Seputar DSEI 2019Klik di Atas

KRI Teluk Banten 516: Landing Ship Tank dengan Kemampuan Sebagai Kapal Markas

dewantoro2(1)

Jika dilihat saat ini, debut kapal perang buatan Korea Selatan ini serasa ‘pudar,’ maklum untuk peran angkut tank sebagasi asasinya, di kelas LST (Landing Ship Tank) kini yang paling besar dipegang KRI Teluk Bintuni 520. Sementara untuk mobilitas angkut logistik dan peran ekstra sebagai kapal markas, TNI AL cenderung mempercayakan armada LPD (Landing Plarform Dock) yang punya fasilitas modern, daya angkut besar dan fasilitas helipad plus hangar yang bisa menampung helikopter kelas medium.

Baca juga: KRI Teluk Bintuni 520 – LST Terbesar Satuan Kapal Amfibi TNI AL

Baca juga: KRI Teluk Semangka 512 – LST Besutan Korea Selatan Pertama Yang Akhiri Masa Tugas

kri-teluk-banten-51671IMG_20140906_140207

Baca juga: Landing Platform Dock TNI AL – Peran dari Kapal Markas Hingga Rumah Sakit

Yang dimaksud penulis dalam paragraf diatas adalah KRI Teluk Banten 516, sebuah kapal LST yang masuk dalam Teluk Semangka Class. Seperti diketahui, TNI AL pada awakl tahun 1980 memesan paket enam LST yang dibeli gress dari galangan kapal Tacoma SY (sekarang Hanjin Heavy Industries), Korea Selatan. Pengadaan LST ini juga dibarengi dengan pembelian empat KCR (Kapal Cepat Rudal) Mandau Class dari galangan yang sama.

Baca juga: Mandau Class – Generasi KCR TNI AL Warisan Orde Baru

02062014-Embarkasi-Latgab-t

Keenam LST asal Tacoma SY terdiri dari KRI Teluk Semangka 512, KRI Teluk Penyu 513, KRI Teluk Mandar 514, KRI Teluk Sampit 515, KRI Teluk Banten 516, dan KRI Teluk Ende 517. Karena faktor usia, sang leader KRI Teluk Semangka 512 telah berakhir masa tugasnya dan dijadikan sasaran uji tembak rudal Exocet MM-40 block II buatan Prancis dan Torpedo SUT pada Mei 2013. Sementara sisa kelima LST hingga saat ini masih dioperasikan penuh oleh Satfib (Satuan Kapal Amfibi) TNI AL.

Baca juga: AEG SUT 533mm -Heavyweight Torpedo dengan Pemandu Sonar Pasif dan Aktif

Dari pengamatan penulis, diantara keenam LST Teluk Semangka Class, KRI Teluk Banten 516 terasa yang lebih sering dikedepankan dalam operasi militer utama. Selain kodratnya sebagai wahana penghantar tank amfibi dan pasukan Marinir, KRI Teluk Banten 516 beberapa kali dipercaya sebagai kapal markas. Salah satunya pada operasi Aru Jaya di tahun 1992 untuk menghalau masuknya kapal feri asal Portugal Lusitania Expresso yang berniat masuk ke perairan Timor Timur. Saat itu, KRI Teluk Banten 516 menjadi pusat kendali dari pergerakan beberapa kapal kombatan, seperti KRI Ki Hajar Dewantara 364, KRI Yos Sudarso 353 (Van Speijk Class), KRI Ngurah Rai 344 (Claude Jones/Samadikun Class), KRI Sorong 911 sebagai kapal tanker, KRI Kerapu 812, KRI Ajak 653, dan KRI Rakata 922.

Baca juga: KRI Ki Hajar Dewantara 364 – Korvet Latih Pencetak Perwira Tempur TNI AL

Baca juga: Van Speijk Class – “Benteng Laut Nusantara” – Tiga Dasawarsa Flagship Armada Eskorta TNI AL

IMG_20140703_151554

Baca juga: KRI Samadikun – Destroyer Escort AS Dengan Meriam Eks Uni Soviet

Baca juga: KRI Sorong 911 – Kapal Tanker Pendukung Operasi Pendaratan Amfibi di Dili

Kanon PSU Rheinmetall 20 mm.
Kanon PSU Rheinmetall 20 mm.

Apa yang membuat KRI Teluk Banten 516 terasa spesial? Jawabannya bisa beragam, penulis yang di tahun 1993 pernah ikut berlayar seharian dengan kapal ini beranggapan, untuk peran kapal markas, KRI Teluk Banten 516 memang ideal, karena punya dek helipad yang cukup besar, bisa di darati helikopet sedang. Dalam pelayaran, penulis sempat merasakan take off dan landing menaiki helikopter NBell-412 Puspenerbal. Lebih dari itu, helikopter sekelas NAS-332 Super Puma pun tak masalah mendarat di helipadnya. Perlu dicatat, hingga tahun 2005, tepatnya sebelum era LPD hadir, boleh dibilang fasilitas kapal perang TNI AL dengan helipad luas plus hangar berukuran besar memang hanya dipegang oleh jenis LST ini.

Baca juga: NBell-412 SP/HP/EP – Tulang Punggung Kavaleri Udara TNI AD

Ada kisah lain, pada tahun 1987 diadakan KTT Asean di Filipina pada tanggal 14 – 16 Desember. Saat itu di Filipina baru terjadi suksesi atas presiden Marcos dan situasi di sana sangat rawan, ledakan bom dan ancaman dari kaum militer pembangkang masih menghantui. Banyak pihak meminta untuk memindahkan KTT tersebut dari Filipina, tapi pemerintah Indonesia dengan tegas menolak usulan tersebut dan meyakinkan bahwa ke Filipina aman, untuk meyakinkan maka Mabes TNI membuat persiapan untuk mengirimkan armada AL ke Filipina.

