RT-20 – Senapan Sniper Anti Material Tanpa Efek Tolak Balik

Di segmen senapan sniper atau senapan runduk, Denel NTW-20 yang dioperasikan Satuan Intai Amfibi (Taifib) Korps Marinir, adalah senapan sniper dengan kaliber terbesar yang digunakan di lingkup TNI, pasalnya senapan buatan Afrika Selatan itu selain bisa melepaskan proyektil kaliber 14,5 x 114 mm, NTW-20 juga sanggup melepasan proyektil 20 x 82 mm.

Baca juga: Denel NTW-20 – Senapan Anti Material Taifib Korps Marinir TNI AL

Kaliber 20 mm pada senapan runduk dikenal juga dengan sebutan senapan anti material, mengingat peluru 20 mm memiliki jarak jangkau lebih jauh dibanding 14,5 mm atau 12,7 mm. Nah, selain NTW-20, ada senapan anti material yang banyak dikatakan punya kekuatan dan daya hancur serupa NTW-20. Yang dimaksud adalah RT-20 buatan Krasia dan dibanding senapan anti material yang beredar di pasaran, RT-20 punya desain yang unik dan tak lazim.

Merujuk ke sejarahnya, RT-20 dikembangkan oleh Metallic di Rijeka pada pertengahan 1990-an dan dipasarkan oleh RH-Alan pada tahun 1993. Awalnya, senapan anti material dengan kaliber 20 mm ini disiapkan untuk menembak perangkat thermal sights pada MBT (Main Battle Tank) M-84 dan T-72 milik Serbia. RT-20 merupakan kependekan dari bahasa Kroasia (Ruฤni Top 20) atau “Handheld Cannon 20mm.”

Lantas mengapa RT-20 disebut sebagai senapan anti material unik? Jawabannya terletak dari pola operasinya, tidak seperti Denel NTW-20 yang menggunakan magasin berisi 9 peluru, maka RT-20 tidak dilengkapi magasin, alhasil setiap kali dilakukan penembakan, maka sniper perlu memasukan satu per satu peluru ke dalam receiver, artinya pasca dilakukan penembakan, maka perlu dilakukan reload amunisi.

Meski pola operasinya dirasa kurang praktis, namun, RT-20 punya keunggulan, yaitu tidak memiliki efek hentakan/tolak balik (recoilless). Fitur tanpa recoil itu dapat terjadi berkat kehadiran tabung counter recoil reactive atau back blast yang disematkan di atas receiver. Peran tabung tersebut menyalurkan gas dari kartrid keluar dari ujung belakang, mirip dengan senapan recoilless atau peluncur roket.

Walau menawarkan fitur tanpa hentakan, sistem counter recoil reactive jarang digunakan. Ada beragam sebab mengapan fitur ini tidak popuer, seperti tidak dapat ditembakkan di ruang terbatas. Kerugian lain yang mungkin adalah bahwa gas dari ledakan belakang dapat dideteksi oleh musuh dan posisi persembunyian penembak jitu akan terganggu.

Karakteristik lain yang membedakan RT-20 dari senapan sniper berat lainnya adalah optik (Kahles K312 II) dan bolt lever ditempatkan di sisi kiri senapan itu sendiri. Sebagai catatan, jarak tembak efektif senapan ini sangat bergantung pada sifat sasaran itu sendiri. Meski begitu, jarak tembak maksimum efektifnya dipatok 2.000 meter.

Baca juga: Barret M82A1 – Kenyang Pengalaman Tempur, Dipercaya Kopassus Sebagai Senapan Anti Material

Mengusung kaliber 20 x 110 mm, RT-20 punya panjang laras 920 mm, dan panjang keseluruhan 1330 mm. Senapan dengan bipod ini punya kecepatan luncur proyektil 850 meter per detik. Bobot senapan RT-20 tanpa bipod dan alat bidik mencapai 15,1 kg. Saat ini, pengguna RT-20 hanyalah unit pasukan khusus Kroasia. (Bayu Pamungkas)

Tags:
8 Comments