Empat Tahun Berlalu Sejak MoU, Bagaimana Nasib Pengadaan 11 Unit Su-35 untuk Indonesia?

Polemik perihal pengadaan alutsista di Indonesia belum juga reda, selain bahasan warganet seputar anggaran pertahanan yang mencapai ribuan triliun, tak bisa dilupakan adalah realisasi rencana pengadaan jet tempur pengganti F-5E/F Tiger II yang tak kunjung rampung.
Baca juga: Telah Menjadi Perhatian Dunia, Rusia Bertekad Tuntaskan Akuisisi Su-35 untuk Indonesia
Sesuai yang sudah diproklamirkan pimpinan TNI AU beberapa waktu lalu, maka warganet masih menanti kelanjutan rencana pembelian jet tempur Dassault Rafale dan F-15EX, yang masing-masing bahkan unit yang ingin diakuisisi telah diungkapkan. Belum lagi dari kubu Lockheed Martin yang tak kalah sigap, dengan kembali me-reminder penawaran mereka atas jet tempur F-16 Viper Block 72 kepada Indonesia.
Lepas dari itu semua, bagaimana dengan kelanjutan pengadaan jet tempur buatan Rusia, Sukhoi Su-35?
Meski terkesan sudah berlalu dan sepi dari bahasan di lini masa, namun perlu dicatat, bahwa program pengadaan Su-35 justru sudah lebih matang ketimbang rencana pembelian Rafale, sebagai buktinya pada Agustus 2017, antara Indonesia dan Rusia sudah melakukan nota kesepahaman alias MoU (Memorandum of Understanding) untuk pengadaan 11 unit Sukhoi Su-35.

Sebaliknya, sampai tulisan ini diturunkan, rencana pengadaan Rafale masih berstatus LoI (Letter of Intent). LoI bukanlah kontrak pembelian suatu produk, melainkan baru pernyataan minat untuk mengakuisisi, sementara proses pembicaraan dan negosiasi masih harus dilakukan untuk kelanjutannya.
[the_ad id=”12235″]
Nah, tentang Sukhoi Su-35 untuk Indonesia, rupanya belum lama ini ada komentar dari petinggi di industri pertahanan Rusia. Dikutip dari militarynews.ru yang merujuk dari laporan kantor berita Interfax (1/6/2021), disebutkan pihak Rusia masih berpendapat bahwa kontrak 11 unit Su-35 untuk Indonesia masih berlaku. Dmitry Shugaev, head of the Russian Federal Service for Military-Technical Cooperation (FSMTC) mengatakan, “kontrak masih berlaku dan sejauh ini tidak ada perubahan,” ujar Shugaev ketika menjawab pertanyaan Interfax tentang status MoU.

Shugayev mengatakan Indonesia masih tertarik untuk mengakuisisi Su-35, Ia berharap bahwa kontrak akan segera dilaksanakan, meski tidak ada rincian lebih lanjut yang dapat diberikan. Seperti diketahui, kesepakatan alias MoU pengadaan kesebelas Su-35 telah dilakukan cukup lama, yaitu pada 10 Agustus 2017 lewat skema barter dengan nilai US$1,1 miliar.
[the_ad id=”77299″]
Sebagai catatan, Rusia dan Indonesia menandatangani MoU untuk memasok 11 unit Su-35 pada Februari 2018, atau enam bulan setelah Amerika Serikat mengesahkan sanksi Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA). Bentuk sanksi CAATSA bisa diterapkan dalam banyak dimensi, tidak melulu pada jenis embargo suku cadang persenjataan dan kerja sama pertahanan, namun bisa merembet ke sektor ekonomi dan perdagangan.
