Pengalaman dari CF-18 Hornet Kanada, Tidak Mudah Tembak Jatuh Balon Udara, Jadi Alasan F-22 Raptor Akhirnya Gunakan AIM-9X Sidewinder

Drama balon mata-mata milik Cina yang melintasi wilayah AS telah berakhir saat balon di ketinggian stratosfer itu akhirnya ditembak jatuh oleh jet tempur F-22 Raptor dengan menggunakan rudal udara ke udara AIM-9X Sidewinder. Keputusan menembak balon diambil oleh Presiden Joe Biden setelah posisi balon berada di lepas pantai Carolina Selatan guna memastikan tidak ada warga di darat yang terkena dampak.

Baca juga: Kasus Balon Mata-mata Cina, F-22 Raptor Scramble untuk Lakukan Pengamatan Langsung

F-22 Raptor dilaporkan menembakkan rudal AIM-9X Sidewinder ke balon mata-mata Cina dari ketinggian 58.000 kaki (17.678 meter). Balon pada saat itu tingginya ada di rentang 60.000 dan 65.000 kaki (19.812 meter). F-15 Eagles yang terbang dari Barnes Air National Guard Base mendukung F-22, begitu pula tanker dari berbagai negara bagian. Sontak saja, ini menjadi misi penghancuran pertama untuk F-22 Raptor pada sasaran di udara.

Sementara Beijing mengungkapkan ketidaksetujuan dan protes keras atas penggunaan kekuatan yang menyerang pesawat tak berawak sipil. Cina telah memberi tahu pihak AS bahwa balon itu dimaksudkan untuk penggunaan sipil dan memasuki [wilayah udara] AS karena kondisi yang tidak terkendali.”Ini adalah situasi yang benar-benar tidak terduga,” kata Kementerian Pertahanan Cina.

Sebuah balon ketinggian yang diduga milik China melayang di atas Billings, Montana pada Rabu, 1 Februari 2023. (Larry Mayer/The Billings Gazette via AP)

Pihak Cina mengatakan berhak atas tanggapan lebih lanjut dan akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah.

Lepas dari balon udara Cina yang kini telah jatuh ke perairan dan puing-puingnya sedang diteliti oleh aparat keamanan dan intelijen AS, tahukan Anda bahwa misi menembak jatuh balon sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh jet tempur CF-18 Hornet milik Angkatan Udara Kanada.

Hampir 25 tahun silam, sebuah balon cuaca besar (seukuran bangunan 25 lantai) telah membuat kelabakan sepasang jet tempur CF-18 Hornet yang mencoba menembak jatuh. Faktanya, sudah 1.000 peluru dari kanon Gatling M61A1 Vulcan 20 mm telah ditembakkan ke arahnya, namun, balon tidak kunjung jatuh.

Sebagai catatan, kanon Gatling M61A1 pada F/A-18 Hornet ditempatkan pada bagian hidung, dan dalam sekali terbang, jet tempur twin engine itu membawa satu drum magasin yang berisi 578 peluru kaliber 20 mm.

Associated Press melaporkan pada saat itu, sekitar Agustus 1998, balon penelitian ozon melewati Kanada, melewati Samudra Atlantik, dan melalui wilayah udara Inggris sebelum memasuki wilayah udara Islandia dan kemudian melayang ke utara.

Meski helium perlahan telah bocor, tapi balon besar itu tak kunjung meletus atau meledak, balon masih awet berada di udara. Seorang juru bicara militer Kanada mengatakan kepada BBC bahwa sulit untuk membidik balon, meskipun ukurannya kira-kira sebesar bangunan 25 lantai, dan kegagalan untuk menjatuhkannya bukanlah hal yang memalukan.

Dengan CF-18 Hornet yang terbang cepat, maka sangat sulit untuk menembak balon. CF-18 dilaporkan dilengkapi dengan rudal udara ke udara Sidewinder, tetapi pilot menahan diri untuk tidak menggunakannya. “Warga tidak akan menghargai jika rudal meledak di atas kepala mereka,” ujar juru bicara AU Kanada. Juga, mungkin menghabiskan beberapa ratus ribu dolar untuk sebuah rudal udara ke udara, hanya untuk menembak jatuh balon yang akan hanyut di air.

Buntut dari balon helium setinggi 91 meter itu mendorong pengawas lalu lintas udara untuk mengalihkan dan menunda penerbangan transatlantik.

Baca juga: Balon Mata-mata Cina Lintasi Daratan AS dan Mengarah ke Sejumlah Situs Sensitif

Dengan insiden balon di ketinggian yang sulit ditembak menggunakan kanon, maka boleh jadi itulah alasan AU AS menggunakan rudal AIM-9X Sidewinder untuk menjatuhkan sosok High Altitude Balloon asal Cina tersebut. (Gilang Perdana)

8 Comments