Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Cina Tampilkan Bom Grafit Jenis Baru – Amunisi Tanpa Hulu Ledak yang Bisa Bikin Ribuan Warga Sipil Sengsara

Selain amunisi mematikan pada sasaran terpilih, dalam serangan ofensif modern juga tak dikesampingkan pemggunaan amunisi yang ‘tidak mematikan’ alias tanpa hulu ledak, namun imbasnya dapat membuat sengsara ratusan ribu bahkan jutaan orang, baik militer dan sipil. Jenis amunisi yang dimaksud adalah bom grafit (graphite bomb), meski bukan jenis senjata baru, namun belum lama Cina mengembangkan sesuatu yang beda dari amunisi penyasar pembangkit tenaga listrik ini.

Baca juga: Targetkan Lapangan Udara, Rusia Upgrade Rudal Jelajah Jarak Jauh Kh-101 dengan Hulu Ledak Cluster

Seperti dikutip South China Morning Post (29/6/2025), yang merujuk pada tayangan animasi stasiun TV Pemerintah Cina (CCTV), mengungkap detail bom grafit baru yang dapat menyebabkan kehilangan listrik sepenuhnya di area seluas 10.000 meter persegi, atau melumpuhkan seluruh pembangkit listrik.

Sebuah video animasi yang dirilis oleh CCTV menunjukkan sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari peluncur berbasis darat (ground based) dan kemudian terbang ke sebuah target tempat rudal itu melepaskan 90 submunisi kecil. Rudal-rudal kecil itu kemudian memantul di tanah sebelum meledak di tengah tiruan gardu listrik. Video itu kemudian menunjukkan peralatan listrik yang tidak berfungsi.

Video propaganda ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan global dan potensi ancaman invasi Cina ke Taiwan.

Bom grafit, atau disebut juga “bom pemadam listrik” (soft bomb, blackout bomb, atau graphite bomb), adalah jenis senjata non-mematikan yang dirancang untuk melumpuhkan infrastruktur listrik musuh tanpa menyebabkan kehancuran fisik besar-besaran.

Bom grafit menyebarkan awan partikel karbon sangat halus (grafit) dalam bentuk serat mikroskopis atau debu konduktif, yang bertujuan untuk menimbulkan korsleting pada jaringan listrik, terutama gardu induk, trafo, dan sistem distribusi. Sifat bom ini menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran, tetapi tanpa menghancurkan bangunan secara permanen.

Hal tersebut dapat terjadi karena karena grafit merupakan konduktor listrik yang sangat baik, semua kabel listrik atau peralatan listrik di area target akan mengalami korsleting. Serangan semacam itu terhadap area sipil atau militer akan menyebabkan semua peralatan listrik di area tersebut berhenti berfungsi. Namun, jika dilepaskan di atas pembangkit listrik, seluruh wilayah yang disuplai listriknya juga akan terpengaruh.

Meskipun bom grafit digolongkan sebagai tidak mematikan, dampak pemadaman listrik yang meluas di antara penduduk sipil dapat menimbulkan korban jiwa.

[the_ad id=”77299″]

Meski kedengaran baru, namun bom grafit telah ada selama beberapa dekade dan diketahui telah digunakan oleh negara-negara Barat pada dua kesempatan. Pada tahun 1999, NATO menggunakannya untuk menargetkan lima pembangkit listrik di Serbia selama perang Kosovo, yang menyebabkan pemadaman listrik seketika di 70 persen wilayah negara tersebut.

Tujuan serangan NATO adalah untuk melumpuhkan radar dan komunikasi Angkatan Darat Yugoslavia sambil meminimalkan korban sipil, tetapi pemadaman listrik juga memengaruhi rumah sakit, transportasi umum, serta sistem air dan pembuangan limbah. Analis pertahanan menyebut bom grafit adalah strategi militer untuk menyerang infrastruktur sipil yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.

BLU-114/B

Laporan berikutnya oleh Dokter Internasional untuk Pencegahan Perang Nuklir menyimpulkan bahwa “penargetan pembangkit listrik, fasilitas pengolahan air, jembatan Donau, rel kereta api, dan jalan raya berdampak buruk pada kehidupan sipil, membahayakan kesehatan, dan berdampak serius pada perawatan kesehatan.

Salah satu bom grafit yang cukup dikenal adalah “Soft-Bomb” BLU-114/B. Angkatan bersenjata AS menggunakan bom grafit tersebut selama Perang Teluk 1991 di Irak, bom grafit BLU-114/B digunakan menargetkan dua fasilitas distribusi listrik dan menyebabkan pemadaman listrik yang berlangsung selama 30 hari.

Meskipun ada sedikit detail tentang cara kerja bom grafit baru Cina, tampaknya ada perbedaan dalam cara penyebarannya. BLU-114/B menggunakan gulungan kawat serat karbon, yang disebarkan di area target. Ketika bersentuhan dengan tegangan tinggi, gulungan tersebut kemudian menguap menjadi awan partikel halus.

Sementara, menurut apa yang dapat dilihat di video yang dirilis oleh CCTV, bom grafit Cina melepaskan submunisi yang meledak sendiri untuk menciptakan awan partikel grafit.

Korea Selatan adalah salah satu negara yang mengonfirmasi adanya bom grafit, pada tahun 2017 Seoul telah mengembangkan bom grafitnya sendiri dan siap untuk menyebarkannya melawan Korea Utara jika terjadi perang. (Gilang Perdana)

Dual-Purpose Improved Conventional Munition – Inilah Munisi Cluster yang Akan Dipasok AS ke Ukraina