Baca juga: Rusia Tawarkan Indonesia Sukhoi Su-35 dengan Sentuhan Avionik NATO
Dalam perspektif Rusia, CAATSA jelas merupakan tantang besar dalam program ekspor alutsista. Sejauh ini, Su-35 baru berhasil di ekspor ke Cina dan Mesir. Kasus penjualan ke Mesir menjadi menarik, pasalnya negara di Afrika Utara ini terus melanjutkan proses pengadaan Su-35 meski mendapat ancaman CAATSA dari AS. (Gilang Perdana)



Tadi nya berharap byk dgn pak prabowo.. skrg sudah mulai bosan saya dgn rencana dan rencana… 2 periode ini ga ada pembelian… bisa jadi….
beli barang Yg nggak diancam pakek CAATSA aja lama, aplg pake CAATSA
Pokoknya kalo ribet dan gagal nego ama NATO ini Sukhoi pasti datang.
Santui ae pak diplomasi nya emang ribet tapi salah satunya pasti dapet
Bismillah kenapa nga dibeli oleh TNI.AU mengingat china dan negara lain seringkali melanggar wilayah udara indonesia kenapa tidak diseriuskan pembeliannya?.kalo dapat barter dengan cn.235 5 unit sebagai barternya kenapa tidak?.jaman kemerdekaan rakyat aceh menyumbang hartanya untuk pembelian pesawat buat TNI.AU,jaman sekarang tkenapa nga didatangkan su.35 tersebut satu skadron.
Biden dari partai yang jadi inisiator CAATSA. Artinya CAATSA 100℅ tetap lanjut
Sebenarnya lebih gampang bypass CAATSA lewat Trump. Tinggal kasih pelicin kayak Osprey. Buy American and look the other way.
dana pinjaman militer 1.7T sd 24th.. beli su35 12 aja ribetnya minta ampun.. sampe minta TOT pula.. udah itu bayarnya pake timbal dagang. puyeng ane mikirnya
udah itu pinginnya ayam kalkun.. seharusnya mikir dulu servicenya kan mahal.
klo beli pespur yang murah dan yang paling penting beli s400 dijamin tetangga pasti merinding.. nasam udah jadul entar dikentutin ma ayam kalkun tetangga
Plot twist: SU-35 ntah gmn caranya jadi lanjut dan utk single engine nambah Viper wkwkwkwk.
Kekurangan rusia adalah pelit ilmu.
Repot” amat bin ribet beli aja tejas😂
Masih layak dibahas kah?
Yang penting ada pesawan di akhir 2021ini
Masih efektif, Mou lebih sakti dari loi, loi cuman demen bukan kontrak ya mbah🤭
Huuurrraaaaa….!!! 🍺😁
Eng i eng..sinetronpun tmbah rame dengan kemunculan kembali si mantan..
Masa cuma mo bilang begini :
“Rencana ini masih kita godok bersama Bappenas, Kemenkeu, dan pemangku-pemangku kepentingan lainnya. Sebagaimana diketahui, banyak alut kita sudah tua, sudah saatnya, memang mendesak harus diganti.”
Tp kok rapatnya tertutup ya.?..😄
https://nasional.kompas.com/read/2021/06/02/11572881/bahas-anggaran-alutsista-rapat-komisi-i-dpr-dengan-prabowo-digelar-tertutup
tertutup itu biar panboy engak pada panik mbah,karena engak sesuai dengan ekpetasi para panboy.
biar enak yang tau sedikit orang aja,biar gampangan nyumpel mulutnya.
TNI-AU pengen F-16V, Kemenhan beli Su-35 jadi agak enggan nerima juga mungkin TNI-AU. Selain CAATSA, ada juga jumlah pesawat hanya sedikit (11 unit) beli setengah cash membuat Rusia juga enggan menjual dari awal, emang serba bermasalah rencananya…
Setahu saya F-16 beda tier sama Su-35. Sekelas Flanker paling di Skadron 11 dan 14 saja. Sisanya F-16 kebawah. Kalau lihat kebutuhan KF-X, ada kemungkinan nanti F-16 malah masuk tier paling bawah menggantikan Hawk.
Intermeso
https://youtu.be/z4vYgQc7WZo
NgeGoreng berita pembelian SU 35 nya aja dah 4 tahun..entah berapa lama lg ngegorengnya biar Gosong..sementara pespur F 5 Tigernya dah jadi Monument di Bandung menunggu penggantinya entah kapan adanya..
