Diminati Panglima TNI, Inilah Spesifikasi LCAC – Wahana Pendarat Amfibi ‘Anti Ranjau’ Andalan US Navy

Dalam puncak sekaligus penutupan Latma Super Garuda Shield 2023 di Pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (10/9), Panglima TNI Laksamana Yudo Margono secara khusus melihat dari dekat sosok wahana pendarat amfibi milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy), Landing Craft Air Cushion (LCAC) yang ikut didaratkan dalam operasi tersebut. LCAC sendiri sudah sangat sering dihadirkan US Navy dalam setiap latihan bilateral dan multilateral di Indonesia.

Baca juga: Type 726 LCAC – Mampu Membawa MBT, Inilah Andalan AL Cina dalam Operasi Serbuan Amfibi

Namun, pada kesempatan tersebut, Panglima TNI mengatakan LCAC memiliki teknologi yang dapat menjawab kebutuhan operasi saat ini, baik operasi militer perang dan bukan perang. Ia mengaku karakteristik LCAC bakal jadi masukannya untuk memperkuat TNI AL ke depan. “Dengan perkembangan situasi dan teknologi yang ada, menggunakan LCAC tadi itu mungkin menjadi masukan kita,” kata Yudo.

Dalam gelar operasinya, LCAC dihadirkan ke wilayah operasi dengan menggunakan Landing Platform Dock (LPD) atau Landing Helicopter Dock (LHD). Adapun TNI AL, hingga saat ini mengandalkan peran Landing Craft Utility (LCU) untuk membawa tank non amfibi, truk dan self propelled MLRS (Multi Launch Rocket System) dari kapal sekelas LPD di lautan untuk menuju wilayah pantai.

Namun, LCU jelas kalah kapasitas dan mobilitas dari LCAC. LCU seperti yang digunakan TNI AL saat ini hanya dapat membawa satu unit truk atau self propelled MLRS ke bibir pantai, sebaliknya LCAC dapat membawa beberapa truk berat atau satu unit Main Battle Tank (MBT). Tapi sebagai catatan, bila pada formasi saat ini satu LPD dapat membawa dua unit LCU, maka untuk LCAC hanya dapat dibawa satu unit oleh LPD Makassar class.

“Selama ini kita kan masih menggunakan LCU, mungkin nanti ke depan akan kami pelajari, apakah sudah waktunya menggunakan itu (LCAC) dengan kembali lagi pada karakteristik negara kita,” jelasnya.

Perbandingan Type 726 (atas) dan LCAC milik AS (bawah)

LCAC atau hovercraft sahabat pendaratan amfibi USMC, diproduksi oleh Textron Marine and Land Systems. Wahana amfibi ini punya bobot penuh 185 ton, panjang 26,8 meter dan lebar 14 meter, LCAC yang meluncur dari LHD atau LPD ini dapat membawa payload 60-75 ton, yang artinya satu unit MBT sekelas M1A2 Abrams dapat dibawa oleh hovercraft dengan lima awak ini.

LCAC ditenagai oleh empat mesin gas turbin. Mesin-mesin ini menghasilkan daya angkat yang cukup untuk mengangkat LCAC di atas permukaan air dengan bantuan kantung udara (air cushion) di bagian bawahnya. Kecepatan LCAC dapat bervariasi tergantung pada model dan konfigurasi spesifiknya, tetapi secara umum, LCAC dapat mencapai kecepatan sekitar 40 hingga 50 knot di atas air.

Jarak jelajah LCAC dapat berkisar antara 200 hingga 300 mil laut (sekitar 370 hingga 555 km), tergantung pada payload dan kondisi operasional.

Baca juga: Cina Bangun (Lagi) Dua Unit Hovercraft ‘Raksasa’ Zubr Class, Persiapan Invasi ke Taiwan?

Hovercraft seperti LCAC menjadi andalan pasukan marinir AS dalam setiap operasi pendaratan amfibi. Selain mobilitasnya yang amfibi, kendaraan ini punya kemampuan anti ranjau, sesuatu yang menjadi momok tersendiri bagi pasukan pendarat, pasalnya hovercraft bergerak dengan melayang di atas permukaan dengan bantuan kantung udara (air cushion) di bagian bawahnya. Hal ini artinya hovercraft tidak akan terpengaruh oleh ranjau di permukaan. (Gilang Perdana)

5 Comments