  diharapkan setelah uji dinamis ini, lembaga legalisator dalam hal ini Dislitbangau untuk segera melaksanakan sertifikasi terhadap Radar ADS-B buatan Depohar 50, selanjutnya dapat di produksi secara masal guna mendukung dan memenuhi kebutuhan alutsista TNI AU khususnya radar. (Gilang Perdana)

5 Comments