Evaluasi Teknis Tuntas, Akuisisi Formal Pesawat Tanker TNI AU Diharapkan Pada 2020

F/8-18 Super Hornet AU Australia dengan A330 MRTT.

Meski telah direncanakan pengadaannya sejak tahun 2015 silam, sampai saat ini progress pengadaan pesawat tanker untuk TNI AU terbilang lamban, padahal Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pada akhir tahun 2017 pernah menyebut jumlah empat unit pesawat tanker yang akan diakuisisi Indonesia. Meski belum ada kabar perjanjian kontrak pembelian dengan salah satu manufaktur pesawat, belum lama ini ada kabar bahwa TNI AU telah menuntaskan kajian dan evaluasi teknis untuk pengadaan pesawat tanker tersebut.

Baca juga:Β Boeing KC-46A Pegasus: Tantang Dominasi Airbus A330 MRTT, Inilah Opsi Lain Pesawat Tanker TNI AU

Dikutip dari Janes.com ( 25/1/2019), hasil evaluasi sesuai dugaan belakangan ini, bahwa pesawat tanker nantinya harus mampu melakukan proses aerial refueling dengan metode hose dan boom. Tentu ini mudah dipahami, lantaran pesawat tanker TNI AU nantinya dapat menyusui jenis pesawat tempur dengan hose, seperti Hawk 209 dan Sukhoi Su-27/Su-30MK2, dan pesawat tempur dengan boom seperti F-16 Fighting Falcon.

Meski belum menyebutkan merek dan tipe, hasil studi dan evaluasi teknis telah mengusulkan dua airframe dalam pengadaan ini. Studi yang dilakukan TNI AU dilaporkan telah melalui konsultasi dengan PT GMF Aeroasia, anak perusahaan PT Garuda Indonesia, yang selama ini telah mengembangkan Airbus Maintenance Platform, dimana GMF Aeroasia memberikan penyediaan layanan perawatan armada pesawat militer.

Kesimpulan dari evaluasi teknis juga mencakup persyaratan jenis serta spesifikasi pesawat dalam mendukung air refuelling. Analis militer menyebut pertimbangan dari hasil evaluasi teknis mengarah pada pilihan A330-200 MRTT (Multi Role Transport Tanker) dari Airbus dan KC-46A Pegasus dari Boeing. Meski diatas kertas kans A330 MRTT lebih besar, namun kesimpulan akhir bisa berbeda. Seperti KC-46A yang menggunakan basis Boeing 767 digadang lebih banyak bisa didarati lanud-lanud milik TNI AU.

KC-46A Pegasus

Sementara A330-200 MRTT atau dikenal dengan kode KC-30A MRTT, kansnya cukup besar, mengingat pesawat dari platform yang sama telah digunakan oleh maskapai Garuda Indonesia, kelak elemen perawatan pesawat sedikit banyak dapat ditangani oleh pihak GMF Aeroasia. Selama ini pun, negara tetangga pengguna A330 MRTT seperti Australia dan Singapura telah intens memperkenalkan A330 MRTT kepada Indonesia.

Dalam kajian, TNI AU menjabarkan alokasi anggaran sebesar US$500 juta, dan diusulkan pengadaan program pesawa tanker dapat diambil dari kredit eskpor yang diberikan pihak luar negeri. Jika proposal yang diajukan TNI AU mendapat lampu hijau dari Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perindustrian, maka akuisisi formal pesawat tanker dapat dilakukan pada tahun 2020.

Konfigurasi angkut penumpang dan kargo pada Airbus A330 MRTT.

Pengadaan pesawat tanker MRTT tak hanya menawarkan konsep pesawat tanker semata. Bila merujuk ke pakem yang ada, memang pesawat tanker yang eksis di dunia juga mengemban fungsi lain, seperti angkut penumpang dan kargo. Sebut saja KC-130B Hercules TNI AU, justru perannya lebih dominan sebagai pesawat angkut kargo.

Baca juga:Β Selain Harga Pesawat Tanker, Biaya Air Refuelling Ternyata Juga Selangit

Pun dengan Singapura, Negara Kota ini menempatkan empat unit KC-135R tak melulu sebagai pesawat tanker, melainkan juga difungsikan sebagai pesawat angkut VIP dan angkut medis. Khusus untuk Airbus A330 MRTT, AU Singapura melalukan konfigurasi agar dimuati 266 kursi penumpang, dari konfigurasi tersebut menyiratkan Airbus A330 MRTT tak digadang melulu untuk meladeni air refueling, melainkan juga untuk angkut pasukan. (Gilang Perdana)

10 Comments