OV-10G+ Combat Dragon II: Lambang Supremasi Bronco dalam Jagad Pesawat COIN

Dibanding angkatan udara yang ada di Asia Tenggara, maka arsenal kekuatan AU Filipina terasa unik dan menarik untuk dibahas. Sebut saja, Filipina kini menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengoperasikan pesawat COIN (Counter Insurgency) dan FAC (Forward Air Control) secara penuh untuk menggasak pemberontak. Bahkan ada tawaran untuk mendatangkan pesawat pelumat gerilyawan dari basis DC-3 Dakota, Basler BT-67 Gunship. Menjadikan konfigurasi kekuatan AU Filipina, tak ada duanya di kawasan ini.

Baca juga: Basler BT-67 Gunship РReinkarnasi Dakota untuk Operasi Anti Gerilya

Tentang OV-10 Bronco yang sukses melakukan bombing di Marawi pertengaha tahun lalu, kabarnya juga akan ditambah jumlahnya. Bekas? Sudah barang tentu, pasalnya OV-10 kini tak lagi diproduksi. Seperti dikutip dari defensemedianetwork.com, disebutkan bahwa AU Filipina (Philippine Air Force) akan menerima paket empat unit OV-10 Bronco bekas pakai AU Amerika Serikat. Komposisinya terdiri dari dua unit OV-10A, yang merupakan versi dasar dan belum mendapat modifikasi. Dan dua unit lainnya adalah OV-10G+ Combat Dragon II Bronco.

Sudah barang tentu yang disebut terakhir mengundang tanya, seperti apakah kemampuan dari OV-10G+? Sebagai perbandingan yang digunakan TNI AU dahulu adalah OV-10F Bronco. Dengan label “Combat Dragon II Bronco,” pesawat ini menyiratkan kesan sangar. Mungkin itu ada benarnya, lantaran operator varian Bronco ini hanyalah US Special Operations Command (US SOCOM). Sebelumnya memang ada OV-10G (tanpa plus) yang sudah digunakan AU Korea Selatan.

OV-10G+ meski tongkrongannya tak berbeda jauh dengan OV-10F TNI AU, namun jeroan dan perangkat elektroniknya serba canggih, tak ayal pesawat ini masih diandalkan AS saat laga di Perang Teluk dan Afghanistan. Dari aspek persenjataan, selain bekal untuk meluncurkan bom pintar, nyaris tak ada yang terlalu heboh dari Bronco II ini.

Namun lain hal bila bicara jeroan, karena digunakan untuk operasi khusus, OV-10G+ dilengkapi kubah sensor L3 Wescam MX-15D Electro-Optical Infra-Red (EO/IR), yan disematkan pada bagian bawah hidung pesawat. Untuk kedua awaknya juga dilengkapi dengan helm yang terkoneksi dengan kamera full motion Vortex dan ROVER capability guna mendukung helmet mounted targeting system.

Untuk perlindungan dari sengatan rudal pencari panas, OV-10G+ dilengkapi chaff/flare dispensers. Bicara soal teknologi navigasi, sudah disiapkan teknologi glass cockpit, sistem komunikasi Line of Sight/Satellite Communications (SATCOM), link 16 tacticak data link, dan radios taktis Harris Falcon III.

Tentang persenjataan, OV-10G+ punya kapabilitas untuk menembakkan Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS), sejenis roket FFAR (Fin Folding Aerial Rocket) yang dipandu dari kubah EO/IR. Sistem ini juga yang digunakan OV-10G+ untuk merilis bom pintar GBU-12 Paveway II dan GBU-49 Enhanced Paveway II, dua jenis bom pintar yang memang sudah dimiliki Filipina.

Baca juga: Boeing Terjun dalam Proyek Pengembangan Bronco II

Dapur pacu OV-10G+ merujuk pada varian OV-10M. Bronco yang tadinya menggunakan tiga bilah baling-baling, di OV-10M menggunakan four blade propellers dan mesin Garrett T76G-420/421 turboprops.

Dengan segala kemampuannya, AS pun mempercayakan peran OV-10G+ untuk melakukan pengintaian dan eksekusi pada sasaran teroris. Rencananya empat unit OV-10A/OV-10G+ akan diterima AU Filipina pada awal tahun 2019 dan memperkuat 16th Attack Squadron. Sampai saat ini, AU Filipina mengoperasikan 10 unit OV-10 Bronco, terdiri dari seri OV-10A, OV-10C dan OV-10M. Varian OV-10C berasal dari bekas pakai AU Thailand, beberapa diantaranya sudah punya kemampuan melepaskan bom pintar. (Gilang Perdana)

4 Comments