Black Hornet 3: Nano Drone Copter dengan Bekal Kamera Thermal

Drone copter dengan ukuran micro dan nano sepertinya bukan lagi barang langka, tengok saja drone dengan ukuran segenggaman tangan orang dewasa ini marak ditawarkan di pusat perbelanjaan. Dibalik desainnya yang ultra mungil, nano drone memang tak bisa diharapkan banyak untuk membawa payload, alhasil drone model ini lebih ditekankan untuk kebutuhan ‘hiburan’ semata. Namun, lain urusan untuk kebutuhan para penegak hukum dan pasukan elite, nano drone dengan keunggulan fleksibilitas jelas membawa berkah tersendiri dalam mendukung operasi.

Baca juga: Mengenal “Tawon 1.8” – Drone Mini Pengintip Kawah Puncak Gunung Agung

Dan di jagad kemiliteran, salah satu nano drone yang terbilang paling canggih dan anyar adalah Next-Generation Black Hornet 3 Personal Reconnaissance System (PRS). Drone copter besutan Flir Systems Inc ini baru 5 Juni 2018 diluncurkan, dan belum lama ikut di pamerkan dalam Eurosatory 2018 di Paris, Perancis. Black Hornet 3 masuk dalam kualifikasi Unmanned Aerial System (UAS). Dan karena seri sebelumnya sudah kenyang digunakan oleh infanteri AS di Irak dan Afghanistan, maka Black Hornet pun didapuk sebagai smallest combat proven nano UAS.

Label smallest dicitrakan dari dimensinya yang hanya segenggaman tangan, serta bobotnya yang lebih ringan dari satu bungus Indomie, yaitu hanya 32 gram. Walau ekstra mungil, Black Hornet 3 bakal berperan besar dalam membantu pergerakan unit infanteri, terlebih dalam menghadapi perang kota (urban warfare). Walau bentuknya kecil, Black Hornet 3 sudah dibekali fitur pencitraan yang tajam. Sebut saja ada microcamera core thermal FLIR Lepton, dan visible sensor yang memungkinkan pencitraan maksimal dari sebuah obyek.

Jalur komunikasi antara drone dengan unit receiver sudah dibekali digital datalink dengan improved encrypted, sehingga upaya jamming dan interferensi dapat diminimalkan. Black Hornet 3 beroperasi dengan pola LoS (Line of Sight), sementara jarak jangkau terbang drone ini mencapai 2 km dengan kecepatan 21 km per jam. Dalam simulasi lain, Black Hornet 3 dapat pula terbang secara otonom sesuai dengan point yang telah ditentukan. Hebatnya, drone ini dapat bernavigasi meski berada di area yang tak didukung akses sinyal GPS. Kesemuanya tentu dapat meningkatkan kesadaran situasional dan deteksi ancaman bagi prajurit infanteri.

Dalam operasinya, Black Hornet 3 cukup diluncurkan dari telapak tangan. Pengendaliannya cukup dilakukan lewat tombol sederhana, termasuk sang operator mendapatkan output berupa visual video dan hasil pencitraan dari kamera thermal. Bila diperlukan, akses Black Hornet 3 dapat diintegrasikan secara seamless dengan smartphone/tablet Android berkat Android Tactical Assault Kit (ATAK). Dengan begitu, peran Black Hornet 3 menjadi poin penting dalam skema Battlefield Management System.

Baca juga: WiMax, Teknologi Jaringan Dibalik Battlefield Management System TNI AD

Meski tak disebutkan siapa negara-negara penggunanya, FLIR Systems dalam rilisnya menyebut nano drone ini telah digunakan oleh 30 negara. Boleh jadi salah satu pasukan elite TNI sudah menggunakannya. Siapa tahu. (Gilang Perdana)

6 Comments