Jet Tempur F-35 Laris Manis, Masa Depan Industri Penerbangan Eropa Terancam

Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 tak pelak membuat ‘panik’ negara-negara Eropa, dan buntutnya sebagian besar negara Eropa berusaha ‘merapat’ ke Amerika Serikat guna mendapatkan perlindungan atau dukungan bila suatu waktu terkena imbas dari krisis di Ukraina. Langkah nyata dari merapatnya negara-negara Eropa terlihat dari laris-manisnya akuisisi F-35 Lightning II, tak kurang ada 14 negara di Eropa yang akan atau sudah menjadi operator jet tempur stealth produksi Lockheed Martin ini.

Baca juga: Tak Indahkan Tuntutan Oposisi, Pemerintah Swiss Teken Kontrak Pembelian 36 Unit F-35A Senilai US$6,25 miliar

Bulgarianmilitary.com yang melansir laporan terbaru dari media Perancis menyebutkan bahwa penyebaran jet tempur F-35 dapat menimbulkan tantangan serius bagi industri penerbangan Eropa. Dalam perkembangan terakhir, Portugal dikatakan bersiap untuk mengganti jet tempur F-16 dengan F-35, menjadikannya negara Eropa ke-14 yang memilih F-35.

Meningkatnya popularitas ini telah mengokohkan posisi F-35 sebagai jet tempur yang paling banyak digunakan di Eropa, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan desain jet tempur Eropa yang sedang berkembang.

Kemajuan Eropa dalam teknologi jet tempur generasi kelima masih tertinggal. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh masalah kerja sama di antara koalisi Eropa pada proyek-proyek seperti jet tempur Dasault Rafale dan Eurofighter Typhoon. Hasilnya, desain kedua jenis pesawat tempur ini terbentang dari tahun 1980-an hingga awal abad ke-21.

Mengingat pemotongan tambahan anggaran pertahanan di seluruh Eropa dan status proyek F-35 yang maju, semakin banyak negara Eropa yang memilih untuk membeli F-35 secara langsung, mengesampingkan pengembangan pesawat generasi kelima di dalam negeri.

Meskipun demikian, Eropa belum melepaskan niatnya untuk terus mengembangkan pesawat tempur generasi baru. Saat ini, banyak negara Eropa telah memulai proyek penelitian dan pengembangan pesawat tempur generasi berikutnya, dan yang menarik, keputusan telah diambil untuk mengabaikan pesawat generasi kelima dan langsung mengembangkan model generasi keenam.

Proyek seperti SCAF yang melibatkan Perancis, Jerman, Spanyol, dan Belgia, dan GCAP yang terdiri dari Inggris, Italia, dan Jepang, telah dimulai untuk membuat jet tempur baru yang berpotensi beroperasi hingga tahun 2060 atau lebih. Namun, upaya-upaya Eropa ini menghadapi tantangan karena terbatasnya permintaan peralatan dan kehadiran Amerika Serikat yang kuat di arena pertahanan kawasan. Hal ini sering mengakibatkan terganggunya proyek-proyek Eropa yang menginginkan independensi dari pengaruh AS.

Ikuti Langkah Australia, Finlandia Putuskan Pembelian 64 Unit F-35A Lightning II

AS telah secara aktif mendorong negara-negara Eropa untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap pesawat tempur siluman Amerika, yaitu F-35. Florence Parly, Menteri Pertahanan Prancis, menyatakan pada tahun 2019 bahwa F-35 tidak berada dalam lingkup klausul solidaritas NATO. Meningkatnya pengaruh pesawat tempur AS tampaknya mengurangi pentingnya pesawat tempur Eropa.

Pergeseran ini terlihat jelas ketika Swiss, pada tahun 2021, menolak jet Rafale, dan sekali lagi pada tahun 2022, ketika Finlandia menyingkirkan tawaran jet Gripen E/F Swedia. Tahun 2023 menandai tahun yang sulit bagi pabrikan Eropa karena Yunani, Rumania, Republik Ceko, dan Portugal memutuskan untuk memilih F-35 untuk jet tempur generasi berikutnya.

Media Prancis menyamakan tren besar ini dengan “tsunami”, yang menunjukkan bahwa F-35 sedang mengambil alih pasar Eropa. Pada tahun 2030, diperkirakan dua pertiga angkatan udara Eropa akan dilengkapi dengan pesawat ini. Pola yang berkembang ini menimbulkan ancaman besar bagi industri penerbangan Eropa karena hal ini menyiratkan bahwa hanya segelintir negara Eropa yang mampu mempertahankan pengembangan program pesawat tempur dalam negeri mereka.

Keberadaan F-35 di Eropa, seperti yang diberitakan oleh berbagai media, memaksa lebih banyak negara Eropa untuk membelinya daripada berinvestasi dalam pengembangan pesawat tempur lokal.

Perkembangan ini memberikan pukulan besar bagi industri penerbangan Eropa, yang secara historis bangga akan teknologi pesawat tempur dalam negeri.

Rheinmetall Jerman Produksi 400 Unit Fuselage F-35 Lightning II, Redam Isu Tak Kebagian “Kue”

Dassault Aviation telah memperingatkan sejak akhir tahun 2000an bahwa tujuan utama F-35 adalah untuk menghambat industri penerbangan Eropa dan mengalihkan perhatian dari pasar dan otonomi strategisnya. Penyediaan jet tempur F-35 ke negara-negara Eropa semakin memperkuat jejak militer dan politik Amerika di benua Biru.

Meski memilih F-35 mungkin menawarkan keuntungan militer dan politik secara langsung, hal ini dapat merusak keberlanjutan industri penerbangan Eropa dan independensi strategisnya dalam jangka panjang. (Gilang Perdana)

One Comment