Baca juga: NAS 332 L1/L2 Super Puma – Helikopter “Air Force One” Republik Indonesia

Embarkasi pasukan Marinir.
Embarkasi pasukan Marinir.
KRI Teluk Ende 517, punya desain yang serupa KRI Teluk Banten 516.
KRI Teluk Ende 517, punya desain yang serupa KRI Teluk Banten 516.
KRI Teluk Ende 517.
KRI Teluk Ende 517.
KRI Teluk Ende 517.
KRI Teluk Ende 517.

Setelah persiapan dimulai maka TNI AL mengirimkan 5 kapal perang untuk membentuk Gugus Tugas pengamanan Presiden dengan 2 kapal bersandar di Manila dan 3 kapal stand by di tengah laut. Akhirnya ada dua kapal yang stand by di Manila adalah KRI Teluk Banten 516 dengan Helikopter Puma di geladaknya dan frigat KRI Wihelmus Zakaria Yohannes 332 (Tribal Class) yang berperan sebagai pengawal.

Baca juga: Tribal Class TNI AL – Frigat Multi Peran Warisan Perang Malvinas

Meski masuk dalam Teluk Semangka Class, tapi KRI Teluk Banten 516 dan KRI Teluk Ende 517 tampil beda dari keempat saudaranya. Kedua kapal ini masuk dalam varian komando. Varian ini dicirikan dengan adanya superstructure berupa hangar yang desainnya cukup besar. Di dalam hangar ini bahkan dapat memuat 2 helikopter sekelas NBell-412 atau Super Puma dalam kondisi baling-baling dilipat. Sementara untuk deck heli hanya mampu menampung 1 unit heli ukuran sedang/berat.

Di varian komando ini hanya dapat membawa 2 unit LCVP(Landing, Craft, Vehicle, Personnel). Sementara untuk elemen persenjataan, terdapat dua pucuk kanon Bofors 40 mm pada haluan. Dan uniknya 2 pucuk kanon Bofors 40 mm pada ujung haluan tidak dilengkapi dengan penutup pelindung (terbuka). Ada lagi dua pucuk kanon 20 mm buatan Rheinmetall, dan 2 pucuk SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7 mm. Untuk sistem navigasi, menggunakan jenis radar JRC dan Raytheon. Bila KRI Teluk Banten 516 laris sebagai kapal markas, kembarannya KRI Teluk Ende 517 kerap diperankan sebagai kapal rumah sakit.

Baca juga: Rheinmetall Rh202 20mm – Kanon PSU Yang Ditakuti Perompak

Baca juga: Bofors 40mm L/70 – Eksistensi Dari Era Yos Sudarso Hingga Reformasi

KRI Teluk Banten 516 ditenagai 2 mesin diesel dengan dua unit propeller berkekuatan 5.600 HP. Dalam gelar operasinya, kapal buatan Korea Selatan ini mampu membawa muatan pada kargo seberat 690 ton, atau bisa memuat 17 tank setingkat MBT (main battle tank). Sudah jadi langganan dalam gelar operasi amfibi, jenis LST ini membawa tank PT-76 dan pansam BTR-50 Korps Marinir.

Baca juga: Adopsi RCWS 7,62 mm di Pansam BTR-50 Marinir TNI AL

LST Capana Class AL Venezuela
LST Capana Class AL Venezuela
LST Kojoonbong Class AL Korea Selatan
LST Kojoonbong Class AL Korea Selatan

Kabar terakhir yang dikutip dari situs tnial.mil.id (27/2/2014), KRI Teluk Banten 516 ikut dilibatkan dalam Operasi Benteng Paus 2014 untuk melaksanakan pengamanan perbatasan yang meliputi pencegahan dan penangkalan serta penindakan terhadap pelanggaran wilayah disekitar perbatasan Indonesia-Australia-Timur Leste.

Dirunut dari sejarahnya, Teluk Semangka Class merujuk pada rancangan LST Capana Class yang juga buatan Korea Selatan. Capana Class sebanyak empat unit dibangun untuk kebutuhan AL Venezuela pada tahun 1980. Kemudian di tahun 1990, AL Korea Selatan melakukan peningkatan kemampuan pada LST, dan kemudian diberi nama Kojoonbong Class. Kapal perang ini masuk ke segmen medium LST. Teluk Semangka Class dibangun dengan desain lebih kecil dan bobot lebih ringan dari Capana Class (bobot penuh 4.070 ton) dan Kojoonbong Class (bobot penuh 4.200 ton). (Haryo Adjie)

Spesifikasi KRI Teluk Banten 516
– Galangan : Tacoma SY (Hanjin Heavy Industries), Masan – Korea Selatan
– Dimensi : 100 x 15,4 x 4,2 meters
– Bobot penuh : 3.770 ton
– Bobot standar : 1.800 ton
– Mesin 2 diesels, 2 shafts, 6.860 bhp
– Kecepatan maksimum : 15 knots
– Jarak jelajah : 13.890 Km dengan kecepatan 13 knots
– Total kapasitas helikopter : 3 unit (dua di dalam hangar)
– Jumlah awak : 115
– Jumlah pasukan : 202 (Marinir)

5 Comments