Pada intinya Indonesia sudah menyerah soal SU 35 tidak sebanding dengan resikonya dan dengan dana pinjaman asing senilai ribuan triliun Indonesia bisa ganti pespur mesin ganda F 5 Tiger dengan pespur mesin ganda lainnya seperti F/A 18 super hornet,F 15 EX, Rafale ataupun Typhoon.
Tetap beli SU-35. Tp nanti waktu ngirim, pihak Rusia jng lupa metulis di bodynya “RAFALE”, jd gak kena sanksi CAATSA….ya kan mbah gatol.?…🤣🤣🤣
Ya Salaamm…🤣🤣
SUKHOI…….MINTA BARTER SAMA KRUPUK dan YANG ANEH !!!!! DALIHNYA MENINGKATKAN EKSPOR INI ITU !!!! UDAH TAU CAATSA mau kluar……eh malah CREWEEEET !!!
Skg PAMAN SAM maunya MENGKERDILKAN TNI di bandingkan SINGA dan AUSSIE. NGGAK KAPOK !!!!
DI HAJAR sama UU yang nggak bolehin BARANG BEKAS !!!!!! CREEEEEEEWET !!!!! SCHEIßE ……SCHEIßE !!!!
Mesir tidak menjadi ancaman karena tidak mengancam Israel, mendukung melawan Iran dan kampanye di Libya. So, Masih dibolehkan beli alutsista dari Rusia. Sedangkan Indonesia tidak punya alasan seperti Mesir kecuali dengan tegas Indonesia menentang aneksasi China di Spartly dan Paracel, melakukan aksi kebebasan navigasi disana dan mengurangi impor dan ekspor China baru mungkin Indonesia dikasih kesempatan untuk beli Sukhoi dan Es teh 500an dari Rusia. Tapi itu masih “mungkin” loh ya.
Mesir memang tidak menjadi ancaman bagi Israel tetapi Mesir tetap dilarang beli rudal AMRAAM dari Amerika berkat pelobi Israel.Pada intinya ratusan F 16 Mesir hanya lelucon dihadapan Israel.Israel emang semakin di depan.
Makanya klo beli su 35 biar gak kena caatsa sekalian beli beberapa butir Tsar Bomba yg 100MT. Dijamin caatsa gak berani diberlakukan. Kecuali mau kiamat……
Tahun 2018 saat kepemimpinan paman jambul kuning, melalui menhan AS yg berkunjung ke Indonesia mengatakan ada 3 negara yg tidak akan dikenakan sanksi CAATSA yaitu India, Indonesia dan Vietnam.
Indonesia dibolehkan membeli SU-35 dng catatan harus beli alutsista dari AS dulu. Maka munculah rencana pengadaan F-16 viper (lobby LM sebagai konsesus RI terlibat joint KFX/IFX), pembelian Herky C-130 dan MRTT.
Seiring pergantian Menhan terjadi perubahan. Menhan baru gak mau viper krn user bilang viper gak bisa nandingi tetangga punya, inginnya F-35.
Berjalannya waktu F-35 gak dpt lampu hijau, makan belok ke Perancis utk akuisisi Rafale. Sementara dr AS menhan maunya F-15EX.
Jd kalo itu semua sdh terbeli baru back to SU-35, itupun kalo duitnya yg 1700 T itu masih sisa mbah….🤣🤣🤣
Ya Salaamm…😄😄😄
Fix sesuai berita, dan om putin akan dateng sebentar lagi kata dubesnya😁
Apakah pengadaan Sukhoi tetap berlanjut atau dibatalkan dan diganti dengan pesawat lain? Soalnya saya ga pernah denger lagi kelanjutan program pesawat tempur pengganti F-5…. Cuman berita “AKAN”
Mgk kertas Mou nya sdh jadi bungkus gorengan
Minat IDN bukan hanya Su-35 tapi juga Su-57, S-400 dan single engine stealth fighter jet dkk. Pokoknya kalo paket S-400 IND sampai mendarat dgn selamat.kemungkinan besar biden bakalan auto makan tidak nyenyak-tidur tidak kenyang…muehehe