Bluefin-21: Drone Bawah Laut AS Yang Diciduk AL Cina di Laut Cina Selatan

Meski tak terkait langsung dengan Indonesia, tensi di Laut Cina Selatan kembali memanas dalam beberapa hari ini, pangkal sebabnya adalah diciduknya drone bawah laut milik Amerika Serikat oleh AL Cina. Penyitaan drone yang diketahui dari jenis Bluefin-21 ini berlangsung pada Kamis (15/12/2016) lalu. Drone bawah laut ini diluncurkan dari kapal oseanografi USNS Bowditch. Oleh pihak Cina drone canggih ini disebut-sebut tengah melakukan aksi mata-mata terhadap aktivitas AL Cina di kawasan tersebut.

Baca juga: Merespon Memanasnya Laut Cina Selatan, TNI AU Gelar Kanon Oerlikon Skyshield di Natuna

Meski tidak ada bukti langsung terkait aksi mata-mata dari drone bawah laut AS, pihak Cina punya dugaan sendiri, sebab sehari sebelumnya konvoi kapal perang AL Cina tengah melakukan latihan penembakkan rudal di sekitar kawasan yang dilalui si drone malang tersebut. Sontak saja aksi AL Cina ini membuat AS meradang, ditambah lagi sebenarnya Bluefin-21 diciduk tidak jauh dari kapal peluncurnya. Saat kejadian posisi USNS Bowditch tidak jauh dari kapal perang AL Cina. Dengan kecepatan maksimum 4,5 knots, tentu tak terlalu sulit untuk menangkap Bluefin-21.

USNS Bowditch

Baca juga: KRI Dewa Kembar 932 – Perjalanan dari Perang Malvinas Hingga Laut Nusantara

Sebagai kapal oseanografi, USNS Bowditch tidak dilengkapi bekal senjata untuk pertahanan diri. Para awak kapal Bowditch telah berusaha melakukan komunikasi ke kapal perang Cina tersebut, tapi tidak mendaptkan respon sama sekali. Pemerintah AS sendiri meminta agar drone bawah laut yang telah disita paksa itu segera dikembalikan.

Tentang Bluefin-21, ini termasuk drone bawah laut yang paling canggih saat ini. masih hangat dalam ingatan musibah hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH-370 pada 8 Maret 2014 di Samudera Hinda. Beragam upaya dan kerjasama internasional menjadikan pencarian pesawat Boeing 777-200 ER ini sebagai aksi SAR terbesar sepanjang sejarah dunia. Meski hingga hari ini belum juga ditemukan titik terang keberadaan kotak hitam, usaha keras terus dilakukan. Setelah pencarian lewat udara dirasa nihil, terakhir diturunkanlah wahana AUV (Autonomous Underwater Vehicle) jenis Bluefin-21 yang dioperasikan AL AS.

Baca juga: Misteri MH-370 – Sempat Menghindari Pantauan Radar Kohanudnas!

Sebagai AUV, Bluefin-21 buatan Bluefin Robotics bisa diartikan sebagai robot kapal selam, atau drone bawah laut. Resminya Bluefin-21 diturunkan sejak 8 April 2014. Karena kedalaman laut di area pencarian yang mencapai ribuan meter, wahana AUV inilah yang jadi satu-satunya harapan untuk menemukan jejak MH370. Dengan kelengkapan beragam sensor pendeteksi logam, Bluefin-21 sanggup menyelam hingga 4.500 meter. Namun sayangnya pencarian Bluefin-21 atas MH-370 masih nihil.

Baca juga: Sotong AUV – Prototipe Drone Bawah Laut Rancangan Dalam Negeri

Bluefin-21 dapat sepenuhnya dioperasikan dioperasikan secara otonom (autonomous), semi otonom, atau bisa juga dikendalikan langsung. Wahana ini menawarkan observasi penuh bagi operator di permukaan dengan akurasi data yang tinggi. Untuk integrasi sistem terdapat NavP (navigation processor) advanced real-time, inertial navigation system (AINS), doppler velocity log (DVL), ultra short base line (USBL), inertial measurement unit (IMU), depth sensor dan global positioning system (GPS). Hebatnya setelah selesai menjalankan operasi, dan AUV dinaikan ke atas dek kapal, output data dapat langsung di download lewat jaringan ethernet dan WiFi.

Baca juga: Hugin 1000 AUV – Drone Bawah Laut TNI AL, Mampu Menyelam Hingga 3.000 Meter

TNI AL untuk menunjang tugas oseanografi juga mempunyai drone bawah laut yang lumayan canggih, yakni Hugin 1000 buatan Kongsberg Maritime, Norwegia. Drone bawah laut ini menjadi kelengkapan yang terintegrasi pada KRI Rigel 933 dan KRI Spica 934. (Gilang Perdana)

Spesifikasi Bluefin-21
– Diameter: 21 inchi (53 cm)
– Length: 493 cm
– Weight (Dry): 750 kg
– Depth Rating 4.500 meter
– Endurance: 25 hours @ 3 knots with standard payload
– Speed: Up to 4,5 knots
– Energy: 13.5 kWh of total energy , Nine 1.5 kWh battery packs, Lithium-polymer, pressure-tolerant
– Propulsion: Gimbaled, ducted thruster for propulsion and control
– Navigation:Real-time accuracy ≤ 0.1% of D.T. CEP 50 INS, DVL, SVS and GPS, USBL tracking with vehicle position updates
– Antenna: Integrated — GPS, RF, Iridium and strobe
– Communications: RF, Iridium and acoustic; Ethernet via shore power cable Safety Systems Fault and leak detection, dropweight, acoustic tracking transponder, strobe, RDF and Iridium (all independently powered)
– Software: GUI-based Operator Tool Suite
– Data Management: 4 GB flash drive for vehicle data

10 Comments