Problem Pilot F-16 Ukraina: “Terpaksa Terbang di Ketinggian Rendah dan Menurunnya Efektivitas Rudal AIM-120 AMRAAM”

Bila dikalkulasi, Angkatan Udara Ukraina mestinya bakal memperoleh donasi 85 unit jet tempur F-16 Fighting Falcon dalam beberapa pekan mendatang. Meski dianggap sebagai ‘game changer’ dalam perang melawan Rusia, namun pengoperasian F-16 akan menghadapi beberapa tantangan berat. Salah satunya adalah Elang Penempur itu bakal dipaksa untuk terbang di ketinggian rendah, yang artinya rudal udara ke udara yang dilepaskan F-16, kemungkinan akan menurun kemampuannya.

Baca juga: Terungkap, Begini Cara Ukraina Melindungi Jet Tempur F-16 dari Serangan Rusia

Analisa tersebut diungkapkan oleh Justin Bronk, peneliti bidang Airpower and Technology Military Sciences di RUSI (Royal United Services Institute). Bronk dalam analisanya mengemukakan, bahwa salah satu target utama F-16 adalah menembak jatuh jet tempur dan pembom strategis Rusia dari jarak jauh. Untuk itu, paket F-16 untuk Ukraina memang dibekali dengan rudal udara ke udara jarak sedang/jauh AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile).

Angkatan Udara Ukraina berusaha keras untuk mencegat pesawat pembom tempur Sukhoi Rusia (Su-34 Fullback) yang selama ini menjadi momok menakutkan, pasalnya kerap melepaskan bom luncur berpemandu satelit jauh ke wilayah Ukraina. “Dan untuk saat ini, Ukraina praktis tidak memiliki tindakan pencegahan,” ujar Bronk.

Sukhoi Su-34 yang terbang tinggi dan cepat dapat melemparkan bom luncur sejauh 25 mil—atau bahkan 40 mil untuk bom pintar yang lebih baru dan memiliki jarak yang lebih jauh. Jumlah tersebut sudah cukup jauh yang menyebabkan sistem pertahanan udara Ukraina yang sudah ada, seperti pesawat tempur bekas Uni Soviet dan baterai rudal hanud tidak selalu bisa membalas serangan.

Nah, untuk menghindari deteksi dan terkena sengatan rudal hanud seperti S-400 serta sistem hanud berlapis Rusia di sekitar perbatasan, maka pilot F-16 bakal ‘dipaksa’ untuk terbang di ketinggian rendah saat menjalankan misi di garis depan. Ketimbang harus menerobos masuk ke ruang udara Rusia dan meladeni duel dengan Sukhoi Su-30SM/Su-35, maka strategi paling ampuh adalah meluncurklan rudal udara ke udara seperti AIM-120D yang punya jangkauan 160 – 180 kilometer.

Dalam gelar operasi tempurnya, gerak manuver F-16 Ukraina dipercaya bakal mendapat dukungan informasi dan data dari pesawat intai AWACS NATO untuk melakukan panduan pada sasaran di jarak jauh.

Seperti dikutip Forbes.com, Bronk menyebut bahwa dalam skenario di atas, AIM-120 tidak akan mencapai jangkauan maksimumnya. Secara teori, rudal AMRAAM tetap bisa diluncurkan dari ketinggian rendah dan masih bisa mengenai target. Namun, peluncuran dari ketinggian rendah menghadirkan sejumlah tantangan yang bisa mempengaruhi efektivitas rudal. Untuk mencapai kinerja terbaik, rudal ini lebih efektif jika diluncurkan dari ketinggian sedang hingga tinggi, di mana AMRAAM dapat memanfaatkan profil penerbangan dan sistem panduannya secara optimal.

Dibekali sistem pemandu berupa kombinasi Inertial guidance, terminal active radar homing dan optional mid-course update datalink, efektivitas AIM-120 AMRAAM (memang dapat dipengaruhi oleh ketinggian peluncuran. Beberapa tantangan AMRAAM saat diluncurkan darin ketinggian rendah seperti densitas udara lebih tinggi, line of sight (garis pandang), waktu penerbangan rudal dan kondisi atmosferik, terutama pada ketinggian rendah kerap terjadi turbulensi, awan, dan kondisi atmosferik lain yang lebih prevalen pada ketinggian rendah sehingga dapat mempengaruhi performa sensor rudal dan sistem pemandunya. (Bayu Pamungkas)

AS Pelajari Kemungkinan MiG-29 Fulcrum Mampu Meluncurkan Rudal AIM-120 AMRAAM

7 Comments